Su-27 Rusia dan F-15E Amerika Pernah Nyaris Bentrok di Suriah

Pada 8 Juni 2017, AS mengirim dua pesawat tempur F-15E untuk mencegat drone Suriah yang terbang didekat wilayah yang dikontrol koalisi AS. Pilot F-15E, Jeremy Renken sudah menempatkan jari di tombol siap meluncurkan rudal, tapi kemudian dua Su-27 Rusia muncul di dekat F-15E.

Drone Shahed milik Pemerintah Suriah dilengkapi roket udara ke darat untuk menyerang pemberontak yang didukung AS.

Beberapa saat sebelumnya ada laporan serangan roket terhadap mobil di dekat markas koalisi pimpinan AS, namun roket tidak meledak. Menurut laporan pilot F-15E, drone Suriah terlihat hanya menggotong satu roket yang diperkirakan satu roket lainnya sudah dilepaskan.

Meski demikian, Komando Angkatan Udara AS belum mengeluarkan perintah tembak jatuh. Usaha pertama dilakukan dengan mengganggu drone, usaha sepertinya berhasil karena drone berbalik dan menjauh – setelah beberapa menit drone ternyata terbang kembali ke arah mereka, dan sekarang AS berkeputusan untuk menembak jatuh drone Suriah.

Namun beberapa saat kemudian, dua jet tempur Su-27 Rusia terbang mendekat ke arah pesawat tempur F-15E.

Kedua Su-27 terbang sangat dekat hingga terlihat persenjataannya. “Sudah jelas bahwa Flankers membawa rudal udara-ke-udara,” kata pilot kepada jurnal Aviation Week.

Khawatir pilot Rusia akan salah memahami serangan terhadap pesawat tak berawak itu sebagai serangan terhadap pesawat tempurnya. “Jika Rusia ingin campur tangan, mereka bisa melakukannya dengan mudah.”

Hanya saat pesawat tak berawak itu lepas dari pesawat pemburu Rusia, pilot Renken berani menembakkan rudal AIM-120C ke arah drone Suriah.

Beberapa hari kemudian Angkatan Udara AS menembak jatuh Su-22 Suriah dan kemudian pesawat tak berawak lagi. Setelah kejadian itu, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan semua pesawat terbang dan pesawat tak berawak di wilayah operasional Angkatan Udara Rusia di Suriah sekarang dianggap sebagai target oleh kontrol lalu lintas udara Rusia. Selain itu, militer Rusia telah menolak Perjanjian Sementara Suriah, yang disepakati dengan AS pada tahun 2015.

Koalisi pimpinan AS mengatakan telah mengambil langkah untuk mengubah lokasi pesawat terbang di Suriah sehingga “perang melawan ISIS bisa dilakukan tanpa membahayakan pesawat tempur AS dan koalisinya”. Tidak ada insiden lebih lanjut yang dilaporkan setelah kejadian tersebut di bulan Juni 2017.
SPUTNIK

Sharing

Tinggalkan komentar