Sep 222018
 

Operation ‘Market Garden Operation,17 – 25 September 1944. (photo: Midgley (Sgt), No 5 Army Film & Photographic Unit)

Penulis : Prasta Kusuma, S.IP
Alumni Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD

“17 September!” teriak para warga Belanda ketika pasukan payung Amerika ditarik mundur menuju camp di Mourmelon-Le Grand Prancis, melalui Nijmegen, Uden, Veghel, dan Eindhoven sambil berbaris di samping jalan. Para tentara payung Amerika tersebut merupakan bagian dari 1st Alied Airborne Army yang ikut terjut di Belanda dalam operasi Market Garden.

2 Divisi Payung Amerika (US 82nd dan 101st Airborne) ditambah 1 Divisi Payung Inggris , British 1st Airborne, yang diperkuat oleh 1st Polish Airborne Brigade.

Operasi terjun payung ini merupakan serangan dari udara untuk menduduki beberapa jembatan strategis di Belanda yang disebut Market. Operasi Market ini dikomandoi oleh Lieutenant General Lewis H. Brereton yang bermarkas di Nijmegen setelah penerjunan berlangsung. Sementara Garden adalah operasi darat yang diujung tombaki oleh British XXX Corps yang dipimpin oleh Lieutenant General Brian Horrocks.

Rencana dari operasi Market Garden ini cukup sederhana, duduki jembatan Strategis diantara Eindhoven hingga Arhem oleh pasukan lintas udara sehingga pasukan darat bisa malalui jalan yang sudah disiapkan oleh pasukan lintas udara tersebut tanpa hambatan sehingga bisa bisa mencapai Arhem dalam tempo waktu 48 jam saja.

Operasi militer yang dirancang oleh Field Marshal Bernard Montgomery ini memang dinilai nekad karena keberhasilan hanya dihitung dari ketepatan waktu hingga hitungan detik, tercapai nya unsur pendadakan, kenekadan dalam bertempur hingga, nasib baik terutama sekali faktor cuaca.

Jika berhasil, nantinya akan terdapat pasukan lapis baja Inggris di utara Jerman dengan sebuah jalan terbuka menuju Berlin dan kawasan industri senjata Jerman di Ruhr dimana perang akan dengan cepat berakhir sebelum natal 1944.

Namun jika gagal, akibatnya adalah terbuang  nya salah satu asset pasukan sekutu paling berharga yaitu kekuatan Airborne, sebuah wilayah tambahan yang harus dipertahankan, dan krisis pasokan karena hingga September 1944, pelabuhan terbesar di Eropa Barat, Antwerpen masih berada ditangan Jerman.

Pasukan Payung sendiri merupakan asset berharga karena bisa dibilang pasukan payung ini merupakan salah pasukan elit dengan kualitas terbaik, dirancang untuk membuat terobosan yang menentukan, dan juga memiliki mobilitas yang sangat luwes karena bisa di drop dimana saja pasukan ini dibutuhkan. Namun pasukan payung bukanlah tipikal pasukan untuk bertempur untuk dalam waktu jangka panjang.

Pasukan payung dilatih sebagai pasukan penyerang ringan, dengan terkanan diberikan pada gerak cepat, manuver yang berani, dan dipersenjatai dengan senjata ringan dan logistik yang sedikit pula . Karenanya pasukan payung tidak cocok untuk mempertahankan sebuah wilayah dalam jangka panjang tanpa supply dan bantuan yang memadai.

17 September, Operasi market Garden resmi dimulai dengan menerjukan 41,628 pasukan lintas udara di wilayah pedalaman Belanda yang didukung oleh 1438 pesawat Dakota C-47, 321 pesawat pembom Inggris yang dimodifikasi untuk mengangkut pasukan payung, 2160 Glider CG-4A Waco, 916 Glider Horsa, dan 64 General Aircraft Hamilcars.

Namun, selain pasukan Inggris yang dengan cepat berhasil menguasai jembatan di Arnhem, pasukan Amerika di Eindhoven dan Nijmegen mengalami kesulitan dalam menguasai Jembatan.

Divisi 101st Airborne memang dengan cepat menguasai Eindhoven tanpa halangan berarti, namun ketika unsur-unsur Batalyon 2 PIR 506 mendekati jembatan di Son, jembatan tersebut diledakan oleh pasukan zeni Jerman yang mempertahankan jembatan tersebut. Konsekuensi nya, ketika XXX corps mendekat, kemacetan terjadi hingga jembatan ponton di Son berhasil diperbaiki.

Sementara itu di Nijmegen, Pasukan Amerika hanya berhasil menguasai sisi Selatan jembatan, sementara sisi utara berhasil dipertahankan mati-matian oleh unsur-unsur Korps panzer SS II pimpinan Wilhelm Bittrich.

Di ujung Utara, Batalyon 2 dari Divisi Airborne 1 Inggris dibawah pimpinan Letkol John Frost yang menduduki ujung Timur Jembatan Arnhem mulai mendapat serangan balik dari pasukan Divisi SS ke-9 Jerman. Walau berhasil menahan serangan balik ini, pasukan Frost terputus dari pasukan inti mereka dan terpaksa bertahan sendirian hingga pertempuran berkahir.

Dukungan udara juga sangat minim  karena masalah komunikasi dari pasukan darat, sehingga walau Sekutu mempunyai Air Superiority, dukungan CAS dan penyaluran logistik dari udara sangat tidak efektif dalam operasi ini.

Serangan balik Jerman juga semakin hebat diseluruh front. Front yang disebut sebagai jalan neraka oleh pasukan payung sekutu ini mendapat serangan balik dari pasukan Jerman yang bertahan di wilayah Belanda.

Pasukan payung sekutu terus bertahan sekuat tenaga. Di Nijmegen, unsur-unsur pasukan dari Batalyon-3 PIR 504 Divisi 82nd Airborne pimpinan Mayor Julian Cook melakukan serangan gagah berani dengan menyebrangi sungai Waal disiang bolong menggunakan perahu pada tanggal 20 September untuk mengambil ujung jauh jembatan Waal Nijmegen yang masih berada ditangan Jerman.

Walau memakan banyak korban (hanya 11 dari 26 perahu yaang sukses menyeberangi sungai Waal), serangan yang mendapat banyak pujian dari pihak Sekutu ini sukses mengusir pasukan Jerman diujung Jembatan Waal di Nijmegen tersebut sehingga pasukan XXX Corps dapat melalui jembatan tersebut.

Akan tetapi pasukan XXX Corps ini tidak langsung mendesak maju menuju Arnhem yang hanya 11km lagi dari Nijmegen itu. Mereka berhenti dengan alasan karena malam hari tiba dan sebagian unit Infantri mereka masih tertahan di belakang Nijmegen.

Hal ini membuat orang-orang Mayor Cook dari PIR 504 yang telah berjuang hebat dan mengalami kerugian besar dalam merebut jembatan Waal tersebut marah karena pasukan Inggris tersebut tidak maju mendesak ke Arnhem, dimana rekan-rekan senegara mereka sedang bertempur mati-matian mempertahankan Jembatan disana.

Pada malam tanggal 20 September tersebut, kondisi Batalion 2 Letkol Frost juga sudah sangat kepayahan ditengah gempuran tank dan artilery dari pasukan divisi SS ke 9 Jerman, dimana keesokan harinya  Letkol John Frost terpaksa menyerah karena kondisi pasukannya sudah sangat parah dan  amunisi yang sudah habis.

XXX Corps yang gagal merangsek ke Arnhem juga mengakibatkan Divisi Airborne 1 Inggris yang telah berjuang 9 hari tanpa bala bantuan di Arnhem akhirnya menarik diri keluar dari Arnhem melalui operasi Berlin yang dirancang Major General Roy Urquhart mulai tanggal 25 September hingga 26 September.

Dari total 10,095 prajurit yang mendarat di Arnhem, hanya  2,163 pasukan payung inggris, 160 orang polandia, dan 75 orang dari 4th Dorset yang berhasil dievakuasi menuju Driel dimana unsur-unsur XXX Corps (43rd Wessex Division), telah berada di kota yang sudah sangat dekat dengan Arnhem ini.

Hasil dari operasi Market Garden ini adalah tidak adanya hasil taktis maupun strategis yang dicapai oleh sekutu. Mereka malah sekarang memiliki sebuah wilayah sempit ditengah tengah pusat pertahanan Jerman yang hanya memiliki satu jalur pasokan (jalan ton neraka) dan harus dipertahankan.

Bagi Divisi Airborne 1 Inggris ini merupakan bencana karena mereka harus kehilangan 8000 pasukan terbaiknya. bagi Divisi 82 dan 101 Airborne Amerika operasi ini merupakan sebuah penderitaan karena mereka harus bertahan ditempat tersebut selama kurang lebih 2 bulan hingga satuan-satuan Kanada mulai mengganti posisi mereka di akhir bulan November 1944.

Terbuangnya percuma Asset Airborne sekutu dan juga kegagalan operasi ini menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi tentara sekutu di Eropa Barat. Apalagi dengan hampir seluruh logistik mereka dipusatkan dalam operasi Market Garden, pasukan sekutu dihadapkan dengan krisis pasokan setelah mereka juga gagal dalam operasi membebaskan pelabuhan Anterwepn.

Bagikan:

  11 Responses to “17 September : A Bridge is Too Far…!!”

  1.  

    Berarti ini sudah pasti tanpa sovyet? Inggris beserta rombongan hanya menjadi pecundang
    😀 😆

  2.  

    Saya menonton beberapa film perang…
    salah satunya ya ini… dan sebenarnya intinya adalah ambisi dari ide jenderal Inggris yang harus di tanggung oleh USA…
    Bahkan kalau mengikuti serial Band of Brothers, perang yang dialami pihak USA tidak sedahsyat yang dialami oleh pihak Soviet…

    •  

      Perhatian hitler bukan dibelanda atau dinormandi yg tdk memiliki potensi, tapi perhatian hitler ada di balkan yg akan digempur sovyet dgn seni operasinya, dgn demikian armada nazi beserta pasukannya lbh banyak dikirim ke balkan, oleh karna itu tanpa sovyet? Inggris beserta rombongan hanya sbgi pecundang,
      Tapi nazi & sekutu sebelumnya sudah banyak kalah di perang kurks & banyak kehilangan armada besrta pasukannya
      😀 😆

      •  

        ah mosok sihh….

        huha rupanya ga baca cerita, ketika hitler kumpulin seluruh korps nya utk menggebrak sekutu lewat hutan ardenes.

        waktu itu sekutu kalang kabut.
        tpi untung jumlah air supportnya banyak.
        ditambah inggris yg berhasil memasang turret di shermannya namanya firefly, sanggup jebolin tiger tank dari front.
        tak hanya itu artileri sekutu sudah pakai tracer ammo dan wp, yg kemudian asapnya terhisap kedalam inlet mesin sehingga mesin jadi mogok.

        jadi mana omongan huha yg hanya terbukti di planet namek.hahaha

      •  

        Hdeuuuh… Tuoooobaaaaat

        D Day Normandy dan serial seterusnya ada karena Stalin “Mengemis2” minta dibikinin front kedua oleh sekutu karena udah ga kuat

        udah deh ga usah hiperbola sama kekuatan Soviet.. 🙂

  3.  

    all in all strategy, masuk ke lobang gelapnya hitler……aka hitler black hole.

    maklum sebenarnya operasi ini berjalan mulus krn sudah masuk ke dalam rencana hitler, klo sekutu ketika landing di normandy akan terus maju sampai berlin, krn berpacu dgn soviet.
    berhubung pelabuhan yg deep water hanya di antwerp, sedang yg lainnya sudah dipasangi ranjau laut.
    sampai pada akhirnya battle of bulge yg sekutu mengalami kekalahan.

  4.  

    Menurut prediksi. Tidak lama lagi akan ada perang ang lebih dahsyat.

  5.  

    “I do not believe in the Airborne Division…”
    General D. Eisenhower

 Leave a Reply