10 Hal Perlu Anda Tahu Tentang Latihan Militer Rusia

Tank T-90 Rusia (photo : Sputniknews.com / Ramil Sitdikov)

Latihan militer Rusia “Zapad-2017” dimulai pada tanggal 14 September. Latihan ini banyak dibahas oleh para pakar militer berbulan-bulan untuk mengetahui bagaimana latihan ini akan mengubah dinamika dan situasi keamanan regional. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menempatkan latihan militer “Zapad-2017” ke dalam perspektif yang lebih besar. Bagaimana angkatan bersenjata Rusia berlatih dan apa tujuan dari latihan itu? Apa yang berubah sejak latihan “Zapad” sebelumnya, yang berlangsung di tahun 2013? Apa yang harus diperhatikan selama “Zapad-2017” ?, menurut Dominik P. Jankowski, head of the OSCE and Eastern Security Unit di Kementerian Luar Negeri Polandia :

Berikut 10 hal yang harus diketahui tentang Latihan Rusia itu :

1) orang Rusia berlatih seakan mereka sedang bertempur sesungguhnya. Ini adalah elemen penting dari latihan mental Rusia. Secara praktis, ini berarti latihan Rusia didasarkan pada penilaian ancaman nyata. Skenarionya realistis. Mereka membuat keberadaan dan kemampuan militer lawan sesuai dengan kenyataan.

2) Sejak 2013 Rusia telah terlibat langsung dalam dua konflik militer konvensional utama dengan lingkungan NATO. Baik dalam kasus Ukraina dan Suriah. Pasukan Rusia terus menguji kemampuan militer mereka, rantai komando, prosedur dan tingkat interoperabilitas di medan perang. Operasi militer tersebut telah membantu angkatan bersenjata Rusia mendapatkan pengalaman medan perang yang solid dalam konflik konvensional. “Zapad-2017” adalah satu lagi kesempatan untuk memverifikasi pelajaran yang didapat dari kedua perang tersebut dan menghilangkan kesenjangan yang ada.

3) Keterlibatan operasional Rusia di medan perang nyata, memberi kita beberapa pengertian awal tentang unsur-unsur yang mungkin dilakukan. Berdasarkan pengamatan terhadap konflik Rusia-Ukraina, dapat dilihat komponen sebagai berikut: penggunaan pesawat tak berawak atau UAV untuk melakukan pengawasan real-time secara konstan, penargetan cepat oleh tembakan artileri terkonsentrasi dengan amunisi advanced serta kemampuan perang elektronik yang modern.

4) “Zapad-2017” sangat penting bagi Distrik Militer Barat dan Selatan Rusia. Mereka telah menjadi prioritas utama dalam program modernisasi militer Rusia sejak setidaknya 2012. Secara praktis, ini berarti bahwa unit di kedua distrik tersebut telah menerima peralatan paling modern dan berteknologi maju, yang akan diuji di “Zapad- 2017 “.

5) Unsur kunci lain dari modernisasi di kedua distrik militer itu adalah penciptaan sistem Anti-Access / Area Denial yang sangat canggih (A2 / AD). Mereka mencakup kekuatan udara yang diperlukan, kemampuan maritim (termasuk ofensif mining : pemasangan ranjau di daerah lawan, di jalur kapal musuh, di luar pelabuhan musuh), sistem rudal ofensif dan defensif (termasuk Iskander, Bastion, Kalibr dan S-400), perang elektronik yang ofensif dan kemampuan cyber. Adanya militerisasi di Oblast Kaliningrad dan Krimea menyebabkan terciptanya gelembung A2/AD tepat di perbatasan NATO. Tujuan utama mereka adalah membatasi kebebasan bermanuver NATO. Dalam latihan militer “Zapad-2017” diharapkan sistem tersebut tidak hanya dilatihkan, namun yang lebih penting lagi tingkat integrasi mereka akan diverifikasi.

6) Komponen nuklir adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan selama “Zapad-2017”. Rusia sering menggabungkan dimensi konvensional dan nuklir menjadi satu skenario. Sebenarnya, pendekatan semacam itu memungkinkan Rusia untuk menguji dominasi eskalasi konflik potensial. Inilah yang NATO tidak lakukan karena kebijakan semacam itu memicu ketidakpastian dan mengurangi kepercayaan diri. Dalam konteks yang lebih luas, pendekatan Rusia juga bertujuan untuk mengintimidasi masyarakat Eropa.

7) Sejak tahun 2013 Rusia telah mengubah secara signifikan postur latihan gabungan mereka. Pendekatan “seluruh bangsa” / (whole of nation approach) untuk latihan diperkenalkan kembali. Kenyataan ini berarti seluruh administrasi publik – baik di tingkat nasional maupun regional – bersiap menghadapi konflik berskala besar. Unit dan agen non-militer berlatih bersama dengan angkatan bersenjata Rusia. Pendekatan “keseluruhan negara” membantu mengintegrasikan sistem militer dan non-militer dan meningkatkan interoperabilitas mereka.

8) Rusia juga mengembalikan praktik pengorganisasian latihan dadakan dan tajam yang disebut snap exercises. Latihan ini tidak disertai pemberitahuan sebelumnya dan berskala besar. Latihan ini sering terjadi di sekitar perbatasan langsung dengan NATO. Mereka sangat sulit dilacak dan berpotensi menjadi persiapan untuk memulai sebuah konflik militer. Tidak ada keraguan bahwa snap exercises mengkonfirmasi ketidakpastian politik dan militer strategis Rusia karena mereka meningkatkan level ketidakpastian dan risiko salah perhitungan.

9) Kebijakan latihan militer Rusia memiliki karakteristik kurangnya transparansi. Rusia sering tidak memberikan pemberitahuan lanjutan tentang latihannya yang merupakan prosedur standar dalam Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE). Rusia berulang kali membelah latihan militer skala besarnya, seperti dalam kasus “Zapad-2017”, menjadi terlihat lebih kecil. Taktik ini memungkinkannya menghindari keharusan pemberitahuan dan undangan kepada pengamat asing. Sebenarnya angkatan bersenjata Rusia sering bertindak bertentangan dengan semangat instrumen OSCE dan menggunakan “celah” yang ada, terutama di Dokumen Wina.

10) Pada saat yang sama, Rusia menggunakan latihan seperti “Zapad-2017” untuk memverifikasi keefektifan mesin propagandanya. Di bidang media Rusia sering secara artifisial menaikkan jumlah pasukan dan peralatan yang akan ambil bagian dalam latihan tersebut untuk menguji reaksi sekutu NATO, negara-negara tetangga (terutama Ukraina, Georgia, Swedia dan Finlandia) dan masyarakat Eropa. Sebenarnya, dalam kasus “Zapad-2017” Rusia ingin menciptakan kesan bahwa latihan ini hanyalah suatu latihan di sebuah kota (game in town). Pada kenyataannya tidak demikian. Operasi lainnya – termasuk keterlibatan militer Rusia di Ukraina dan Suriah, kegiatan hybrid Rusia di Eropa Barat dan Tengah atau di Balkan Barat – terus berlanjut. (thebalticpost.com).

Sharing

Tinggalkan komentar