Hizbullah: Referendum Kurdi Langkah Awal Penyekatan Timur Tengah

Pemimpin HIzbullah Sayyid Hassan Nasrallah

Beirut – Kelompok Hizbullah Lebanon mengatakan pada Sabtu 1-10-2017 bahwa dilaksanakannya pemungutan suara kemerdekaan Kurdi Irak menandai sebuah langkah awal menuju penyekatan Timur Tengah, memperingatkan bahwa hal tersebut akan menyebabkan “perang kawasan” dan harus ditentang.

Sayyid Hassan Nasrallah, kepala kelompok yang disokong Iran tersebut, mengatakan bahwa kejadian di Irak Utara, tempat warga Kurdi memilih untuk kemerdekaan pada Senin 25-9-2017, adalah ancaman bagi seluruh wilayah dan bukan hanya terhadap Irak tetapi juga negara-negara tetangga berpenduduk Kurdi.

“Ini akan membuka pintu penyekatan, penyekatan, penyekatan,” kata Sayyid Hassan Nasrallah. Sayyid Hassan Nasrallah menambahkan bahwa “penyekatan berarti membawa daerah tersebut menuju perang dalam kawasan yang akhir dan kerangka waktunya hanya diketahui oleh Tuhan,” tuturnya.

Sayyid Hassan Nasrallah mencatat bahwa musuh bebuyutannya Israel, sudah menunjukkan kehadirannya menyokong negara Kurdi dan menggambarkan referendum tersebut sebagai bagian dari rencana Amerika Serikat dan Israel memecah wilayah tersebut.

Amerika Serikat bertindak sebagai oposisi terhadap pemungutan suara, bersama dengan negara-negara besar Eropa dan negara-negara tetangga, Turki dan Iran. Pemerintah Suriah, yang di negaranya kelompok Kurdi sudah membentuk sebuah daerah mandiri, juga menentang referendum tersebut.

Hizbullah, sebuah gerakan politik dan militer, adalah pemain utama dalam perang Suriah, mereka sudah mengerahkan ribuan pasukan tempurnya untuk menyokong Presiden Bashar al-Assad.

Pasukan tempur Hizbullah sekarang ini berperang bersama milisi sokongan Iran dan tentara Suriah dalam melawan kelompok ISIS di Suriah Timur. “Daesh sudah hancur, ini waktunya untuk Irak dan Suriah,” kata Sayyid Hassan Nasrallah, menggunakan akronim bahasa Arab untuk kelompok ISIS. (Antara/Reuters).

Sharing

Tinggalkan komentar