Gugatan Newmont Bahayakan Indonesia

Liputan6.com, Jakarta – PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) dan pemegang saham mayoritasnya, Nusa Tenggara Partnership B.V (NTPBV) yang merupakan badan usaha yang terdaftar di Belanda telah mengajukan gugatan arbitrase internasional terhadap pemerintah Indonesia terkait larangan ekspor yang diterapkan di dalam negeri.

Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ), Riza Damanik menilai, gugatan PTNNT tersebut bisa membahayakan kedaulatan Indonesia. Hal ini akibat penerapan Bilateral Investment Treaties (BIT) yang memberikan perlindungan kuat bagi investor asing.

“Keberadaan BIT telah mengekang kedaulatan negara dalam menentukan arah kebijakan pemerintah,” ujarnya dalam konferensi pers di Cikini, Jakarta, Minggu, (6/7/2014).

Dia mengatakan pengakhiran BIT Indonesia-Belanda pada 2014 tidak menjadi penghalang bagi Newmont untuk mengajukan gugatan kepada Indonesia. Bahkan, sunset policy yang diatur dalam BIT Indonesia-Belanda semakin memberikan perlindungan hukum bagi Newmont hingga 30 tahun mendatang.

Riza juga mengingatkan, pengakhiran BIT tidak cukup untuk menghindarkan Indonesia dari sanksi hukum. Pemerintah harus segera menggantikan ketentuan investasi baru dengan mendasarkan pada kedaulatan dan kepastian nasional serta merevisi Undang-Undangn (UU) Penanaman Modal yang merupakan adopsi dari ketentuan BIT.

“Harus ada tindakan kongkrit dari pemerintah. Hal ini harus menjadi tugas prioritas dari pemerintahan baru yang terpilih dalam pemilihan tahun ini,” tandasnya.

BIT sendiri telah menjadi dasar untuk melindungi investor asing. Beberapa ketentuan perlindungan yang diberikan dalam BIT seperti perlindungan dari pengambalihan atau nasionalisasi, pelindungan dari kerugian yang diderita akibat perang, konflik, revolusi, keadaan darurat dan pemberontakan. (Dny/Gdn)


Seret RI ke Arbitrase, Tambang Newmont Bisa Tutup

Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah mulai mengeluarkan ancaman terhadap PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) yang telah menyeret Indonesia ke jalur arbitrase internasional atas kebijakan bea keluar progresif konsentrat. Jika tetap keukeuh dengan keputusan itu, maka mungkinkah pemerintah akan menutup tambang Batu Hijau Newmont?

Menteri Perindustrian, MS Hidayat menegaskan, pemerintah sangat siap menghadapi Newmont atas arbitrase internasional yang diajukannya.

“Kami mau tanyakan lagi apa benar dia (Newmont) mau arbitrase. Kami sudah siap benar nih mau menghadapi Anda,” tegasnya kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (7/7/2014).

Namun pemerintah masih membuka pintu kepada perusahaan tambang tersebut untuk berunding sekali lagi lewat renegosiasi kontrak seperti yang dilakukan PT Freeport Indonesia.

“Karena sifatnya ingin win-win, dan mau melindungi investor, jadi kami kasih kesempatan sekali lagi berunding. Freeport saja sudah beres (renegosiasi). Tapi kalau bersikeras arbitrase, kami akan lawan secara hukum,” cetus Hidayat.

Meski begitu, dia melalui pemerintah memperingatkan Newmont agar berhati-hati terkait langkah tersebut. Pasalnya, Newmont justru akan menanggung kerugian apabila tetap membawa masalah ini ke arbitrase internasional.

Sayang, Hidayat tak membeberkan kerugian tersebut. Tapi dia tak menampik jika ada  kemungkinan menutup tambang Newmont.

“(Penutupan) itu kemungkinan yang bisa terjadi,” pungkasnya. (Fik/Ahm)

(Agustina Melani)

Sumber : Liputan6.com

Tinggalkan komentar