Sistem Rudal S-200 Suriah Serang Pesawat Israel

ilustrasi. (@ IDF)

Jakartagreater.com. Sistem rudal darat-ke-udara Suriah menyerang pesawat Israel di wilayah udara Lebanon pada tanggal 16 Oktober 2017, ujar Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dirilis Janes.com, 18/9/2017.

“Sebuah rudal anti-pesawat diluncurkan dari Suriah menuju pesawat IDF selama penerbangan rutin melintasi Lebanon. Tidak ada hit yang dikonfirmasi, “kata IDF.

Rudal tersebut diidentifikasi sebagai SA-5 – (nama NATO) untuk sistem SAM jarak jauh S-200 – dan mengatakan bahwa pesawat Israel membalas dengan menyerang baterai yang yang meluncurkan rudal tersebut, sekitar 50 km dari Damaskus.

Kantor Berita Syrian Arab News Agency (SANA) melaporkan bahwa pertahanan udara Suriah menembak (hit) satu pesawat Israel, ketika Suriah menanggapi sebuah pelanggaran terhadap wilayah udara di dekat wilayah Baalbek di Libanon pada pukul 08.51 waktu setempat.

Upgrade S-200 (SA-5)

Sistem rudal Almaz S-200 yang memiliki jangkauan 296 km merupakan rudal terbesar dan jangkauan untuk sasaran udara yang dikembangkan dan dioperasikan oleh negara-negara Pakta Warsawa selama Perang Dingin.

Meskipun telah sepenuhnya digantikan oleh seri S-300P dalam dinas Rusia, dan pensiun tanpa penggantian oleh sebagian besar negara Eropa Timur yang menerapkannya, namun tetap digunakan secara luas oleh berbagai eks republik Soviet, dan yang terpenting adalah SAM ini berkinerja tertinggi yang dioperasikan oleh baik Iran maupun Korea Utara.

Senjata ini tetap efektif terhadap platform Intelligence Surveillance Reconnaissance (ISR), tanker pengisian bahan bakar udara, dan platform Electronic Attack. Rudal ini tetap strategis secara signifikan. Dengan upgrade teknologi yang ditawarkan, memungkinkan rudal ini beroperasi dengan baik di masa lalu 2020, ujar ausairpower.net.

Wzu.vipserv.org mencatat, tujuan utama upgrade sistem rudal anti-pesawat S-200 WEGA dua channel ini adalah memungkinkannya beroperasi dengan dua skadron radar jarak jauh yang mampu melakukan operasi otonom, untuk meningkatkan keefektifan perintah, perintah penembakan, dan kerja sama dengan kelompok tempur, serta untuk meningkatkan parameter teknis dan keandalannya dengan menggunakan sistem elektronik mutakhir generasi baru.

Salah satu negara yang telah mengupgrade S-200 adalah Iran dengan mengoptimalkan sistem rudal pertahanan udara S-200 buatan Rusia untuk menutup sasaran terbang mid-altitude.

“Kami memberi tahu komandan Angkatan Udara Rusia mengenai perubahan yang telah kami buat dalam sistem (S-200) dan dia mengagumi kemampuan ini,” ujar pejabat militer Iran, kepada farsnews.com

Menurut militer Iran, S-200 adalah sistem jarak jauh yang sepenuhnya dibuat oleh Rusia, namun Iran dapat menambahkan kemampuannya untuk menutupi ancaman ketinggian dengan mengubah struktur dan protokol sistem S-200 dan menggunakan rudal Sayyad-2. dan Iran juga mengatakan kepadanya bahwa kemampuan (baru) ini telah terbukti berhasil di tempat uji coba.