Intelijen AS Menolak Permintaan UEA Untuk Menyerang Yaman

Jet tempur F-15C Royal Saudi Air Forces © Saudi88hawk via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Serangan terbesar dari koalisi pimpinan Arab Saudi dalam konflik bersenjata dengan Yaman, Operasi “Golden Victory” tampaknya tidak berjalan mulus, setelah Amerika Serikat menolak permintaan Uni Emirat Arab (UEA) untuk memasok data intelijen, ranjau dan pengawasan aset selama invasi pelabuhan kunci Al-Hudaydah.

Seperti dilansir dari laman Reuters, pejabat intelijen AS mengatakan bahwa permintaan Uni Emirat Arab kepada AS untuk memberikan dukungan militer dan intelijen ditolak.

AS melihat bahwa meningkatnya penolakan domestik terhadap perannya dalam konflik Yaman akibat menyediakan dukungan bahan bakar dan penargetan kepada jet tempur koalisi Arab dalam melakukan misi pengeboman terhadap para undangan pernikahan di Yaman.

Perancis memberikan dukungan penyapu ranjau atas permintaan UEA setelah AS tak ingin terlibat atau tidak mampu, tetapi tak jelas apakah serangan massal di Hudaydah menerima dukungan lain dalam bentuk intelijen, pengawasan atau aset pengintaian, seperti yang diminta oleh Emirates.

Awal pekan ini, para pekerja kemanusiaan telah melarikan diri dari Hudaydah dalam menghadapi invasi segera oleh koalisi pimpinan Saudi, yang dimulai pada hari Selasa, menurut Reuters.

Jet-jet tempur dan kapal-kapal perang Arab telah menghantam posisi Houthi di sebelah selatan Hudaydah sejak hari Selasa, dan pada hari Kamis pasukan pemerintah Yaman yang bersekutu dengan Saudi menguasai wilayah Ad-Durayhimi di selatan Hudaydah, menurut laporan Sputnik.

Pada hari Rabu, beberapa sumber menegaskan bahwa pejuang Houthi telah berhasil menenggelamkan setidaknya sebuah kapal Angkatan Laut UEA yang terlibat dalam serangan ke Hudaydah.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia hari Kamis mengatakan bahwa serangan yang sedang berlangsung akan secara signifikan merusak “prospek penyelesaian krisis politik di Yaman”.

Sharing

Tinggalkan komentar