Analisa Awam atas Doktrin Integrated Armed Forces

Tulisan ini merupakan opini awam, jika kurang tepat, terlebih dahulu mohon maaf. Mari berdiskusi secara terbuka….

Integrated armed forces, jika diartikan secara sederhana berarti angkatan bersenjata yang terintegrasi atau terpadu

Integrasi yang diharapkan terjadi berada pada tiga tatanan

1. Joint civil affairs
2. Joint civil-military operations
3. Joint military operations

Bahasanya keren yach… tapi jangan terkesima dengan bahasa, teman. Yang menjadi benang merah keseluruhan konsep integrasi dan aplikasinya pada ketiga tatanan tadi sebenarnya adalah “gotong royong dan tenggang rasa”

Saya tidak bermaksud menyederhanakan masalah, tapi dalam kacamata awam saya itulah esensi dasarnya.

Mari kita telaah bersama

Joint Civil Affairs
Joint civil affairs, dalam bahasa Indonesia diartikan kegiatan yang dilakukan oleh beberapa instansi sipil atau kelompok sipil yang berbeda disiplin ilmu untuk bersama sama mencapai suatu tujuan akhir.

Dalam contoh keseharian sudah diimplementasikan dalam sistim pemerintahan. Tiap kementrian memiliki target pencapaian yang semuanya memiliki tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Contoh aplikasi realnya seperti ini, kementrian pertanian ingin kembali mencapai swasembada beras. Kementrian ini kemudian meluncurkan proyek satu juta hektar lahan baru pada tahun 2015, misalnya. Program Kementrian Pertanian ini harus ditunjang oleh Kementrian Pekerjaan Umum. Kementrian Pekerjaan Umum kemudian meminta data dari Kementrian Pertanian terkait lokasi peruntukkan lahan satu juta hektar tersebut. Di daerah dimana proyek satu juta lahan baru itu akan digarap, di daerah itu pula Kementrian Pekerjaan Umum akan melakukan revitalisasi sistim pengairan guna menunjang suksesnya program satu juta lahan baru tadi.

Kerjasama-nya seharusnya tidak terpaku hanya kepada kedua kementrian itu saja. Kementrian BUMN selaku pengelola BUMN juga memiliki andil menyukseskan program satu juta lahan pertanian baru tadi lewat BUMN yang memproduksi pupuk. Lahan baru berarti penambahan jumlah pemakaian pupuk subsidi. Kementrian BUMN harus memastikan produksi pupuk mereka mencukupi atas penambahan jumlah pupuk yang akan terjadi.

Dan seterusnyaketerkaitan itu akan menemukan polanya tersendiri.Bulog juga pasti harus terlibat, Kementrian Perdagangan juga harus menghentikan kegiatan import beras

Tapi kunci dari Join Civil Affairs ini adalah koordinasi dan kerjasama, saling memahami kepentingan tiap pihak dan saling membantu, teposeliro dan gotong royong

Lalu kaitannya dengan militer apa ?

Masih ingat musibah tsunami Aceh yang lalu, pascamusibah yang diperlukan oleh para pengungsi adalah air bersih, makanan, obat-obatan, tempat berlindung, perawatan kesehatan dan sebagainya.

  Gambar :foto sebuah sudut kota Aceh, beberapa saat sesudah tsunami

Paramedis datang dari berbagai penjuru untuk memberikan bantuan pengobatan, baik yang diturunkan pemerintah maupun yang datang sendiri ke Aceh dengan biaya pribadi.

Bantuan dana, makanan dan pakaian layak pakai berdatangan dari segenappenjurunusantara bahkan dari penjuru dunia, baik lewat udara maupun lewat darat, baik yang dikoordinasikanpengumpulannya oleh elemen pemerintah maupun oleh masyarakat, baik yang dikirimkan lewat koordinasi pemerintah daerah asal sumbangan itu dikumpulkan maupun yang dikirimkan langsung oleh koordinator independen.

Goal-nya, tujuan utama semua pihak yang datang membantu adalah meringankanbeban yang dialamipengungsi tsunami.

Bahkan tokoh Mesir MuhamadMursyi-pun menyempatkan diri datang ke Aceh, tidak lama setelah bencana terjadi

 Gambar :Foto Muhammad Mursyi, posisi paling kiri, dari Mesir yang datang ke Aceh

Dan tak kalah hebatnya, demi mencoba membantu mengurangi stress yang diderita anak anak pengungsi korban tsunami, seniman asli Aceh memberikan pertunjukkan guna menghiburan anak anak itu. Diharapkan dengan hiburan itu, mereka dapat sedikit banyak melupakanpenderitaan hidup mereka, minimal kita bisa melihat senyum kembali terkembang di wajah-wajah tanpa dosa itu

Semua bantuan tadi baik itu berbentuk tenaga ahli, tenaga tanpa keahlian khusus, makanan,obat-obatan,pakaian, air minum dan sebagainya awalnya tidak terkoordinasi dengan baik.Tapi lambatlaunotoritassetempat mulai menemukan pola pengaturan yang efektif untuk distribusi semua jenis bantuan tadi.

Tenaga medis yang awalnyabekerja sendiri sendiri berdasarkan apa yang mereka temui duluan,mengerjakan apa yang terlihat di depan mata, perlahan lahan mulai bekerjaterkoordinasi, mereka menemukan polainteraksinya sendiri.

Tsunami Aceh merupakan contoh join civil affairs yang menemukan sendiri bentuknya ketika diaplikasikan di lapangan, lebih banyak nggak singkronnya ketimbang singkronnya.

Untuk itulah pemerintah kemudian membentuk BNPB, Badan Nasional PenanggulanganBencana dibentuk agar join civil affairs ini bisa lebih terencana dan terkendali, tujuannya cuma satu, memberikan bantuan kepada pengungsi secara efektif dan optimal.

Lebih lanjut, contoh yang sudah diaplikasikanmasyarakat Inggris dalam perang dunia kedua adalah seperti berikut :

Guna menghindari korbanjiwa di kalangan anak-anak akibat pemboman yang dilakukan Jerman atas daerah perkotaan Inggris, maka anak-anak difungsikan ke daerah pedesaanyang terletak jauh dari jangkauan pesawat pembom Jerman.

Anak-anak di perkotaan dikumpulkan, didata lalu dikirim memakai kereta api ke daerah pedesaan. Di daerah tujuan sudah dibentuk tim-tim kecil yang bertugas mengakomodir semua kebutuhan anak-anak tersebut.

Anak-anak tersebut dikelompokkan dalam jumlah 15 hingga 20 orang, ditempatkan dalam 1 buah rumah yang dikelola oleh sukarelawanberjumlah4 hingga 5 orang.Anak-anak tersebut  diperhatikan  kesehatannya, makannya dan pendidikannya, mereka tetap sekolah lho, dan tetap bisa bermain seperti biasanya

Tenaga paramedis yang ditugaskan di desa, sukarelawan di desa itu baik ibu-ibu, laki-laki dewasa, guru-guru, bekerjasama memberikan tempat berlindung, dan membantu anak-anak pengunsi itu melewati masa-masa sulit, dalam era perang, jauh dari orang tua kandungnya., inilah contoh dari joint civil affairs

Join Civil-Military Operations
Kalau ngikutin bahasa Inggris ane yang radacetek, arti dari Joint Civil-Military Operations adalah kegiatan yang dilakukan oleh unsur sipil dan unsur militer secara bersama sama.

Kegiatan ini bisa jadi satu kegiatan dilakukan bersama-sama atau beberapa kegiatan berbeda tapi untuk tujuan yang sama.

Asumsi pertama – Join civil military operations – satu kegiatan yang sama dilakukan oleh unsur sipil dan militer

Masih ingat sejarah perang kemerdekaan kita dulu ?Ibu-ibuber-jibaku di dapurumum, menyediakan makanan untuk para pejuang. Anak-anak secara sukarela menjadi scout, pengintai bagi pejuang kita (masih ingat dengan si Temonkan ? film perjuangan Serangan Fajar). Laki lakidewasa mempersiapkan diri dan persenjataan mereka, berjuang bersama pejuang kita, berperang menghadapi Belanda dan Inggris

Dulu waktu saya SD lebih mengenal doktrin joint civil-military operations ini dengan istilah ‘Pertahanan Rakyat Semesta’… hehehe…

Lalu bagaimana dengan kemungkingan yang kedua ?

Asumsi kedua – Join civil military operations – beberapa kegiatan berbeda tapi untuk tujuan yang sama

Beberapa waktu lalu kita mendengar wacanaakan dibangun ruang bawah tanah di sekitar monas guna menampung tank leopard maupun arsenal tni lainnya, atau wacanamemugarjembatanpenyeberangan di atas jalan tol menjadi underpass.

Itu semua merupakan wacana kerja sama antara sipil dan militer tapi masing masing pihak melakukan kegiatan sendiri sendiri, melakukan kegiatan yang berbeda tapi dengan satu tujuan yang sama.

Militer bilang ke Pemda, “Jakarta harus memiliki titik titik tertentu dimana di titik itu arsenal beroda maupun berantai akan ditempatkan guna memudahkan pergeseran”.Pemda lalu menelaah titik yang dimaksud guna mempersiapkan tempat yang diinginkan.Militer merencanakan titik titiknya, Pemda lalu mengosongkanan lahan pada daerah yang dimaksud, menggusur, membersihkan dan menyiapkan lahan itu, militer tinggal masuk dan menempatilahannya.

Militer bilang ke Pemda, bahwa “gedung gedung tertentu harus mendapatkan perlindungan dari serangan udara, untuk itu militer akan menempatkanbatere-batere artileri pertahanan udara dekat dengan titik titik tersebut”. Militer menganalisa lokasi yang perlu dilindungi, militer belanja alutsistanya, militer melatih prajurit pengawak alutsista tersebut, sedangkan pemda tugasnya menyediakan lahan tempat betere-batere itu nanti akan disebar

Jika kedua penjelasan diatas masih dianggap terlalu ‘konseptual’ maka mudah-mudahan contoh berikut bisa membantu

Masih seputar Tsunami Aceh.
Tenaga paramedis yang turun di Aceh mengerahkan segenap kemampuan mereka memberikan bantuan pengobatan bagi para pengungsi, obat-obatan disuplai oleh pemerintah, tenda didirikan oleh TNI.

Agar dapat bekerja dengan nyaman, dan terhindar dari bencana susulan berupa bakteri yang akan muncul dari mayat-mayat yang membusuk, maka daerah tempat paramedisbekerja harus disterilkan, dibersihkan dari mayat dan diberi bahan anti bakteri.

Di sinilah kemudian militer memegang peranan, pejuang-pejuang ini ditugaskan mengumpulkan mayat, memindahkan, menggalikuburan massal dan menimbun semua mayat itu dalam satu lubang besar.

Interaksi antara tenaga paramedis dan anggota militer merupakan contoh joint civil-military operations

Permasalahan yang timbul di lapanganternyata amat berat, tidak semua mayat tergeletak begitu saja di atas tanah.Ada yang nyangkut di pohon, ada yang tertimbunreruntuhan gedung bahkan banyak juga yang mengambang di atas sungai.

 Gambar :   ilustrasi  korban tsunami

Militer ketika itu niscaya tidak akan sanggup bekerja sendirian, dan seyogyanya militer tidak boleh bekerjasendirian.

Alhamdulillah, terbukti kemudian, kegiatan joint civil-military operations ini kemudian bersentuhan dengan kegiatan joint civil affairs, militer yang membersihkantumpukanmayat mendapatkan bantuan dari masyarakat sekitar maupun sukarelawan dari segenappenjurunusantara.

Kegiatan bahumembaha antara masyarakat Aceh dengan sukarelawan merupakan contoh joint civil affairs.

Komponen Cadangan
Saya baru tersirat, sebenarnya konsep komando cadangan, wajib militer merupakan contoh nyata integrasi sipil dan militer dalam satu kegiatan, mempertahankan negara.

Dan sebenarnya militer bisa mengeksplorasi lebih jauh lagi doktrin join civil-military operations ini.

Jika dulu pihak militer merekrut sendiri prajurit-prajurit yang sebagian akan ditugaskan untuk pengawak truk transportasi, ke depan, tugas itu bisa didelegasikan kepada warga negara yang sehari-harinyaberprofesi sebagai sopir truk muatan. Kendaraan yang relatif sama, skill yang dibutuhkan juga sama, tinggal persiapkan data base sopir yang akan diberdayakan saja.

Jika dulu pihak militer memiliki petugas bagian konsumsi sendiri, ke depan, dalam situasi darurat, pihak militer dapat memberdayakanpemuda-pemuda yang tergabung dalam karangtaruna di lokasi terdekat untuk membantu mereka mempersiapkan konsumsi bagi para pejuang.

Jika dalam film ‘Band of Brother’ kita lihat bahwa pakaiankotordiupahkan kepada pengelola binatu, maka saya kiraibu-ibupkk tidak akan keberatan membantu para tentara dalam menjaga kebersihan seragam mereka.

Bahkan kegiatan para hacker Indonesia menyerang situs-situs Australia boleh jadi merupakan aplikasi join civil-military operations lho, walaupun tidak mendapatkan perintah resmi dan tidak mendapatkan pengkauan dari pemerintah, hehe…

Ketika perang dunia kedua, para wanita Inggris, ibu-ibu rumah tangga, dikerahkan untuk bekerja di pabrik amunisi, guna menunjang kebutuhan logistik perang. Hal ini terpaksa dilakukan karena laki-laki dewasa Inggris sebagian besar dikirim ke medan pertempuran, hanya laki-laki manula dan anak-anak yang tersisa

blank

Gambar :wanita Inggris bekerja di pabrik bawah tanah LongbridgeShadow Tunnel

Joint Military Operations
Joint military operations, dari frasa yang dipakai sudah bisa ketebaknih bahwa tatanan aplikasi integrated armed forces yang ketiga ini melulu ranah militer yang berperan, tanpa ada peran sipil di dalamnya.

Penjelasannya, kurang lebih begini :

Jika dulu pada waktu perang dunia pertama, peperangan matra darat tidak didukung oleh pesawat tempur.Infantri berperangsendirian, hanya dibantu artileri.Brigade mekanis bahkan belum menemukan bentuknya.Berperang dari parit ke parit, lebih mengandalkan jumlah pasukan ketimbang strategi

Seiring berkembangnya waktu, pada perang dunia kedua, doktrin tempur berubah.Brigademekanis kemudian berdiri sebagai elemen pemukul utama, infantrimensupportdivisi ini dari belakang.Jerman mempelopori berkembangnya brigade mekanis.Infantri yang dulu berperang sendiri sekarang ada tamengnya, brigade mekanis.

Infantri sekarang tidak lagi berperangsendirian, tidak melulu cuma di-support bantuan tembakan dari artileri, namun di perang dunia kedua, berkembang doktrin close air support. Close air support, CAS, di TNI istilah yang dipakai adalah Support Udara Langsung, SUL adalah bantuan serangan terhadap unsur darat pasukan lawan oleh wing penerbang kita. CAS/SUL akan diberikan ketika infantri merasa terdesak oleh kekuatan darat musuh atau boleh jadi diturunkan duluan guna melemahkan kekuatan lawan.

Jerman secara optimal memberdayakan pesawat pembom tukik mereka, Stuka dalam memberikan Support Udara Langsung bagi pasukan infantri mereka.Artinya, matra udara Jerman ikutanngebantuin matra daratnya dalam melakukan penyerangan.

blank

Gambar : wing Stuka Jerman pada perang dunia 2

Sejarah kita membuktikan DC 3 Dakota dipergunakan TNI AU sebagai Gun Ship, memberikan tekankan psikologis bagi fretilin pada saat operasi militer di Timor Timur.

Gambar :Pose awak AC-47 Gunship TNI AU saat operasi Seroja

Ketika pasukan infantri melakukan penyerbuan pada posisi fretilin, dari atas, TNI AU memberikan bantuan tembakan dari ‘pesawat meriam’ mereka, DC 3 Dakota, atau lebih dikenal AC 47, AC merupakan singkatan dari Attack Cargo

Nah… itu contoh kerjasama beberapa matra dalam satu operasi, teman

Di era damai ini, kerjasama beberapa matra bisa kita temui dalam latihan gabungan yang digelar TNI.

Untuk skala yang lebih kecil, kerjasama beberapa matra militer bisa kita temui dalam operasi bersama unit-unit pasukan khusus.

Dewasa ini selain masalah disintegrasi bangsa yang dipelopori pihak ASU terhadap negara kita, (dibuktikan dengan makin maraknyaseparatisme), masalah terorisme tetap merupakan permasalah besar yang dihadapi TNI dan Polri.

Seperti yang telah dibahasnarasumber dan teman-teman pembacaJakarteGreaters pada artikel “Militer dan Kepolisian Berbeda Doktrin Penanggulangan Terror”, sebenarnya bentuk joint military operations bisa dan sudah diterapkan TNI dan Polri dalam memerangiterorisme.

Masalahnya masih kurang “teposeliro” dan masih kurang “gotong royong”.Masalah rivalitas menjadi faktor penghambat.TNI merasa canggung untuk berada di bawah kendali Polri ketika satuan khusus TNI diperbantukan dalam penumpasanterorisme, dan Polri merasa rikuh, khawatir dianggap tidak mampu ketika harus meminta bantuan kepada pihak TNI.

Jika kita hanya berpegangan pada hasil akhir, mengatasi terorisme, niscaya tidak akan ada dua pemikiran di atas. Jika semua meninggalkan bajuseragamnya, maka yang kelihatan tinggal kulitIndonesianya. Tinggal masalah teposeliro sebenarnya yang akan menjadi lemperekat sekaligus minyak lubrikan interaksi semua matra dalam memerangiterorisme.

Karena sebenarnya bukanlah hal baru bagi TNI berada di bawah BKO Polri, contohnya pada saat pengamanan pemilu, personel TNI di perbantukan ke dalam kegiatan Polri dalam bentuk Bantuan Kendali Operasi.

Nah, dari serangkaian penuturan di atas kita sudah melihat implementasi dari doktrin Integrated Armed Forces, baik civil affairs, civil-military maupun military operations. Waktu yang akan membuktikan bagaimanakahimplementasi doktrin ini di ketiga tatanan tersebut.

Akankah TNI mengaplikasikan doktrin Integrated Armed Forces ini dalam ketiga tatanan, (civil, civil-military dan military operations)ataukahwacana doktrin ini hanyalah kata pengantar dari TNI untuk sekedar meng-implementasi-kan joint military operations saja ?

Waktu yang akan membuktikan… (by : Afiq0110)

Sharing

Tinggalkan komentar