Trump Tuding Rusia Bantu Korut Hindari Sanksi Internasional

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ( j sasseen – @seniorchief76)

Washington, Jakartagreater.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Rusia pada rabu 17 Agustus 2018 telah membantu Korea Utara untuk mengelak dari sanksi internasional. “Rusia tidak membantu kami sama sekali terkait Korea Utara,” kata Presiden Donald Trump dalam wawancara dengan Reuters.

“Rusia menghancurkan apa yang telah dilakukan oleh China untuk membantu kami,” kata Presiden Donald Trump. China dan Rusia sama-sama menyetujui sanksi yang dijatuhkan oleh Dewan Keamanan PBB terhadap Korea Utara pada tahun 2017 lalu.  Presiden Donald Trump juga mengaku meragukan manfaat perundingan langsung dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Padahal pada masa lalu Trump mengatakan bahwa dia ingin bertemu langsung dengan Kim. “Saya tentu saja akan duduk bersama dengan dia, namun saya tidak yakin apakah pertemuan itu akan berhasil memecahkan masalah,” kata dia, sambil menambahkan bahwa perundingan antara presiden Amerikat sebelumnya dengan Pyongyang telah gagal menghentikan program nuklir dan Rudal Korea Utara.

Presiden Donald Trump menyalahkan 3 presiden sebelumnya, Bill Clinton, George W. Bush, dan Barack Obama, terkait krisis di Semenanjung Korea. Presiden Donald Trump menolak menjawab pertanyaan apakah dia pernah terlibat komunikasi dalam bentuk apapun dengan Kim. Kedua tokoh ini secara terbuka sering saling menghina dan mengancam, sehingga memperparah ketegangan kawasan.

Presiden Donald Trump berharap perseteruan dengan Pyongyang bisa diselesaikan “dengan cara damai, meskipun sangat besar kemungkinan tidak bisa.” Saat ditanya apakah Amerika Serikat membutuhkan sistem pertahanan Rudal yang lebih besar, Presiden Donald Trump menjawab, “ya, tentu saja.

Kami tengah memesan Rudal untuk pertahanan yang lebih banyak, dan juga Rudal untuk serangan.” Presiden Donald Trump memuji China karena telah membatasi pasokan minyak dan batu bara kepada Korea Utara. Namun Presiden Donald Trump menilai Beijing seharusnya bisa berbuat lebih banyak.

Gedung Putih pada pekan lalu menyambut baik kabar yang menyatakan bahwa impor China dari Korea Utara pada Desember 2017 tahun lalu turun tajam sampai ke level terendah sejak awal 2014. Tetapi turunnya angka perdagangan itu justru diimbangi oleh naiknya aktivitas dagang antara Korea Utara dengan Rusia.

Pada Desember 2017, sejumlah sumber Reuters mengatakan bahwa kapal-kapal minyak dari Rusia telah mensuplai bahan bakar kepada Korea Utara sedikitnya 3 kali sepanjang beberapa bulan terakhir. Dengan demikian Rusia diduga melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan sanksi internasional. Rusia sendiri membantah tudingan tersebut.

Korut sangat bergantung pada impor bahan bakar untuk memutar roda perekonomian yang berjalan lambat. Mereka juga membutuhkan minyak untuk program pengembangan nuklir dan Rudal kendali antar benua. Sementara itu Andrew Weiss, dari lembaga studi Carnegie Endowment for International Peace, mengatakan bahwa Moskow tidak terganggu oleh program nuklir dan Rudal dari Pyongyang.

“Dia dan (Presiden Rusia Vladimir) Putin sulit bekerja sama untuk memecahkan krisis Korea karena keduanya tidak punya kepentingan yang sama,” kata Weiss. Presiden Donald Trump menyatakan Pyongyang sudah hampir mempunyai kemampuan untuk menembakkan Rudal yang bisa mencapai Amerika Serikat. “Mereka saat ini memang belum bisa, namun hampir bisa,” kata dia.

Pada November 2017 lalu usai meluncurkan uji coba Rudal antar benua, Korea Utara mengatakan bahwa pihaknya mampu menyasar daratan Amerika Serikat. Berdasarkan lintasan Rudal dan jarak terbang, sejumlah pakar menilai Rudal dari Pyongyang mampu terbang sampai ke Washington. (Antara/Reuters)

Sharing

Tinggalkan komentar