Satgas Pamtas Yonif 611/Awang Amankan 77 Senjata Api Rakitan

Warga serahkan 77 senjata api rakitan ke Yonif 611/Awang (@KodamMulawarman)

Samarinda – Prajurit TNI-AD yang tergabung dalam Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) antara RI dan Malaysia Batalyon Infanteri 611/Awang Long mengamankan 77 pucuk senjata api rakitan yang diserahkan warga secara sukarela.

“Sebanyak 77 pucuk Senpi rakitan ini hasil penyerahan warga selama 8 bulan penugasan di perbatasan sejak 12 Januari 2017,” ujar Komandan Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif 611/Awl Letkol Inf Sigit Hengki Purwanto melalui Kepala Penerangan Korem 091/Aji Surya Natekesuma (ASN) Mayor Czi Gathut Aryo Saputro pada Rabu 21-9-2017 di Samarinda.

Penyerahan Senpi rakitan sebanyak itu tidak diserahkan warga secara serentak pada hari yang sama, tetapi penyerahannya dilakukan warga ketika mereka sadar bahwa senpi tersebut berbahaya dan warga tidak berhak mempunyai Senpi tanpa izin, sesudah mendapat penjelasan dari prajurit di perbatasan.

Warga serahkan 77 senjata api rakitan ke Yonif 611/Awang (@KodamMulawarman)

Dari akumulasi penyerahan selama 8 bulan penugasan itulah sehingga terkumpul 77 pucuk Senpi, termasuk penyerahan terakhir yang dilakukan oleh warga Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, pada Rabu 20-9-2017 ini  sekitar pukul 13.30 Wita, di Pos Sei Agison SSK III, Nunukan.

Di lokasi itu warga menyerahkan 6 pucuk Senpi rakitan jenis penabur, secara sukarela kepada Komandan Pos Sei Agison Sertu Muhammad Don yang disaksikan Komandan SSK III, Danpos Salang dan seluruh Anggota Pos Sei Agison serta perwakilan aparat Desa Tinampak II, Desa Tau Baru dan Desa Balatikon.

Secara keseluruhan, lanjutnya, Senpi rakitan ini diserahkan secara sukarela oleh warga sebab warga simpatik terhadap prajurit yang bertugas di perbatasan, terutama pendekatan yang dilakukan secara ramah, membantu masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Kemudian memberikan penyuluhan tatap muka mengenai bahaya Senpi maupun sanksi hukum apabila kedapatan mempunyai Senpi, tetapi tidak dikenai sanksi jika bersedia menyerahkan dengan ikhlas.

Selama bertugas di perbatasan, lanjutnya, personel melakukan pendekatan ke masyarakat setempat diantaranya dengan silaturahim ke rumah warga, karya bakti dan menyatu dengan warga, komunikasi sosial, Pembinaan Pertahanan Wilayah dan selalu menyempatkan menghadiri undangan warga.

Selanjutnya menjunjung tinggi dan menghormati adat istiadat setempat, olahraga bersama, mengikuti kegiatan keagamaan bersama warga, mengajar di sekolah baik tingkat SD, SMP, maupun SMA, mengadakan pengobatan gratis, sunatan gratis dari rumah ke rumah.

“Hal lain yang juga sering dilakukan adalah menyelenggarakan penyuluhan hukum yang diantaranya larangan mempunyai Senpi, kemudian memberikan pemahaman mengenai wawasan kebangsaan dan cinta Tanah Air, serta kegiatan sosial lainnya,” ujar Kapenrem. (Antara).

Sharing

Tinggalkan komentar