2 Skenario Jika Indonesia Ingin Beli Eurofighter Austria

Jakartagreater.com – Untuk pertama kalinya, Menteri Pertahanan Klaudia Tanner (ÖVP) secara resmi mengomentari minat Indonesia untuk membeli 15 Eurofighter Austria- dan ingin mengadakan negosiasi penjualan khusus dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Namun di balik semuanya, Staf Umum sedang memeriksa bagaimana kesepakatan mendadak dengan Indonesia bisa dilakukan, lansir Crone.

Ini dimulai dua bulan lalu dengan surat tak diduga dari Indonesia yang berkembang menjadi peluang terbaik Austria untuk benar-benar melepas Eurofighter yang tidak dicintai: Menteri Klaudia Tanner kini membalas partnernya dari Indonesia, Prabowo Subianto untuk pertama kalinya dan mengumumkan bahwa dia ingin mengadakan negosiasi penjualan khusus dengannya. . Pada saat yang sama, dia memerintahkan Staf Umum untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk penjualan yang direkomendasikan. Dikatakan: “Kami dengan senang hati menerima minat Anda untuk membeli lima belas Eurofighter Austria untuk memodernisasi armada udara Anda.”

“Setelah pemeriksaan intensif, Staf Umum Austria mengonfirmasi keaslian surat (dari Indonesia) tersebut dan merekomendasikan agar kami memanfaatkan opsi penjualan apa pun,” kata Tanner. “Sekarang kami memberi tahu Indonesia bahwa kami akan memeriksa penjualan tersebut secara legal dan mengadakan pembicaraan dengan semua orang yang terlibat. Itu adalah tanggung jawab kami kepada semua pembayar pajak – dan keluar dari sistem Eurofighter adalah tujuan yang kami nyatakan. Namun, jelas juga bahwa setiap penjualan sangat rumit dan sulit karena perjanjian pembungkaman Darabos. ”

Prasyarat Austria untuk bisa menjual peralatan militer ke Indonesia adalah, selain mendapat persetujuan politik di dalam negeri, juga harus mendapat persetujuan dari keempat negara perakit dan dari Amerika Serikat, karena peralatan buatan Amerika Serikat seperti misalnya sistem GPS dipasang pada Typhoon.

Ada dua skenario yang bisa dilakukan, yang pertama Airbus akan menerbitkan sertifikat pengguna akhir baru untuk penggunaan jet tempur di Indonesia dengan persetujuan Jerman, Inggris, Italia dan Spanyol, dan Austria akan menjual langsung ke Indonesia. Yang kedua, Airbus akan membeli kembali jet tempur dari Austria, dan mengupgrade terlebih dahulu sebelum mengirimkannya ke Indonesia. Pihak Kementerian Pertahanan akan memberi tahu skenario penjualan mana yang paling masuk akal yang bisa dilakkan saat ini.

Meskipun menteri pertahanan Indonesia telah mengisyaratkan minat yang besar untuk membeli jet tempur Austria, namun kesepakatan ini bukanlah peluang yang bagus. Pasalnya, beberapa tahun lalu Presiden Indonesia Joko Widodo mengeluarkan arahan yang menyarankan agar TNI tidak membeli peralatan bekas. Hal itu dikarenakan adanya serangkaian kecelakaan panjang yang melibatkan pesawat bekas milik TNI AU.

Sebagai pengingat: jet Eurofighters Austria sama sekali tidak baru. Jet tempur ini mendarat di Zeltweg untuk pertama kalinya pada tahun 2007 dan memiliki sekitar sepertiga dari total umur kehidupannya. Gelombang penolakan di parlemen Indonesia sudah tinggi. Perwakilan dari partai oposisi menuduh Menteri Pertahanan Subianto melanggar hukum dan membahayakan nyawa pilot jika dia membeli Eurofighter bekas dari Austria. Ada banyak polemik politik di Indonesia, namun Austria mengklaim jet dari Austria termasuk yang paling terawat di dunia.

Selain itu, undang-undang pertahanan Indonesia lainnya dengan nomor 16/2012 mengatur bahwa semua sistem persenjataan yang baru diperoleh diproduksi di dalam negeri. Satu-satunya pengecualian: ada banyak kesepakatan tandingan atau komponen untuk pesawat yang diproduksi di Indonesia. Dalam kasus Eurofighter Austria, ini tampaknya sulit atau bahkan tidak mungkin. Indonesia terutama memperdagangkan minyak sawit, beras, kacang tanah, dan gas alam cair untuk bisa dijadikan barter dengan jet tempur.

8 pemikiran pada “2 Skenario Jika Indonesia Ingin Beli Eurofighter Austria”

  1. Mau menyimpulkan arti semua kalimat diatas saja sudah kesulitan saya, mungkin yg bisa disimpulkan sepertinya adalah hil yang mustahal, sebenarnya seberapa besar atau seberapa siapkah senjata udara yang dimiliki TNI AU kita, misal 1 hari kedepan terpaksa harus terjadi clash udara dengan negara agresor tertentu siapkah pesawat2 tempur kita hadapi dan eliminir ancaman semoga kekhawatiran saya tidak benar bahwa pesawat2 tempur kita cuma bisa terbang doang tanpa bawa palu gada mematikan…semoga

    • Nah itu dia yang dikejar bung. Konstelasi di LCS udah memanas, belum lagi di lembah galwan, selat taiwan dan Shenkaku.

      Mau tidak mau Indonesia harus siap kapan saja, bukan berarti siap untuk langsung perang, tapi unjuk taring agar pihak yang bertikai dapat melihat garis pemisah bahwa kita punya kedaulatan tersendiri dan menarik diri dari garis batas lokasi perang. Hal ini tidak bisa diimplemantasikan dengan soft-diplomacy lagi, tapi harus dengan pamer otot.

      Maka menunggu F-16V, Su-35 dll adalah mustahil dalam waktu 1-2 tahun.

  2. Sepertinya utk lewati masa kritis penguatan persenjataan TNI buat kejar kelemahan yang amat sangat dan berkepanjangan, buat kejar tayang penguatan TNI justru beraneka macam rudal jarak jauh anti pesawat dan kapal permukaan yang harus dimiliki saat ini. Beli beberapa set baterai lengkap dengan unit2 pelindung pangkalan rudal dan tempatkan di spot2 kritis perbatasan Nusantara maka dalam sekejap langsung naik deteren efek TNI.

    • mau beli apapun bahkan mau beli barang yg paling canggih sekalipun bisa. asalkan ada duitnya. ini mau beli barang bekas aja susah karena duitnya terbatas. pake mau beli rudal jarak jauh beserta baterainya segala. halusinasi anda terlalu tinggi

  3. mau pake skenario apapun (dngn barter atau apalah). mau beli barang baru atau bekas. tetap hrs ada duitnya kan. dr dulu pesan SU-35 (alasannya terhambat karena di tekan oleh AS), berkunjung ke Austria, ingin beli Typhoon (bekas pakai), berkunjung ke Prancis, ingin beli Rafale .. tp gak satupun yg terealisasi. kl emang gak punya duit ya gak usah neko-neko lah

Tinggalkan komentar