Gaji Ketua MA Naik Rp 121 Juta / Bulan

Ketua MA, Hatta Ali (photo: antara)
Gaji Ketua MA Naik Rp 121 Juta / Bulan 1

Jakarta – Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No 55 Tahun 2014 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Hakim Agung dan Hakim Konstitusi yang diteken Presiden Susilo SBY pada 7 Juli 2014 maka, gaji Ketua Mahkamah Agung (MA) dan hakim agung naik dua kali lipat.

Gaji Ketua MA kini menjadi Rp 121 juta per bulan.

Ketua Komisi Yudisial (KY) Suparman Marzuki mengapresiasi PP tersebut yang menurutnya, kesejahteraan hakim agung termasuk Ketua MA sebagai aparatur hukum harus diperhatikan.

“Kami berterima kasih dan itu adalah yang kami perjuangkan di KY juga. Pemerintah responnya juga cepat dan sudah seharusnya demikian,” kata Suparman di Jakarta, Jumat (11/7).

Dalam No 55 Tahun 2014 gaji Ketua MA yang tadinya Rp 40 juta per bulan naik menjadi  Rp 121 juta per bulan.

Sedangkan gaji hakim agung yang awalnya Rp 29,6 juta per bulan menjadi sekitar Rp 72 juta per bulan.

Selain hakim agung, pemerintah juga menaikkan gaji hakim konstitusi. Sebagaimana ketentuan dalam PP tersebut, gaji Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) dinaikkan menjadi Rp 121 juta per bulan, Wakil Ketua MK Rp 77 juta per bulan, dan anggota hakim konstitusi Rp 72 juta per bulan.

Suparman mengingatkan, kenaikan gaji di badan peradilan tertinggi itu harus diimbangi dengan perbaikan kinerja termasuk kualitas putusannya.

Sebab, naiknya pendapatan hakim agung dan Ketua MA memiliki dampak moral yang tinggi. Artinya, sanksi ketat pun diterapkan bagi hakim agung yang terbukti melanggar kode etik dan perilaku hakim.

“KY akhir-akhir ini tidak toleran dengan penyimpangan-penyimpangan apapun dan kami berharap MA dan pimpinan MA punya apresiasi yang sama. Tidak ada lagi alasan untuk mengeluh, dari segi ‘reward’ negara telah memberikan,” katanya.(http://www.suarapembaruan.com)


Tunjangan Jabatan Ketua MA/MK Rp 121 Juta, Hakim Agung/Hakim Konstitusi Rp 72 Juta

Dengan pertimbangan untuk memberikan jaminan keamanan dan kesejahteraan Hakim sebagaimana diatur dalam Pasal 48 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2003Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 7 Juli 2014 lalu telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2014 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Hakim Agung dan Hakim Konstitusi.

Menurut PP ini, Hak Keuangan serta Fasilitas bagi Hakim Agung (hakim pada Mahkamah Agung) dan Hakim Konstitusi (hakim pada Mahkamah Konstitusi) terdiri atas: a. Gaji pokok; b. Tunjangan jabatan; c. Rumah negara; d. fasilitas transportasi; e. Jaminan kesehatan; f. Jaminan keamanan; g. Biaya perjalanan dinas; h. Kedudukan protokol; i. Penghasilan pensiun; dan j. Tunjangan lainnya.

“Gaji pokok bagi Hakim Agung dan Hakim Konstitusi diberikan setiap bulan, mengacu pada Peraturan Pemerintah yang mengatur mengenai ketentuan dan besaran gaji pokok pimpinan lembaga tertinggi/tinggi negara dan anggota lembaga tinggi negara,” bunyi Pasal 4 Ayat (1,2) PP tersebut.

Adapun tunjangan Jabatan Hakim Agung dan Hakim Konstitusi yang diberikan setiap bulan sebagaimana tercantum dalam lampiran PP ini adalah:

 

Menurut PP ini, Hakim Agung dan Hakim Konstitusi disediakan fasilitas rumah negara dan fasilitas transportasi selama menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Adapun kedudukan protokol dalam acara kenegaraan dan acara resmi diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Selain itu, Hakim Agung dan Hakim Konstitusi diberikan jaminan keamanan dalam pelaksanaan tugas, yang meliputi: a. Tindakan pengawalan; dan b. Perlindungan terhadap hukum.

 “Jaminan keamanan sebagaimana dimaksud didapatkan dari Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan diatur dengan Keputusan Sekretaris Mahkamah Agung dan/atau Sekretaris Jendral Mahkamah Konstitusi,” bunyi Pasal 8 Ayat (1,2) Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2014 ini.

Apabila melakukan perjalanan dinas, menurut PP ini, Hakim Agung dan Hakim Konstitusi diberikan fasilitas biaya perjalanan, yang diatur dengan peraturan perundang-undangan.

Hakim Agung dan Hakim Konstitusi juga diberikan tunjangan berupa: a. Tunjangan keluarga; dan b. Tunjangan beras, yang diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Demikian juga mengenai tunjangan kesehatan, Hakim Agung dan Hakim Konstitusi mendapatkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tidak Boleh Terima Honor

Dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2014 ini, menurut Pasal 13, Hakim Agung dan Hakim Konstitusi tidak boleh menerima honorarium apapun yang dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan Negara dan/atau Badan Usaha Milik Negara.

“Apabila Hakim Agung dan Hakim Konstitusi menerima honorarium sebagaimana dimaksud, maka pejabat dimaksud harus mengembalikan honorarium yang telah diterima tersebut ke kas negara,” tegas Pasal 13 Ayat (2) PP ini.

Dengan diberlakukannya PP ini, maka segala ketentuan yang mengatur mengenai Hak Keuangan/Administratif bagi Ketua, Wakil Ketua, dan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), serta Mantan Ketua, Wakil Ketua dan Hakim Anggota Mahkamah Konstitusi beserta Janda/Dudanya; Tunjangan Khusus Kinerja Hakim dan Pegawai Negeri di Mahkamah Agung dan Badan Peradilan Yang Berada Dibawahnya; ketentuan mengenai Uang Sidang bagi Ketua dan Anggota Mahkamah Agung; ketentuan mengenai Tunjangan Jabatan bagi Ketua, Wakil Ketua, Ketua Muda dan Hakim Agung Mahkamah Agung (MA);Tunjangan Kehormatan dan Uang Representasi bagi Ketua, Wakil Ketua, dan Hakim Mahkamah Konstitusi; Tunjangan Khusus Pengawalan Konstitusi dan Honor Sidang Bagi Ketua, Wakil Ketua, dan Hakim Mahkamah Konstitusi; serta tunjangan lain yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan atau ketentuan internal lembaga tersebut dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

“Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi PP yang diundangkan pada 7 Juli 2014 itu.(setkab.go.id).

Leave a Comment