Suriah Bantah Laporan PBB Soal Senjata Kimia

Militer Rusia mengajari Unit “ISIS Hunters” Suriah yang beroperasi di gurun Suriah (@ArmyComplex)

Beirut – Pemerintah Suriah membantah laporan PBB yang menuduhnya telah melakukan serangan menggunakan zat kimia sarin pada bulan April, yang menewaskan sejumlah orang, ujar media pemerintah pada Jumat, 8/9/2017.

Damaskus mengirim surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), berisi pernyataan Suriah tidak pernah dan tidak akan menggunakan gas beracun untuk melawan rakyatnya karena memang tidak memiliki senjata berbahaya tersebut, ujar laporan kantor berita SANA.

Penyidik kejahatan perang PBB mengatakan pada pekan ini, pasukan Suriah telah menggunakan senjata kimia lebih dari belasan kali selama konflik enam tahun.

Komisi Penyelidikan PBB di Suriah mengatakan sebuah pesawat tempur pemerintah telah menjatuhkan gas sarin di kota Khan Sheikhoun, provinsi Idlib pada April, yang menewaskan lebih dari 80 warga sipil. Serangan itu memicu serangan peluru kendali AS terhadap pangkalan udara pemerintah Suriah.

Misi pencari fakta, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) sebelumnya mengidentifikasi bahwa serangan itu mengandung sarin, zat saraf yang tidak berbau. Namun kesimpulan tersebut tidak menyatakan tuduhan pihak mana yang bertanggung jawab atas serangan itu.

Pemerintah Suriah mengatakan sebelumnya bahwa serangan udara di kota Khan Sheikhoun menghantam sebuah gudang senjata milik unsur pemberontak. Penyidik PBB membantah pernyataan ini.

Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad telah berulang kali membantah pihaknya menggunakan senjata kimia dalam perang dan mengatakan serangannya hanya menyasar pemberontak.

Pada 2013, ratusan warga sipil tewas akibat serangan gas sarin di daerah pinggiran ibukota Damaskus, dalam sebuah serangan yang dituduh negara-negara Barat, pemerintahan Bashar adalah dalangnya. Namun Damaskus menuduh pemberontaklah yang bertanggung jawab.

Penyelidik PBB-OPCW mengatakan pemerintah Suriah terus menggunakan klorin dalam serangannya yang banyak tersedia dan sulit dicari jejaknya. Klorin bukan zat terlarang, namun penggunaan bahan kimia apapun sebagai senjata telah dilarang di bawah Konvensi Senjata Kimia 1997.

Serangkaian penyelidikan PBB-OPCW menemukan bahwa berbagai pihak dalam perang telah menggunakan klorin, gas belerang sulfur dan sarin. Pemerintah Suriah, membantah tuduhan tersebut.

Di tengah kemelut itu, Amerika Serikat dan Rusia mencoba menengahi kesepakatan di mana Suriah bergabung dengan Konvensi Senjata Kimia internasional. (reuters)

0 Shares

Tinggalkan komentar