Massoud Barzani : Kurdi Tetap Adakan Referendum

Pemimpin KRG Massoud Barzani, 17/9/2017. (Masoud Barzani?)

Erbil/Dubai/Istanbul – Pihak etnis Kurdi Irak tetap akan melaksanakan referendum mengenai kemerdekaan pada Senin 25-9-2017, ujar Presiden Pemerintah Regional Kurdistan (KRG) Massoud Barzani dalam jumpa pers.

Etnis Kurdi Irak akan mengusahakan pembicaraan dengan pemerintah pusat guna melaksanakan hasil dari referendum yang diperkirakan para pemilih memberikan suara “Ya”, bahkan jika memerlukan waktu 2 atau beberapa tahun lagi, ujar Massoud Barzani.

“Kami tidak akan pernah balik ke kemitraan yang gagal” dengan Baghdad, ujar Massoud Barzani, dengan menambahkan Irak sudah menjadi sebuah negara “teokratik dan sektarian” dan bukan negara demokrasi yang dibangun setelah penggulingan Saddam Hussein tahun 2003.

Massoud Barzani menolak kekhawatiran negara-negara tetangga Irak yang kuat yakni Iran dan Turki bahwa pemungutan suara itu dapat membuat kawasan itu tak stabil.

Menurut Massoud Barzani, pihaknya bertkad menghormati hukum mengenai perbatasan-perbataan internasional dan tidak mengusahakan membahas lagi perbatasan-perbatasan di kawasan.

“Hanya kemerdekaan dapat memberi penghargaan kepada induk dari para syuhada kami,” kata Massoud Barzani, dengan mengingatkan lagi komunitas internasional tentang peran yang dimainkan pihak Kurdi dalam perang melawan ISIS. “Hanya melalui kemerdekaan kami dapat menjamin masa depan kami.”

Pemimpin KRG Massoud Barzani, 17/9/2017. (Masoud Barzani?)

Reaksi Iran dan Turki

Iran menghentikan penerbangan ke dan dari kawasan-kawasan Kurdi di bagian Utara Irak pada Minggu 24-9-2017 sebagai balasan atas rencana KRG untuk mengadakan referendum tersebut. Iran juga melaksanakan latihan-latihan perang di perbatasannya dengan Kurdi.

Embargo udara itu adalah langkah balasan konkret pertama terhadap referendum Kurdi pada Senin 25-9-2017 yang ditolak oleh pemerintah Irak dan tetangga-tetangga kuatnya, Iran dan Turki.

Pihak berwenang di Iran menghentikan lalu lintas udara ke bandara-bandara udara internasional di Erbil dan Sulaimaniya di Kurdistan Irak, atas permintaan dari Baghdad, demikian kantor berita Fars melaporkan.

Teheran dan Ankara takut penyebaran separatisme ke wilayah mereka yang berpenduduk etnis Kurdi.

Sementara itu Turki menyatakan pada Minggu 24-9-2017 pesawat tempurnya melancarkan serangan-serangan terhadap sasaran-sasaran Partai Pekerja Kurdistan (PKK) di kawasan Gara, di bagian Utara Irak, pada Sabtu 23-9-2017 sesudah mengetahui para militan siap menyerang pos-pos terluar militer Turki di perbatasan.

“Turki tidak akan pernah memberi toleransi atas perubahan status atau formasi baru di perbatasan-perbatasan bagian Selatannya,” ujar Perdana Menteri Turki Binali Yildirim. “KRG akan yang paling utama bertanggung jawab atas kemungkinan perkembangan-perkembangan sesudah referendum ini.” KRG sudah menolak seruan-seruan agar menangguhkan referendum yang disampaikan oleh PBB, Amerika Serikat dan Inggris yang takut hal itu dapat membuat tidak stabil di kawasan.

Referendum yang diperkirakan akan menghasilkan suara “Ya” untuk kemerdekaan, tidak mengikat dan berarti memberi KRG sebuah mandat sah untuk merundingkan pemisahan kawasan otonomi itu dengan Baghdad dan negara-negara tetangganya.

KRG menyatakan pemungutan suara itu mengakui sumbangsih penting etnis Kurdi melawan ISIS sesudaah membuat kewalahan tentara Irak pada tahun 2014 dan menguasai kendali sepertiga wilayah Irak. (Antara/Reuters).

Sharing

Tinggalkan komentar