Bersama, Rusia-China Berlatih Untuk Perang Nuklir

Jet tempur multiperan generasi 4++ Sukhoi Su-35S Rusia © Dmitry Terekhov via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Rusia dan China, adalah dua ancaman utama bagi Amerika Serikat yang disebutkan dalam dokumen resmi Pentagon. Kedua begara itu akan melakukan latihan militer terbesar mereka, termasuk simulasi untuk perang nuklir, seperti diberitakan The Mighty.

Pejabat pertahanan AS pun mengatakan kepada Bill Gertz dari Washington Free Beacon bahwa latihan tersebut adalah yang terbesar oleh Rusia sejak 1981 serta pelatihan terbesar gabungan antara Rusia-China, akan mencakup pelatihan untuk peperangan nuklir.

Rusia adalah kekuatan nuklir terbesar di dunia, sedangkan China adalah kekuatan nuklir lainnya yang sudah lama berdiri. Kedua negara itu sering bentrok di masa lalu dan masih memegang banyak tujuan kebijakan yang bertentangan, namun telah menjadi target utama oleh AS.

Di bawah Presiden Donald Trump, Amerika telah mendefinisikan kembali postur keamanan dan pertahanan nasionalnya, dan di kedua dokumen menunjuk China dan Rusia, daripada terorisme atau perubahan iklim, sebagai ancaman terbesar bagi Amerika Serikat.

Tidak dijelaskan bagaimana China dan Rusia dapat mengoordinasi perang nuklir, karena mereka memiliki model strategi nuklir yang sangat berbeda. Rusia adalah pemilik dari hulu ledak nuklir terbanyak di dunia, dan telah menempatkan mereka di sejumlah besar platform yang berbahaya dan sangat menghancurkan.

Rusia berharap untuk segera membangun “wahana kiamat” bawah laut yang bisa melumpuhkan kehidupan di bumi selama beberapa dekade. Berdasarkan laporan intelijen AS menunjukkan bahwa Rusia juga sedang berjuang membuat rudal jelajah nuklir dan bertenaga nuklir.

Sebuah slide pengarahan, yang terlihat di televisi Rusia, menunjukkan gambar torpedo nuklir

China, di sisi lain, telah mengambil pendekatan yang berlawanan dengan senjata nuklir yang ada dengan lebih memilih pencegahan minimum alias “minimum deterrence“.

Rusia dan AS telah membentuk paritas nuklir dan doktrin saling menghancurkan di mana setiap serangan nuklir oleh satu negara akan menghasilkan serangan nuklir yang menghancurkan di pihak lain. Rusia dan AS mencapai ini dengan trias nuklir, kapal selam yang dipersenjatai nuklir, pesawat terbang dan rudal yang diluncurkan dari permukaan yang tersebar dan rahasia, bahwa sebuah serangan tidak akan pernah benar-benar menghilangkan kekuatan negara lain untuk bisa meluncurkan serangan balasan.

Tetapi Cina, dengan hanya memiliki sekitar 200 senjata nuklir, memiliki struktur pasukan yang bisa bertahan dari serangan nuklir dan membalasnya satu minggu atau bahkan beberapa bulan kemudian. Meskipun demikian, laporan tahunan Pentagon mengenai China mengatakan bahwa Beijing berlatih untuk menyerang AS menggunakan pesawat bomber nuklir.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan bahwa sekitar 300.000 tentara dan 1.000 pesawat akan berpartisipasi, menggunakan semua pusat pelatihan di distrik militer pusat dan distrik militer timur negara itu. Beijing pun telah mengatakan akan mengirimkan sekitar 3.200 tentara, 30 helikopter dan lebih dari 900 perangkat keras militer lainnya.