Ken Liem Laheru, antara “Jus Soli dan Jus Sanguine”

Ken bersama teman-teman di ITB-nya membangun Roket

Liem Kengkie atau Ken Liem Laheru dilahirkan pada tanggal 23 Agustus 1935 di Kadugede, Kuningan, Jawa Barat dari ayah bernama Liem Swie Ho dan ibu bernama Tan Pin Nio. Beliau lulusan Sekolah Menengah Kristen. Beliau pernah kuliah satu tahun di Jurusan Mesin, Institut Teknologi Bandung, sebelum akhirnya diterima di program studi Teknik Mesin di RWTH Aachen, Jerman Barat, untuk mengejar impian menjadi seorang insinyur aeronautika yang mampu merancang dan membangun pesawat terbang. Beliau mendapatkan gelar Diplom Ingineur (Dipl.-Ing) bidang aeronotika pada tahun 1960. Selanjutnya, beliau bekerja sebagai peneliti di Berlin Charlottenburg University. Ken Laheru sendiri studi di Jerman dengan biaya DAAD (pertukaran mahasiswa Indonesia-Jerman).

Keinginan yang kuat untuk mendidik generasi muda Indonesia membuatnya kembali ke Bandung, dan mengajar di Jurusan Mesin ITB bersama Oetarjo Diran pada 1961. Bersama sahabat terbaik dan koleganya Dr. B.J. Habibie, beliau mendirikan Sekolah Pengembangan Industri. Sekolah ini didedikasikan untuk pengembangan dan kemajuan industri pesawat terbang Indonesia, dan pelatihan insinyur penerbangan. Beliau dan Prof. Diran adalah salah satu pendiri Sekolah Teknik Mesin dan Dirgantara ITB.

Beliau bertemu Hilda pada bulan Mei 1962, dan keduanya menikah pada 16 Desember 1963 di Bandung. Pasangan ini memiliki tiga anak bernama Joshua, Daniel dan Suenya (Wenny). Keluarga beliau pindah ke Amerika Serikat pada 1 Mei 1969 pada saat terjadi kerusuhan politik di Indonesia.

Sedikit cerita Prof. Diran tentang kepergian Dr. Kiem ke Amerika.

Beberapa tahun kemudian, setelah adanya kerusuhan terhadap kelompok masyarakat keturunan (sekitar tahun 1969), Pak Liem Kengkie datang kepada saya. Dengan agak tersendat beliau menyatakan bahwa beliau terpaksa harus hijrah ke Amerika Serikat dengan alasan bahwa masa depan keluarganya memerlukan jaminan keselamatan, kenyamanan dan kesempatan hidup yang layak, yang diperkirakannya tidak mungkin akan diperolehnya di Indonesia. Keputusan pergi ini berat sekali bagi beliau dan keluarganya karena mereka adalah orang Indonesia yang lahir di Indonesia. Beliau mengatakan filosofi jus soli (kewarganegaraan berdasar tanah kelahiran) dan jus sanguine (kewarganegaraan berdasar keturunan).

Beliau biasanya menjadikan pegangan jus soli: dilahirkan di Indonesia, dus, orang Indonesia. Namun dalam keadaan ini, beliau terpaksa berpegangan pada jus sanguini, bahwa beliau adalah keturunan non-pribumi. Dan, keterkaitan daerah menjadi penting adanya ketika itu. Sekedar sebagai penguat diri yang saat itu tengah tertekan keadaan, beliau minta maaf dan merangkul saya, dan berkata, “Verzeihen sie mir, ich musse gehen.” Yang berarti maafkan saya, saya harus pergi. Beliau juga mengucapakan sepatah dua patah kata karya Goethe yang berbunyi kira-kira, “Was is das herz des menschens, dich (Indonesia) zu verlassen, den ich so liebe, und froh zu sein.” Artinya, bagaimana hati seorang manusia (yang) meninggalkan Indonesia, yang ku cinta yang (sebenarnya), senang menjadi (orang Indonesia).

Ken Laheru (Kanan) bersama temannya yg tergabung dalam DAAD

Saat itu saya tidak mencoba menghalanginya karena memang agaknya keputusan hijrah ini sudah mutlak dijadikan arah jalan hidup beliau dan keluarga. Beliau kemudian keluar dari ruangan saya, dan menutup pintu. Sisanya tinggal sejarah.

Pada 1980an, saya bertemu kembali dengan Kengkie setelah 20 tahun hanya berhubungan melalu isurat dan temu muka pada saat-saat yang langka. Beliau masih merasa berterima kasih kepada masyarakat dan tempat kelahirannya. Namun, dengan keluarga yang besar, dan kemampuan serta pengalamannya yang diperoleh di Morton Thiokol, beliau terpaksa mengambil keputusan logis bahwa kebutuhan Indonesia (dan kepentingan keluarga dengan anak-anaknya yang menjelang remaja) mengharuskannya untuk tidak kembali ke Indonesia. Dengan demikian, kita berpisah kembali, di kamar kerja saya yang saya huni selama puluhan tahun lamanya, dan kali ini, ternyata untuk selama-lamanya.

Penuturan Hilda, Isteri Dr. Ken…..

Ken bersama Hilda menghadiri acara Kenegaraan Prof. Habibie saat menjabat sebagai Presiden

Ken sama sekali tidak tertarik dengan politik, dan beliau sama sekali bukan anggota partai apapun. Beliau hanya tertarik dalam pendidikan. Tetapi, politik Indonesia pada pertengahan 60an mulai kacau balau. Ketidakpastian politik disebabkan juga oleh kesehatan Bung Karno terus memburuk. Gerakan pro dan anti Soekarno ada di mana-mana, dan ada kabar angin bahwa Bung Karno akan digulingkan (coup-d’etat). Puncak dari kekacauan politik terjadi pada tanggal 30 September 1965. Itu merupakan awal mula pembunuhan berdarah tujuh perwira TNI, dan awal mula ’perburuan tukang sihir’ (witch hunting) di semua institusi pemerintahan, termasuk ITB.

Ken sayangnya tidak menyadari bahwa institusi tempat dia mengajar (sekolah transisi untuk siswa Tionghoa dan Universitas Trisakti) didanai oleh Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki. Baperki dituduh sebagai anak organisasi Partai Komunis Indonesia oleh pemerintahan orde baru (Pemerintah Orba).

Sangat jelas dalam ingatan bahwa pada satu senja pukul 6, kolega Ken dari ITB bernama Mas Kamaludin datang ke rumah. Kamaludin adalah dosen yang lugas, dan beliau jelas-jelas tidak suka dengan gerakan anti-Soekarno. Beliau mengatakan kepada Ken bahwa beliau diinterogasi, dan beliau harus menyebutkan bahwa Ken mengajar di dua institusi yang didanai Baperki. Beberapa waktu kemudian, Ken mengetahui bahwa Mas Kamaludin ditangkap dan dibuang ke pulau Buru di Maluku.

Karena khawatir dengan keselamatan keluarga, Ken segera menghubungi teman dekatnya B.J. Habibie (Ken memanggilnya Rudi), yang saat itu masih bekerja di Jerman Barat. Ken meminta bantuan Rudi untuk dicarikan pekerjaan di sana. Rudi berhasil mendapatkan dua tahun kontrak untuk Ken di Hamburger Flugzeugbau (kemudian berubah nama menjadi Messerschmitt Bölkow Blohm) tempat Rudi bekerja.

B. J. Habibie dan Ken saat belajar di Jerman Barat

Dengan surat kontrak yang dikirimkan Rudi itu, Ken pergi ke Kementerian Pendidikan di Jakarta (dulu namanya P dan K), dan dapat surat persetujuan. Tetapi, Ken masih harus mendapat surat persetujuan dari ITB. Kemudian, ketahuan bahwa di ITB, surat Ken ditolak dengan dua suara. Sejak saat itu, saya selalu membayangkan ini: seandainya Ken diijinkan terbang ke Jerman dan bekerja dengan Rudi saat itu, saya yakin Ken akan kembali pulang ke Indonesia bersama Rudi pada 1974 untuk mendirikan industri penerbangan. Tetapi, keberuntungan masih belum berpihak kepada Ken.

Setelah gagal pergi ke Jerman dan kenyataan bahwa keluarga kami berada dalam situasi bahaya, Ken mencari kemungkinan lain, yaitu imigrasi ke Amerika Serikat. Ken mengatakan kepada kami bahwa meninggalkan ITB dan negerinya adalah saat paling menyedihkan dalam hidupnya. Tetapi, itu semua karena keadaan politik yang tidak menentu, dan kekhawatiran akan keselamatan keluarganya.

Menjalani hidup baru di AS

Ken menjadi warga negara AS pada 1974, dan dinyatakan ’meninggal’ di Indonesia (menurut kabar dari teman-temannya di ITB). Dengan pemikiran yang mendalam, Ken mengubah namanya sendiri dari Liem Kengkie menjadi Laheru (Lahir-Baru). Nama keluarganya, Liem, menjadi nama tengahnya. Nama barunya adalah ’Ken Liem Laheru’.

Seperti disebutkan sebelumnya, Ken sangat berminat dalam pendidikan dan beliau adalah guru yang berdedikasi tinggi. Kecintaannya adalah mengajar, bukan politik. Bahkan, ketika bekerja di Thiokol Aerospace (sekarang bernama ATK), salah satu hobinya adalah memberikan tutorial bagi siswa SMA untuk pelajaran-pelajaran yang mereka paling perlukan.

Kembali lagi ke awal cerita…

Beliau diterima dalam program doktoral di teknik mesin di University of Utah di Salt Lake City, Utah. Beliau mendapat gelar Ph.D. dalam bidang mekanika retak dengan disertasi berjudul: “Thermomechanical Coupling in Visco-Elastic Fracture”. Dr. Laheru aktif menulis jurnal ilmiah internasional. Sebagian diterbitkan sebagai laporan teknik di NASA (misalnya: Thermomechanical coupling in fatigue fracture of viscoelastic materials, NASA Technical Report, 1975).

Morton Thiokol (Sekarang ATK)

Setelah menyelesaikan program Ph.D., beliau dan keluarganya pindah ke Brigham City, Utah, di mana beliau bekerja sebagai insinyur senior atau ilmuwan bidang desain di Morton Thiokol (kini bernama ATK). Selama 30 tahun karirnya, beliau membantu pengembangan suatu metode untuk memprediksi perambatan retak pada struktur roket serta mengembangkan model baru untuk memahami dan memprediksi perilaku roket propelan padat. Beliau pensiun dari Morton Thiokol pada bulan September 2001. Beliau dan istrinya kemudian pindah ke North Salt Lake, Utah.

Sejak kecil beliau gemar belajar, dan mempunyai banyak hobi termasuk kecintaan terhadap Bahasa asing. Beliau adalah penutur asli bahasa Indonesia dan Sunda. Beliau fasih berbahasa Belanda dan Jerman, dan memahami percakapan dalam bahasa Norwegia, Spanyol, Italia, Prancis dan Jepang. Selain itu, beliau memiliki apresiasi mendalam terhadap musik, dan senang bermain tenis serta ski bersama anak-anaknya atau teman. Beliau juga suka berbagi pengalaman hidup dengan keluarganya dan teman-teman dan untuk menemukan makna dan positif dalam segala hal. Beliau orang yang baik dan lembut.

Dr. Ken L. Laheru wafat pada 2 Mei 2011. Disemayamkan di Saint Olaf Gereja Katolik, Bountiful, Utah pada hari Sabtu, 7 Mei, 2011.Selamat Jalan Dr. Ken L. Laheru terima kasih sudah membantu membangun bangsa ini, semoga arwah beliau diterima disisi Tuhan YME.

(Sumber : 50 Tahun (1962-2012) Aeronautika & Astronautika ITB dan Friend)

Leave a Comment