Automatic Dependant Surveillance Broadcast Wilayah Papua

ilustrasi : Kokpit Pesawat

Denpasar – Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI/Airnav Indonesesia) akan membangun sistem “Automatic Dependant Surveillance Broadcast” (ADS-B) di tujuh wilayah Papua untuk meningkatkan keselamatan penerbangan.

Direktur Utama LPPNPI Novie Riyanto di sela-sela diskusi “Aviation Development and Safety in Eastern Indonesia” di Denpasar, Bali, Selasa 19/9/2017 mengatakan implementasi pembangunan ADS-B akan dilakukan tahun ini.

“Sekarang sedang dilakukan tender dan tahun ini kita targetkan sudah bisa terpasang semua,” katanya.

Tujuh lokasi tersebut adalah: Jayapura, Senggeh, Borome, Oksibil, Dekai, Wamena dan Elilim.

Novie menjelaskan ADS-B dapat digunakan untuk menjangkau lalu lintas penerbangan di wilayah Indonesia Timur, dalam hal ini, Papua yang sulit untuk instalasi radar karena area yang berbukit-bukit, keterbatasan sumber daya manusia serta pasokan listrik.

Dia menyebutkan total investasi untuk pemasangan ADS-B di tujuh wilayah Papua adalah Rp41 miliar. Saat ini, total ADS-B yang sudah terpasang di Indonesia adalah 30 unit.

“Dengan adanya ADS-B ini pergerakan seluruh pesawat udara di Indonesia bisa dimonitor lewat satelit,” ujarnya.

Dalam kesempatan sama, Direktur Navigasi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Yudhisari Sitompul mengatakan pemasangan ADS-B merupakan langkah tepat untuk meningkatkan keselamatan penerbangan.

Cara kerja Automatic Dependant Surveillance Broadcast” (ADS-B) (Boeing)

“Ini merupakan strategi baru kita untuk mengurangi konsumsi engeri, meningkatkan infrastuktur sistem navigasi di Papua yang nantinya tidak ada kota yang tertinggal, ‘no city left behind,” ujarnya.

Dalam telekonferensi, Perwakilan Boeing Sam Booloki telah melakukan penelitian di enam wilayah Papua, di antaranya Mulia, Wamena, Okdibil, Ilaga, Beoga dan Sentani.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa wilayah udara di Papua sangat menantang, baik itu dari kondisi alam maupun cuaca.

“Medannya sangat menantang dan sangat curam baik untuk mendarat maupun lepas landas,” ujarnya.

Menurut Booloki, informasi mengenai kondisi bandara dan cuaca belum terpenuhi dengan baik.

“Dan kami mendarat di Bandara Ilaga, bandara yang sangat curam, landasan pacu hanya 600 meter, banyak sekali insiden di sini, karena itu dibutuhkan pilot terlatih,” katanya

Untuk itu, dibutuhkan kajian manajemen lalu lintas udara, layanan informasi navigasi udara dan SAR.

“Harusnya ini semua bisa diinformasikan kepada pemangku kepentingan dan diimplementasikan ke dalam peraturan dan dilaksanakan,” ujar Sam Booloki. (Antara).

Sharing

Tinggalkan komentar