Bila Sebut “F-35” Lagi, Perwira Militer Jerman Terancam Dipecat

Jet tempur generasi kelima, F-35 Lightning II. © CC0 by skeeze via pixabay.com

JakartaGreater.com – Seiring Jerman terus mempertimbangkan opsi untuk mengganti jet tempur Tornado tuanya, Kepala Staf Angkatan Udara (Luftwaffe) Jerman, terancam dipecat jika mengucapkan kata-kata “F-35” ke publik lagi, menurut laporan baru-baru ini, seperti dilansir dari laman Sputnik News.

“Sumber dari Luftwaffe berkata kepada saya, apabila Kepala Staf Angkatan Udara Jerman mengatakan ‘F-35’ sekali lagi, kemungkinan besar dia akan dipecat. Tampaknya kepemimpinan politik masih belajar menuju solusi Uni Eropa termasuk upgrade Typhoon berkemampuan nuklir atau jet tempur Eropa yang baru”, menurut jurnalis dan pakar pertahanan Jerman, Christian Theils dalam sebuah cuitan twitter tanggal 30 Januari.

Pada bulan November lalu, Kepala Staf Luftwaffe, Letjend Karl Muellner berkata bahwa Angkatan Udara Jerman membutuhkan jet tempur “generasi kelima” untuk memenuhi kebutuhan secara keseluruhan, yang secara luas dipandang sebagai salah suatu sinyal terkuat bahwa Jerman bermaksud mengakuisisi jet tempur siluman F-35 buatan AS.

Muellner mengisyaratkan lebih jauh bahwa jet tempur generasi berikutnya memerlukan “low-observable” dan mampu mengidentifikasi serta menyerang sasaran dari kejauhan. Oleh sebab itu Luftwaffe Jerman mengirimkan permintaan informasi untuk F-35, F-15, F/A-18 dan Typhoon. Dari beberapa pesawat tempur tersebut, F-35 merupakan satu-satunya pesawat yang memenuhi kriteria sang Jenderal, sebagai jet tempur “generasi kelima”.

Pejabat Jerman, lantas mencoba menjauhkan diri dari preferensi Muellner pada F-35.

Wakil Menteri Pertahanan Jerman, Ralf Brauksiepe pada bulan Desember menyatakan bahwa Berlin melihat Eurofighter Typhoon sebagai opsi utama menggantikan Panavia Tornado yang diproduksi Jerman, sedangkan F-15, F/A-18 dan F-35 hanyalah “pilihan sekunder”.

Pengadaan F-35 dapat meracuni secara politis sehubungan pengumuman tahun lalu perihal pesawat tempur generasi kelima yang dikembangkan bersama Prancis-Jerman yang kemungkinan bisa digabungkan dengan lebih banyak mitra Eropa.

Akan tetapi, jet tempur generasi kelima sangat mahal untuk dirancang, dibangun dan diproduksi bahkan sejumlah analis merasa skeptis bila Prancis dan Jerman akan dapat membiayai aspirasi ini tanpa mengorbankan anggaran mereka untuk program sosial.

Salah satu masalah dengan membeli jet tempur Tornado adalah mereka tidak memiliki kemampuan untuk membawa senjata nuklir. Jerman, Italia, Belanda dan Turki memiliki gabungan persenjataan dari sekitar 200 bom gravitasi B61 yang menjadi bagian dari komitmen mereka dalam NATO, menurut Nuclear Threat Initiative.

F-35 memang belum mampu untuk membawa nuklir, tapi dijadwalkan untuk memiliki kapabilitas tersebut dalam kerangka waktu 2020-2022, menurut Brigjend Scott Pleus tahun lalu.