Biaya Akuisisi Aegis Jepang Hampir 2 Kali Lipat

Kompleks Pertahanan Rudal Aegis Berbasis Darat di Rumania © US Navy via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Kementerian Pertahanan Jepang baru saja memperkirakan bahwa harga dua baterai rudal Aegis berbasis darat pesanan Jepang yang akan disebarkan dapat menghabiskan sekitar 400 miliar yen atau lebih kurang $ 3,6 miliar, dan ini berarti dua kali lipat dari harga awal, menurut sumber pemerintah pada hari Senin yang dilansir dari laman Mainichi.

Jika harga rudal pencegat dipasang pada baterai dan biaya akusisi lainnya dimasukkan, maka total biaya dua unit Aegis Ashore bisa meningkat hingga hampir 600 miliar yen, dan menimbulkan pertanyaan mengenai perlunya sistem mahal di tengah mengurangi ketegangan pada Semenanjung Korea.

Pemerintah mendorong untuk menginstal sistem Aegis Ashore yang dikembangkan AS di prefektur Akita dan Yamaguchi untuk memperkuat pertahanan Jepang terhadap potensi ancaman dari rudal dan senjata nuklir Korea Utara. Jepang bertujuan untuk membawa mereka ke dalam operasional pada tahun fiskal 2023. Dua baterai diyakini cukup untuk melindungi seluruh wilayah Jepang.

Perkiraan harga itu membengkak ketika Kementerian Pertahanan mempertimbangkan untuk memperkenalkan radar SSR buatan Lockheed Martin Corp sebagai komponen kunci dari sistem perisai rudal, yang ternyata lebih mahal daripada radar Aegis yang saat ini telah dikerahkan pada kapal perusak Angkatan Laut Jepang, kata sumber itu.

Biaya membangun fasilitas di situs penyedia sistem Aegis Ashore juga diperkirakan akan meningkat, sementara rudal pencegat SM-3 Block 2A yang dikembangkan bersama oleh Jepang dan Amerika Serikat berharga sekitar 4 miliar yen atau sekitar $ 36 juta per unit, lanjut sumber itu.

Pemerintah Jepang memutuskan dalam pertemuan Kabinet pada bulan Desember tahun lalu untuk memperkenalkan sistem pertahanan rudal Aegis berbasis darat. Pada saat itu Jepang merasakan kebutuhan yang semakin meningkat untuk memperkuat perisai rudal, dengan Korea Utara pada tahun lalu melakukan uji coba sekitar 20 rudal balistik, yang dua di antaranya terbang di atas wilayah Jepang.

Sejak pertemuan bersejarah AS-Korea Utara pada tanggal 12 Juni 2018, ketegangan di Semenanjung Korea telah mereda. Namun Kementerian Pertahanan Jepang mengatakan akan tetap mengerahkan sistem Aegis Ashore dan bahwa ancaman yang di timbulkan oleh Korea Utara masih ada.

Rencana tersebut telah memicu kekhawatiran di antara penduduk lokal dari prefektur Akita dan Yamaguchi karena mereka takut bahwa perisai rudal bisa menjadi sasaran terorisme baru karena mereka akan ditempatkan di situs-situs stasioner. Mereka juga menyuarakan kekhawatiran bahwa sistem radar, yang memancarkan gelombang radio yang kuat, bisa berbahaya bagi kesehatan manusia.