Perjuangan GARUDA Wanita Indonesia

Ilustrasi Cut Nyak Dhien pada lembar uang RI

Pada 11 desember 1901 Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriatmaja yang digelari “Pangeran Mekah” menerima tahanan Politik dari pemerintahan Hinda Belanda.

Sang Bupati sedikit heran menerima titipan tahanan politik tersebut. Bupati berpikir akan mendapatkan Tahanan Politik yang Gagah Perkasa, seorang Pejuang yang Tangguh yang mempunyai pengaruh yang besar di daerah asalnya, sehingga perjuangan tahanan politik tersebut bisa memberikan pengaruh negatif akan kekuasaan belanda dalam melakukan penjajahan di bumi Nusantara.

Mungkin sang bupati membayangkan akan dititipi seorang tahanan politik sekelas Pangeran Diponegoro yang terkenal memimpin Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) melawan Pemerintah Hindia Belanda yang tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia.

Pangeran Diponegoro yang tertangkap dan diasingkan dengan operasi licik Belanda dimulai pada tgl 20 Februari 1830 saat sang Pangeran dan colonel cleerens bertemu di remo kamal Begelen (sekarang wilayah Purworejo). Kolonel Cleerens mengusulkan agar Pangeran Diponegoro berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Jendral Markus de Kock dari Batavia.

Pada 28 Maret 1830 Pangeran Diponegoro bertemu dengan Jenderal de kock di magelang dan memaksa berunding dan menghentikan perang. Pangeran Diponegoro menolak tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti.

Hari itu juga Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran kemudian dibawa ke gedung Karisedenan Semarang dan langsung dibawa ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April dan sampai 11 April 1830 dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Musium Fatahillah) sambil menunggu penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van de Bosch. Pada tgl 30 april 1830 keputusan keluar. Pangeran Diponegoro, Raden ayu Retraningsih, Tumenggung Dipasana dan isteri beserta pengikutnya seperti Mertaleksana, Banteng wereng dan Nyai Sotaruna DIBUANG ke Manado dengan menggunakan kapal Pollux pada tanggal Mei 1830 dan ditawan di Benteng Amsterdam dan pada 1834.

Pangeran Diponegoro dipindahkan kebenteng Roterdam di Makassar Sulawesi selatan dan wafat pada 8 Januari 1855 dimakamkan di Jl Diponegoro kelurahan Melayu Kecamatan Wajo empat kilometer di sebelah utara pusat kota Makassar.

Pemikiran Bupati Sumedang akan mendapatkan titipan Tahanan Politik sekelas Pangeran Diponegoro sirna karena hanya mendapatkan Tahanan politik seorang wanita tua renta yang rabun dan memakai pakai lusuh yang hanya itu yang dipunyai melekat di tubuhnya. Sebuah Tasbih tak lepas dari tangannya juga sebuah periuk nasi dari tanah liat.

Perempuan Tua renta itu bersama dua pengikutnya sebagai tahanan politik Belanda. Melihat kondisi tahanan politik yang seorang wanita tua renta dan rabun dan punya penyakit encok, sang bupati tidak tega melihat kondisinya, apalagi dilihat wanita tersebut sangat taat beragama maka sang Bupati tidak menempatkan ibu tua itu ke penjara tetapi dititipkan ke H.Ilyas seorang Tokoh agama di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan tua itu tinggal dan dirawat.

Masyarakat dan Bupati Sumedang tidak tahu siapa nama ibu tua tersebut dan apa dosanya terhadap pemerintah Hindia belanda sehingga tega teganya membuang ke Sumedang dan menjadikan Tahanan politik. Apa kekuatan dan pengaruh si ibu renta tersebut ?. Masyarakat Sumedang banyak yang membawakan makanan dan Pakaian karena menaruh Hormat dan simpati kepada ibu tua tersebut. Sang Ibu tua renta itu sangat anti pemberian makanan, pakaian dan apapun dari pemerintahan Hindia Belanda. Sang ibu tua itu sangat membenci Belanda tampak dari sorot matanya yang rabun dan sikapnya yang keras bila mendengar pemberian dari pemerintah Hindia Belanda. Masyarakat Sumedang menyebut dan mengenalnya sebagai Ibu PERBU.

Ibu Perbu tidak lama mengalami pengasingan di Sumedang dan pada Tanggal 6 November 1908 meninggal dunia dan dimakamkan secara terhormat di Gunung Puyuh sebuah Kompleks pemakaman para bangsawan pangeran Sumedang tak jauh dari pusat kota Sumedang. Sampai wafatnya sang ibu tua, sang Bupati dan masyarakat Sumedang tidak tahu siapa sesungguhnya Ibu Perbu hingga kemerdekaan Indonesia.

 

Ketika masyarakat sudah berganti generasi dan sudah melupakan sosok ibu Perbu perempuan tua yang rabun tersebut, 60 tahun kemudian terungkap siapa sosok sejatinya ibu Perbu tersebut. Yaa Ibu Tua renta yang rabun dan mempunyai penyakit encok tetapi tegar itu ternyata seorang Garuda wanita Indonesia yang Tangguh  dan seorang Pejuang wanita yang ditakuti oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Ibu tua itu adalah “Tjoet Njak Dien”

“Tjoet Njak Dien” seorang Pahlawan wanita Aceh yang telah diasingkan ke pulau Jawa, Sumedang Jawa Barat. Pengasingan itu berdasarkan Keputusan no 23 (Kolonial Verslag 1907:12), dan dengan mudah dipastikan bahwa ibu Perbu itu tak lain adalah “Tjoet Njak Dien” yang diasingkan Belanda bersama seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Tengku Nana berusia 15 tahun.

Pantas saja pemerintahan Hindia belanda harus mengasingkan ke Jawa karena takut pengaruh sang Garuda Wanita Indonesia ini sangat besar di aceh. Proses penangkapan sang Garuda wanita ini tidak kalah liciknya dengan proses penangkapan Pangeran Diponegoro dan khabarnya anak dari sang ibu juga diculik oleh orang orang suruhan pemerintah Belanda.

Masih teringat kata kata sang Garuda wanita Indonesia yang membakar para pengikutnya saat mendengar khabar suaminya Teuku Umar telah gugur di medan perang. Kata kata ini untuk terus melawan penjajahan Belanda. kata kata tersebut berbunyi begini:

“Di tempat itu Arwah Umar (Teuku Umar) akan menyertai kita ! Dari sanalah jugalah kita akan memenuhi tugas tugas kegerilyaan kita seperti yang dilakukan oleh Umar. Kita akan memenuhi perintah Tuhan untuk memerangi Kafir,

Pang La’ot ..Selama aku masih hidup kita kan memiliki KEKUATAN, Perang Gerilya ini akan kita teruskan!!. Demi Allah Polim masih hidup ! Bait Hidup ! Imam Longtoba Hidup !Sultan Daud Hidup ! Imam Longbata Hidup ! Sultan Daud Hidup !. Menantuku Teuku Majet di Tiro masih Hidup ! Anakku Cut Gamblang masih Hidup ! Ulama tanah Abee Hidup ! Pang La’Ot Hidup ! Kita semua masih Hidup! Belum ada yang KALAH.

Umar memang telah syahid ! Marilah kita meneruskan pekerjaannya untuk Agama ! untuk Kemerdekaan bangsa kita ! Untuk Aceh! ALLAHU AKBAR”

Saya saat ini mendengar kata kata sang Garuda wanita itu merinding rasanya betapa hebatnya sang Garuda wanita dengan keyakinan dan kekuatannya membebaskan ibu pertiwi dari cengkraman penjajahan. Dan ternyata angan angan sang bupati Sumedang Pangeran Aria Suriatmaja menerima tahanan politik sekelas pangeran Diponegoro tidak salah, ternyata yang diterima adalah seorang Garuda wanita Indonesia yang ahli dalam bergerilya. (by Satrio).

Tinggalkan komentar