China Akan Beli Jet Tempur Su-35 Lagi?

Jet tempur multiperan Su-35 Flanker-E. © Sergey Vladimirov via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Beijing merasa senang atas kecepatan serta kualitas pengiriman jet tempur Su-35 pertama, namun membuat prasyarat adanya produksi lokal, untuk pesanan lebih banyak berikutnya, seperti dilansir dari laman National Interest.

Beberapa sumber di Rusia dan Angkatan Udara China menunjukkan bahwa Beijing dan Moskow mungkin telah mencapai kesepakatan awal untuk pengadaan lebih banyak jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia oleh Angkatan Udara China.

Menurut laporan bulanan Kanwa Defense Review yang berbasis di Hong Kong di bulan Februari bahwa batch kedua pesawat tempur yang sangat bermanuver dengan mesin thrust-vectoring telah mendarat di Pangkalan Angkatan Udara di China Selatan.

Diantara salah satu lokasi yang diperkirakan sebagai penempatan layanan dan hanggar untuk pesawat multi-peran superioritas udara adalah pangkalan udara Suixi diprovinsi Guangdong, China selatan, yang berada di bawah Komando Teater Selatan PLA.

Sejumlah Su-35 telah bergabung dengan pergerakan baru-baru ini disekitar Taiwan dan melaksanakan patroli udara di atas Laut China Selatan, bersama jet tempur Su-30 serta pesawat pembom dan peperangan elektronika H-6K.

Jet tempur multirole Sukhoi Su-35. © Russian MoD via Wikimedia Commons

Pada bulan November 2015, Angkatan Udara PLA menjadi pelanggan ekspor pertama jet tempur Su-35 setelah Moskow dan Beijing menandatangani sebuah kontrak senilai $2 miliar untuk pembelian 24 pejuang tersebut. Empat pesawat pertama dikirim pada bulan Desember 2016.

Mengutip sumber di industri pertahanan Rusia, mencatat bahwa produsen jet tempur Su-35 di Amur Aircraft Plant telah menerima lebih banyak pesanan setelah umpan balik yang memuaskan dari PLA mengenai kecepatan dan kualitas pengiriman batch awal.

Su-35 adalah turunan modern dari jet tempur Su-27 yang diperuntukkan untuk ekspor pada akhir 1980-an, namun pecahnya Uni Soviet dan embargo senjata oleh Barat telah melipat sayapnya, hingga pesanan Beijing kembali menghidupkan lini produksinya.

Peningkatan selanjutnya juga dilakukan pada kokpit, desain struktur dan juga sistem pengendalian senjata selama bertahun-tahun.

Juga disebutkan bila Beijing telah memperjelas bahwa akan ada lebih banyak pesanan hanya jika dilakukan dibawah parameter transfer teknologi serta produksi secara lokal dari beberapa sub sistem dan avionik, sebuah taktik yang pernah dicoba dan berhasil untuk mereplikasi teknologi luar negeri dengan alternatif yang jauh lebih murah dan buatan sendiri.

Namun, para analis mengatakan sekarang Rusia mungkin bersedia membantu bahwa ada hubungan baik antara kedua kekuatan itu, dimana sejumlah besar pengembangan dan kerjasama pertahanan dan pesawat terbang juga memberikan kemajuan.

Moskow telah membatasi transfer senjata dan kerjasama sekitar tahun 2005 mengenai rekayasa ulang sistem persenjataan oleh China, terutama mesin pesawat terbang dan komponennya. Namun sekarang juga telah sepakat untuk menjual sistem rudal pertahanan udara maju S-400 kepada China setelah Beijing melakukan pendekatan selaman beberapa tahun.

Sementara itu, Angkatan Udara Indonesia (TNI AU) juga sudah menyelesaikan kontrak pembelian 11 jet tempur Su-35 pada bulan Februari, pengiriman pertama diharapkan pada bulan Oktober. India dan Uni Emirat Arab dilaporkan kemungkinan membeli Su-35 juga.

Sharing

Tinggalkan komentar