China Akan Bangun Situs Pengujian Kapal Otonom Terbesar di Dunia

UAV Wing Loong dalam sebuah parade di Astana, 7 Mei 2017. © Kalabaha1969 via wikimedia.org

JakartaGreater.com – Pengembangan yang datang sebulan setelah Cina berhasil untuk menghadirkan sebuah kapal nirawak, dan diklaim sebagai drone kapal tercepat di dunia dengan kecepatan maksimum lebih dari 90 km/jam, seperti dilansir dari Sputnik News.

China telah mulai membangun zona uji untuk kapal nirawak pertama dari jenisnya di Asia dan dilaporkan merupakan situs pengujian yang terbesar didunia, menurut situs resmi China Internet Information Center.

Situs uji yang disebut sebagai Wanshan Marine Test Field, direncanakan seluas 225 mil persegi, atau 771 km persegi, akan berdiri di Kepulauan Spratly, di Laut China Selatan yang berdekatan dengan Macau dan Hong Kong.

Zona tersebut akan dilengkapi dengan jaringan komunikasi serta radar navigasi yang dibangun dipulau-pulau terdekat, yang akan memungkinkan pengujian berbagai jenis kapal dalam kendali dan penghindaran rintangan secara otonom. Zona tersebut akan menjadi basis utama penelitian di lapangan selama 3 – 5 tahun ke depan.

Sebuah perusahaan patungan yang melibatkan pemerintah kota Zhuhai dalam proyek tersebut dan China Classification Society (CCS), termasuk perusahaan swasta Yunzhou-Tech yang bergerak di bidang kendaraan otonom serta Universitas Teknologi Wuhan, di mana pada tahun 2012 melakukan litbang kapal otonom multifungsi.

Pengumuman menyiapkan situs uji tersebut disampaikan seminggu setelah pemerintah China berhasil melakukan uji perdana terhadap sebuah kapal otonom, Huster-68, lapor People’s Daily.

Kapal otonom dimaksudkan untuk melaksanakan patroli dan memblokir target di laut. Pengembangnya, Shenzhen Huazhong University of Science, menyatakan pada situsnya bahwa salah satu tujuannya adalah untuk membantu China mencapai ambisinya untuk mencapai angkatan laut biru.

China sebelumnya telah mempresentasikan sebuah kapal nirawak, yang diklaim sebagai yang tercepat di dunia dengan kecepatan maksimal lebih dari 90 km/jam.

Namun, menurut pakar kelautan Beijing Li Jie, yang dikutip oleh South China Morning Post, negara ini masih tertinggal dari Amerika Serikat dan Israel dalam industri kapal otonom.

Pada saat yang sama, kapal nirawak dipandang sebagai sarana potensial untuk patroli jarak jauh dan penegakan klaim teritorial China di Laut China Selatan, dimana sejumlah wilayah sedang dipersengketakan antara China, Brunei, Taiwan, Malaysia, Vietnam, dan Filipina.

Sharing

Tinggalkan komentar