Angkatan Udara Jerman Berada Pada Titik Terendah

JakartaGreater.com – Angkatan Udara Jerman yang merupakan anggota NATO sekarang ini sedang berada dalam kesulitan dan sangat membutuhkan dana untuk memodernisasi persenjataan dan sistemnya, kata Kepala Staf Luftwaffe pada hari Rabu, seperti dilansir dari laman Reuters.

“Luftwaffe berada pada titik terendah”, kata Letnan Jenderal Ingo Gerhartz, yang sedang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Udara Jerman sejak bulan lalu. Dia mengatakan hal tersebut dihadapan 200 eksekutif industri, perwira militer dan anggota parlemen pada sebuah acara di Berlin hari Rabu malam.

Gerhartz mengatakan penilaiannya setelah sebelumnya melakukan kunjungan ke berbagai lokasi Angkatan Udara (Luftwaffe) dan berdiskusi dengan pasukan yang mengungkapkan defisit serius dalam hal kesiapan pesawat tempur dan peralatan lainnya.

“Pesawat di grounded akibat kurangnya suku cadang, atau bahkan tidak berada di lokasi karena mereka sedang dalam masa pemeliharaan oleh industri”, katanya. Dia melanjutkan bahwa pemeriksaan setiap 400 jam untuk jet tempur Eurofighter sekarang membutuhkan waktu hingga 14 bulan, atau 2 kali lebih lama dari yang direncanakan dan ini tidak dapat diterima.

Komentarnya tersebut sesuai laporan terbaru oleh Kementerian Pertahanan serta Panitia Ombudsman Militer parlemen Jerman yang mengungkapkan kesenjangan signifikan dalam hal peralatan dan personil militer Jerman.

Sebuah laporan dari Kementerian Pertahanan pada bulan Februari menunjukkan hanya 39 unit dari 128 unit jet tempur Eurofighter Jerman yang tersedia untuk pelatihan dan juga penggunaan tempur tahun lalu (rata-rata) dan hanya tersedia 26 unit dari total 93 unit armada jet tempur Tornado.

Kanselir Angela Merkel dan Partai Sosial Sosial tengah-kiri (SPD) sedang menyelesaikan rencana anggaran untuk tahun 2019, tetapi Menteri Keuangan Olaf Scholz, dari Partai SPD, telah menolak langkah untuk mempercepat peningkatan belanja militer.

Angela Merkel bulan ini memperkirakan kenaikan tetap dalam belanja militer untuk Jerman di tahun-tahun mendatang, dan sejalan dengan janji Berlin untuk memenuhi target NATO bergerak menuju pengeluaran 2 persen dari PDB pada tahun 2024, akan tetapi dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Menteri Pertahanan Ursula von der Leyen telah diminta agar dapat meningkatkan belanja pertahanan setelah rencana jangka panjang Scholz sebelumnya menyerukan pengeluaran militer untuk turun lebih rendah setelah mencapai 1,3 persen dari PDB pada tahun 2019.

Von der Leyen telah berjanji bahwa belanja militer Jerman akan mencapai 1,5 persen dari produk domestik bruto pada tahun 2025 mendatang.

Letnan Jenderal Ingo Gerhartz telah mendesak pada anggota parlemen di acara hari Rabu agar mendukung rencana pengeluaran yang lebih berkelanjutan yang memungkinkan bagi Luftwaffe untuk membangun kembali peralatannya dan meningkatkan perencanaan untuk persenjataan baru dan modernisasi terhadap sistem yang ada.