Belajar dari Pesawat Tempur Gripen Brazil

Saat ini contoh mengenai Transfer Of Technology pembuatan Pesawat Tempur adalah melihat program akuisisi Gripen NG untuk Brazil.

Artikel ini didasarkan pada arsip Swedish Agency For Growth Policy Analysis bulan Maret 2017, bagus untuk melihat lebih dalam update dan scope proyek Gripen Brazil.

In September 2015, the Brazilian Federal Government signed a contract with Saab for the development and production of 36 Gripen fighter jets. In addition to those fighter jets (8 two-seater and 28 single-seater), the contract includes 2 simulators (level 7), a 5year logistics support contract, 10 planning and debriefing stations, missiles (WVR/BVR/Anti-radiation) and bombs (laser guidance and INS/GPS). The transaction value is around US $ 5.4 billion and also involves technology transfer to the Brazilian industry.

Nilai Gripen Brazil komplit (Tot, support dan rudal) adalah USD 150 million/unit dan program dilaksanakan +/- 10 tahun 2015-2025. Sedangkan program IFX adalah USD 2 billion/80 unit atau USD 25 million/unit ditambah biaya produksi IFX diperkirakan USD 75million/unit , sehingga total biaya IFX adalah USD 100million/unit, dilaksanakan dari 2012-2026.

These projects involve a dozen of Brazilian companies and public institutions and encompass knowledge transfer in areas such as composites materials, simulation, mission planning; computer based training systems, design, development and support of avionic systems.

TOT yang didapatkan Gripen Brazil di atas sepertinya bukan hal asing bagi Industri Penerbangan Indonesia. Composite Materials PT. DI dengan Polymer-Honeycom sudah biasa dikerjakan untuk surface aerostructure. Struktur Airbus A380 juga dibuat disini dengan memakai HPC Composite. Sedangkan Simulation, mission planning, computer based training system dan avionic akan dibahas lebih lanjut di bawah.

The production of the aircraft will take place in three phases. The first aircraft will be produced at Saab’s facilities in Sweden. At this initial stage, knowledge transfer will take place “on the job”, bringing together engineers from FAB and all central suppliers. In phase two, the aircraft will be produced at Embraer’s facilities in Brazil, which will make the final assembly under Saab´s supervision. Embraer will act as an assembler in this phase, given that Saab will provide all necessary parts for assembly. In the last phase, the aircraft will be totally assembled in Brazil, without Saab´s supervision. About 80% of the main structural components and fuselage of the Gripen NG will be produced in Brazil, such as wings, doors, and fuselage segments. Regarding Gripen’s aerostructures plant, Saab confirmed that it will be built in São Bernardo do Campo, in Greater São Paulo. Called SAAB Aeronautica Montagens (SAM), the facility will manage the supply chain and will produce subassemblies for both the production line in Sweden and in Brazil, such as the WINGSs and front and rear fuselage of Gripen.”

Dalam berita yang lain disebutkan bahwa pesawat no. 1 s/d 8 akan dikerjakan dalam phase 1 sedangkan sisanya adalah phase 2.

Produksi Gripen Brazil secara mandiri/phase 3 akan dikerjakan setelah no. 36. Wings, doors dan fuselage akan diproduksi di Brazil, yang menjadi pertanyaan adalah kenapa masih berbendera SAAB atau SAAB Aeronautica Montagens ? Apakah ini berarti SAAB berinvestasi membuat Pabrik di Brazil ?

Kita akan melihat konsep TOT IFX, apakah berarti KAI akan membuat Pabrik di Indonesia. Sepertinya hal inilah yang akan membedakan konsep TOT Gripen Brazil dengan IFX, dimana IFX secara keseluruhan akan memakai Pabrik dan Lini produksi milik perusahaan Indonesia sendiri.

Selain itu dalam Paragraf ini juga mengkonfirmasi bahwa produksi Wings dan Fuselage juga sama dengan skope TOT PT.DI pada proyek IFX. Kenapa hal ini perlu ditekankan karena beberapa anak bangsa sepertinya memandang rendah bahwa “IFX HANYA memproduksi wings dan fuselage” padahal diproyek lain (Gripen Brazil) juga berlaku sama seperti ini.

Embraer, the leader of the Brazilian aeronautic chain, and other suppliers directly involved in the Gripen NG Project (AEL, Atech, Akaer, Inbra and Mectron), classified as first tier (Tier 1) suppliers.

Exhibt 3.2 – COPAC’s ongoing offset agreement.

Source: Presentation “Monitoring offset agreements”. 21 November 2016. Brigadier Paulo Roberto de Barros. Presentation about COPAC. 27 May 2015.

The Tier 1 suppliers for the development of Gripen NG project are: AEL/Elbit (avionics), Akaer/25%SAAB (fuselage design), Atech/100%Embraer (flight simulation), Inbra Aerospace (production of structural parts of the wing, back and front parts) and Mectron (integration of intelligent armaments and the data-link on the aircrafts’ communication system).

Tier 1 penerima TOT dari Gripen Brazil menjadi gambaran mengenai kesiapan industri kita dalam TOT IFX. Kelebihan Industri di Brazil karena telah didukung oleh Industri Penerbangan Global seperti kepemilikan Elbit Israel pada AEL, Saham 25% SAAB pada AKAER. Apakah kepemilikan Saham Asing ini sebuah keuntungan atau kerugian?
Berpaling pada kesiapan Industri yang sama di Indonesia dapat kita petakan sbb :

  1. Avionics AEL, Apakah PT. Global Info dan PT. LEN siap menerima TOT.
  2. Fuselage AKAER dan INBRA, sepertinya PT. DI dengan pengalaman untuk Airbus dan Boeing mampu untuk hal ini.
  3. Flight Simulation, PT. TES, PT. DI dan PT. LEN sudah sangat berpengalaman untuk hal ini.
  4. Datalink dan Communication system MECTRON, PT. LEN dan PT. INTI harus berkolaborasi menggabungkan kedua resources untuk tecknologi ini.

Gripen Brazil yang sangat dibanggakan oleh banyak pemerhati teknologi militer di Indonesia layak bagi kita untuk melihat dan belajar apa yang menjadi skope pencapaiannya dan keuntungan yang didapatkan. Lebih jauh lagi menumbuhkan optimisme kita bahwa TOT IFX seharusnya MAMPU dilakukan karena tidak terlalu jauh dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Gripen Brazil.

By : Senopati Pamungkas

Tinggalkan komentar