PM Turki: “Patriot AS Bukan Alternatif S-400 Rusia”

Rudal Patriot Advanced Capability 3 (PAC-3). © Hunini via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim pada hari Jumat, 23 Maret mengatakan bahwa sistem rudal Patriot Amerika Serikat bukanlah sebagai alternatif untuk kesepakatan S-400 yang telah dicapai Ankara dengan Moskow, seperti dilansir dari laman Yeni Safak.

“Turki adalah anggota NATO, sehingga perbatasan NATO dimulai dengan perbatasan disebelah selatan Turki. Kami melihat setiap upaya untuk melindungi perbatasan di selatan Turki dengan hangat”, kata Yildirim.

“Meskipun ada beberapa kesalahan yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Suriah, Washington masih merupakan sekutu kami. Sistem rudal Patriot AS bukanlah alternatif untuk kesepakatan S-400”, tambahnya.

Turki dan AS telah mencoba untuk menyelesaikan sejumlah permasalahan, terutama mengenai kelompok teroris YPG/PKK di Suriah, sebuah kelompok yang bekerjasama dengan AS, karena AS menyebutnya sebagai “sekutu yang dapat diandalkan” dalam perang melawan Daesh.

Sebelumnya dihari yang sama, juru bicara Deplu Turki Hami Aksoy mengatakan bahwa Turki sedang melanjutkan pembicaraan dengan AS mengenai pembelian sistem rudal Patriot.

Pada bulan Desember tahun lalu Ankara dan Moskow telah menandatangani perjanjian untuk memasok baterai rudal permukaan-ke-udara S-400, menyelesaikan kesepakatan yang ditetapkan untuk mempererat hubungan militer antara anggota NATO Turki dan Kremlin.

Turki membuka wilayah udara disebelah Irak utara

Turki telah mencabut larangan selama hampir enam bulan pada penerbangan ke kota sebelah utara Irak, Erbil, menurut pengumuman Yildirim.

“Kami telah menutup wilayah udara kami menyusul referendum Irak utara. Kami membuka wilayah udara kami untuk saat ini,” katanya.

Larangan penerbangan internasional tersebut diberlakukan 29 September lalu sebagai tanggapan terhadap sebuah jajak pendapat tidak sah mengenai kemerdekaan regional yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kurdi (KRG) yang berbasis di Erbil.

Sebelum dilaksanakan jajak pendapat itu, sebagian besar aktor daerah, termasuk Turki, telah menyuarakan penolakan terhadap referendum dengan banyak peringatan bahwa itu akan semakin mengguncang wilayah yang sudah bergejolak.

Yildirim juga mengatakan penerbangan komersial akan tersedia dari Turki atau Eropa ke Erbil.

“Namun, ini hanya efektif untuk Erbil. Tidak akan ada penerbangan ke Sulaymaniyah. Karena, kegiatan kelompok teroris terhadap negara kita [Turki] masih terus berlanjut”, jelasnya.

Sharing

Tinggalkan komentar