Ketika Jet Tempur TNI Ditahan Thailand Atas Tekanan AS

Armada jet tempur BAE Hawk TNI Angkatan Udara © TNI AU via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Ketika memutuskan untuk pembelian Alutsista canggih seperti jet tempur bukanlah suatu perkara yang mudah. Harus dipertimbangkan pula aspek geo-politik yang ada. Karena suatu saat bisa saja tiba-tiba negara penjualnya memutuskan hubungan diplomatik atau pun kemungkinan terburuk menjatuhkan embargo.

Dan apabila sudah terjadi seperti itu maka sudah tentu Indonesia sendiri yang rugi. TNI AU bahkan sudah pernah merasakan bagaimana jet tempur mereka sangat terganggu oleh karena embargo. Bahkan pernah ada pesawat tempur yang sudah dibeli namun malah ditahan tidak boleh dikirimkan ke Indonesia.

Pada tahun 1990-an, Indonesia baru saja membeli sebanyak 32 unit pesawat tempur Hawk 109/209 dari British Aerospace. Pesawat itu secara bertahap diterbangkan dari London menuju Indonesia.

Waktu itu, Indonesia masih diembargo oleh pemerintah Amerika Serikat terkait kasus di Timor Timur. Padahal sebagian komponen pesawat Hawk ini dipasok oleh perusahaan AS. Maka, sesuai dengan aturan di Amerika, sekecil apapun komponen alutsista buatan AS maka harus sepengetahuan Pentagon jika berpindah tangan.

Lantas AS pun menggunakan pengaruhnya untuk menekan Inggris. Tiga pesawat Hawk dari London yang terbang menuju Indonesia harus berbalik arah menuju Bangkok, Thailand. Sebenarnya pesawat itu sudah mencapai Singapura dan sebentar lagi ketiga pesawat tempur itu memasuki wilayah udara Indonesia.

Hal ini dikisahkan dalam buku Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi, Pengabdian Alumni Akabri Pertama 1970 yang diterbitkan Kata Hasta Pustaka tahun 2012.

Di Bangkok, ketiga pesawat ini ditahan dan tidak boleh dikirimkan ke Indonesia. Situasi ini sangat buruk untuk Indonesia. Sudah di beli mahal-mahal, malahan kena embargo dan ditahan.

Maka pendekatan diplomasi dan intelijen dilakukan untuk melobi pejabat Thailand. Dua perwira tinggi TNI dikirimkan ke Thailand untuk membebaskan 3 pesawat tempur itu. Dir B Bais ABRI Brigjen Harianto Imam Santosa dan Aspam Kasau Marsda Tjutju Djuanda dikirim ke negeri Gajah Putih tersebut.

Pihak Thailand tak mudah melepaskan ketiga pesawat tempur itu karena mendapatkan ditekan dari Amerika Serikat. Apalagi pemerintah AS sudah mengirim permintaan resmi melalui nota diplomatik. Thailand adalah sekutu AS di Asia Tenggara selain Filipina.

Namun di sisi lain, pejabat militer Thailand juga punya hubungan pribadi yang sangat baik dengan para petinggi TNI saat itu. Akhirnya terciptalah kesepakatan “unik” yang cerdik yang menguntungkan bagi Indonesia dan juga Thailand.

Suatu hari, ketiga jet tempur Hawk tersebut diberikan “izin khusus” untuk pemanasan di udara. Hal ini wajar karena pesawat sudah lama ditahan dipangkalan udara Thailand. Izin yang diberikan khusus untuk terbang di sekitar Laut China Selatan.

Ketiga pesawat tempur pun disiapkan. Begitu izin diberikan otoritas Thailand, wuuuuzzz!! Pesawat tempur langsung mengangkasa.

Namun ketiga pesawat tempur tersebut tak menuju Laut China Selatan. Mereka malah menuju Pangkalan Udara Supadio di Pontianak. Ketiganya mendarat dengan selamat di wilayah Republik Indonesia.

Pihak Thailand “berpura-pura” mengajukan protes atas pelanggaran tersebut. Namun pemerintah Indonesia juga “berpura-pura” tak terkait dengan pelarian pesawat tempur Hawk tersebut.

Dan yang lucunya lagi adalah pihak Pentagon juga “berpura-pura tidak tahu” perihal kejadian tersebut. Rupanya sebenarnya mereka bersimpati kepada Indonesia. Namun pihak AS terpaksa menjalankan tekanan politik dari pihak Kongres serta Kementerian Luar Negeri.

Kisah penyelamatan jet tempur yang lucu dan unik ini pun berakhir. Hawk-Hawk dari Inggris ini masih memperkuat TNI AU sampai sekarang.

Artikel ini pertama kali ditulis Ramadhian Fadillah di media Merdeka.com dengan judul: “Kisah Lucu TNI Bebaskan 3 Jet Tempur Yang Ditahan AS di Thailand“.

Sharing

Tinggalkan komentar