Akankah Indonesia Turki Mengambil Kesempatan Itu ?

Kapal Selam Type 214 (HDW)

Indonesia dan Turki mengadakan pembicaraan pertahanan tahunan mereka tanggal 6 September 2017. Meskipun dialog itu hanya mewakili satu jalan di mana kedua pihak telah mengupayakan kerja sama keamanan, namun demikian memberi mereka kesempatan untuk mengevaluasi posisi mereka di realita yang ada.

Kerja sama pertahanan Indonesia-Turki sudah berlangsung. Kedua pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai kerja sama industri pertahanan ketika mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali mengunjungi Turki pada bulan Juni 2010, dan kolaborasi telah dimulai di beberapa area, entah itu mengenai peralatan khusus, seperti sistem radar, atau yang lebih umum pertukaran keahlian antara militer mereka.

Salah satu wujud nyata dari kerja sama pertahanan dari kedua pihak adalah produksi gabungan tank tempur menengah KAPLAN, dimana produsen kendaraan lapis baja FNSS Turki dan perusahaan pertahanan Indonesia PT Pindad telah bekerja sama sejak tahun 2015. Kedua negara mengatakan bahwa tank, yang dipamerkan di Pameran Industri Pertahanan Internasional ke-13 di Istanbul pada bulan Mei, dapat diekspor ke negara-negara lain, termasuk ke Timur Tengah dan Asia Tengah.

Kedua pihak juga telah berusaha memperluas cakupan kerja sama pertahanan mereka sebagai bagian dari ikatan yang lebih luas di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Selama kunjungan kenegaraan Jokowi ke Turki pada bulan Juli 2017, dalam perjalanan untuk mengikuti KTT Kelompok 20 (G20) di Hamburg, Jerman, ada nota kesepahaman antara produsen pesawat terbang milik negara PT Dirgantara Indonesia dan Turkish Aerospace Industries (TAI), yang juga ikrar untuk meningkatkan kerja sama di bidang-bidang seperti produksi drone dan kapal selam, di luar kerja sama kolaborasi anti-terorisme dan berbagi-informasi intelijen yang lebih luas.

Pada tanggal 6 September 2017, kedua negara mengadakan iterasi keenam dari pertemuan kerjasama industri pertahanan tahunan mereka di Jakarta. Pertemuan itu dipimpin oleh Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Indonesia, Sutrimo Sumarlan dan wakil menteri pertahanan Turki Ismail Demir.

Menurut Sumarlan, dalam pertemuan tersebut, kedua pihak mengevaluasi kemajuan yang dicapai sejak pertemuan terakhir, termasuk pembuatan tank, yang diharapkan akan dipamerkan di parade militer HUT TNI di Indonesia pada bulan Oktober 2018. Dia juga mengatakan kedua pihak melihat ke dalam lebih banyak bentuk kerja sama pertahanan dan menyusun kesepakatan kerjasama pertahanan bilateral (Defense Cooperation Agreement / DCA) untuk memfasilitasi proses ini – sebuah langkah yang telah lama dibahas.

Sumarlan tidak secara terbuka memaparkan langkah dari DCA tersebut, namun dia mengatakan kedua pihak mempertimbangkan beberapa bidang kolaborasi industri melalui saluran pemerintah-ke-pemerintah yang telah dibahas sebelumnya. Ini termasuk kerjasama desain dan teknologi untuk kapal selam tipe-214, produksi bersama dari pesawat tak berawak medium altitude long endurance (MALE), dan area lainnya seperti pesawat terbang dan barang elektronik.

Seiring berjalannya tahun dan kita melihat pertemuan lainnya, akan sangat berharga untuk melihat bagaimana berbagai kerjasama ini berlangsung (atau tidak) seiring berjalannya waktu. (TheDiplomat.com).

Sharing

Tinggalkan komentar