Desain Rinci Jet Tempur KFX/IFX Dimulai 2018

Desain pesawat tempur KFX/IFX (istimewa)

Jakartagreater.com. Desain final dari pesawat tempur Korea Aerospace Industries / KF-X, diharapkan terwujud pada bulan Juni 2018, di mana saat itu pembuatan desain rinci akan dimulai.

Tahap perancangan rinci untuk jenis bermesin ganda akan dilakukan sampai akhir 2019, di mana produksi prototype akan dimulai, kata seorang pejabat yang akrab dengan program tersebut kepada Flightglobal.com, 15/10/2017.

Penerbangan pertama dari pesawat KFX direncanakan pada pertengahan tahun 2022, dengan pengujian dan evaluasi berjalan sampai 2026.

KF-X akan memiliki versi kursi tunggal dan ganda yang didukung oleh dua mesin General Electric F414.

Saat ini, desainnya sedang menjalani uji terowongan angin dan analisis dinamika fluida komputasi.

Pejabat tersebut menambahkan bahwa Indonesia, yang memegang 20% biaya pengembangan, memperoleh lisensi ekspor dari pemerintah AS pada bulan April 2017. Indonesian Aerospace (PT DI) memiliki lebih dari 80 staf yang bekerja dalam program ini, bersama dengan staf dari Lockheed Martin dan KAI. Varian Jakarta nantinya disebut IF-X.

Lisensi untuk Indonesia

Menurut catatan Antara, 6 Februari 2017, kerja sama pembuatan jet tempur KF-X/IF-X antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan masih harus menunggu persetujuan lisensi dari Amerika Serikat, kata Wakil Menteri Luar Negeri RI A.M. Fachir.

“Joint development untuk pesawat ini ada beberapa pending, terutama soal lisensi dari AS. Bukan penundaan kerja sama tetapi kita minta AS sebagai negara yang memiliki lisensi, dia harus memberikan izin dulu,” ujar Wamenlu Fachir di Jakarta, kala itu.

Kini informasi dari Flightglobal.com, 15 Oktober 2017 menyatakan, Indonesia telah memperoleh lisensi ekspor dari pemerintah AS pada bulan April 2017.

Model Pesawat KFX

Pada tahap awal prototype hampir tidak ada perbedaan antara bentuk KF-X dan IF-X. Meski demikian, menurut flightglobal.com, pesawat Korea Selatan dan Indonesia nantinya cenderung berbeda.

Pejabat Korea Selatan sebelumnya mengatakan bahwa, konfigurasi Blok I tanpa lapisan siluman dan tanpa kemampuan membawa senjata secara internal, akan dimiliki Indonesia. Korea Selatan akan memiliki pesawat Blok II, dengan lapisan siluman dan penyimpanan senjata internal (weapon bay).

Korea Selatan juga akan mengembangkan kemampuan dalam negeri di bidang-bidang utama yang gagal mendapatkan lisensi ekspor dari AS, termasuk radar AESA yang akan dikembangkan dengan bantuan Israel, infrared search and track (IRST), penargetan elektro optik, dan rangkaian perang elektronik pesawat terbang.

Tinggalkan komentar