Tiga Anggota Pasukan PBB Tewas Kena Ledakan di Mali Utara

Pasukan Penjaga Perdamaian MINUSMA PBB, Kontingen Bangladesh membagikan air dan komoditas langka kepada penduduk, di Mali, 29/10/2017. (MINUSMA /Harandane Dicko)

Abidjan, Jakartagreater.com – 3 anggota pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa asal Chad tewas dan 2 lagi luka-luka akibat ledakan ketika mereka mengawal sebuah iring-iringan pada Kamis 26-10-2017 di Mali Utara, kata misi penjaga perdamaian Afrika Barat.

Lebih dari 80 anggota misi PBB, yang dikenal sebagai MINUSMA, tewas sejak 2013 oleh serangan kelompok garis keras yang berkegiatan di wilayah Utara dan tengah negara itu, menjadikannya sebagai operasi penjaga perdamaian paling mematikan di dunia.

Misi tersebut mengatakan dalam pernyataan bahwa kendaraan yang ditumpangi pasukan penjaga perdamaian terhantam alat peledak pada Kamis 26-10-2017 pukul 02:30 waktu setempat (21:30 WIB) di sekitar daerah antara kota Tessalit dan Aguelhok.

Juru bicara MINUSMA Olivier Salgado kemudian mengatakan kepada Radio Prancis “Internationale” bahwa anggota pasukan yang terkena ledakan tersebut berasal dari Chad, salah satu negara penyumbang anggota pasukan di kawasan tersebut.

“Saya mengutuk kejadian tersebut sebagai tindakan yang hina, yang tujuannya hanya untuk mengguncang negara dan menghambat proses perdamaian yang tengah berlangsung di Mali,” ujar kepala misi sementara Koen Davidse.

Munculnya sejumlah kelompok garis keras di Sahel Afrika, yang beberapa terkait dengan jaringan al-Qaida dan kelompok ISIS, sudah membuat khawatir negara-negara Barat seperti Prancis, yang sudah mengerahkan ribuan tentaranya ke daerah perang di kawasan itu.

Empat anggota Pasukan Khusus Amerika Serikat tewas pada awal bulan ini, di negara tetangganya, Niger, oleh serangan pasukan tempur garis keras yang diyakini mempunyai hubungan dengan jaringan kelompok ISIS lokal, yang berkegiatan di luar Mali.

Para pegaris keras sudah meningkatkan jangkauan serangnya terutama di daerah antara Mali, Niger dan Burkina Faso, dengan menyasar militer dan warga, termasuk terhadap lokasi wisata di kota-kota besar.

Kelompok G5 Sahel, satuan tugas tentara anti-terorisme dari ketiga negara tersebut, serta Chad dan Mauritania, berencana untuk memulai operasi gabungan pertamanya dalam beberapa hari mendatang. (Antara/Reuters).

Tinggalkan komentar