Militer Prancis Tertawakan Ide Pasukan Gabungan Eropa

JakartaGreater.com – Pembentukan pasukan gabungan militer Eropa kini kembali menjadi agenda, setelah pembicaraan antara Presiden Prancis Emmanuel Macron serta Kanselir Jerman Angela Merkel, seperti dilansir dari laman Sputnik.

Sementara pejabat tinggi militer Prancis telah menyatakan bahwa banyak kemajuan telah dilakukan mengenai masalah ini, menurut profesor Christophe Reveillard asal Prancis dan mengatakan bahwa itu hanya menjiplak sistem NATO.

Setelah pembicaraan antara pemimpin Prancis dan Jerman berakhir pada 19 Juni, menteri pertahanan Prancis Florence Parly, menyatakan ada kemajuan dalam membangun sistem pertahanan bersama Eropa.

Namun ilmuwan Po and Sorbonne, Profesor Christophe Réveillard, telah membalikkan klaim optimisnya, mengatakan bahwa konsep tentara gabungan Eropa tersebut tidaklah asli dan hanya akan menyalin dokumen NATO.

Menurut cendikia tersebut, program yang ada saat ini dapat disebut sepenuhnya Eropa, karena mereka menyiratkan kerjasama di antara empat negara. Reveillard mengatakan kepada Sputnik bahwa rencana produksi industri pertahanan tidak berlaku untuk seluruh Uni Eropa.

“Apa yang disebut sebagai proyek Eropa adalah proyek yang melibatkan maksimal empat negara, karena hanya ada beberapa negara di Eropa yang memiliki kompleks militer yang cukup kuat”, katanya kepada media.

Sarjana Perancis tersebut juga membantah klaim mengenai strategi bersama Eropa, yang menyatakan bahwa Uni Eropa tidak dapat menyusun rencana tersebut.

“Strategi yang diusulkan adalah menyalin strategi Javier Solana, yang sebenarnya hanya merupakan copy-paste NATO. Jika Anda membangun sistem pertahanan, Anda harusnya menyusun strategi terlebih dahulu. Dan kita tidak memilikinya”, terang Reveillard kepada Sputnik.

Profesor itu menyebut bahwa proposal tersebut hanya “setengah-setengah” dan “sebuah taktik”, menunjuk pada peraturan operasi tempur.

“Satu-satunya proposal berharga yang memiliki kekuatan serangan 50.000 pasukan telah memudar, karena kehilangan dukungan dari Uni Eropa, tetapi ini diadopsi kemudian oleh NATO, yang telah menerapkannya”, menurut pendapat cendekiawan itu.

Reveillard mengatakan bahwa militer Prancis merasa skeptis tentang gagasan pasukan gabungan tersebut.

“Ketika Anda bertanya kepada militer Prancis, ikut ambil bagian dalam operasi luar negeri dengan pasukan seluruh Eropa, dengan mempertimbangkan bahwa lima dari 10 operasi ini akan bekerjasama dengan NATO, mereka tertawa dihadapan Anda. Mereka pun bertanya kenapa perlu sistem pertahanan Eropa jika apa yang kita lakukan dalam NATO berhasil. Apa tujuannya jika itu akan berubah menjadi lebih buruk daripada kerjasama dengan Uni Eropa dan tentara Eropa yang tidak terkoordinasi”, tutupnya.

Tinggalkan komentar