Jakarta Greater

Berita Militer dan Alutsista

Kesuksesan Imamatul menjadi Staf Obama, dilaluinya dengan Kisah Pilu

Kisah Imamatul Maisaroh, TKW asal Malang Jawa Timur yang sukses bisa menjadi staff khusus Presiden AS, Barrack Obama seperti sekarang ini sungguh panjang dan berliku.

Berdasarkan indonesianlantern.com, situs tentang WNI di AS, Ima masuk ke AS pada tahun 1997. Dia mengalami kisah kelam, kemudian bisa lolos pada tahun 2000 dan menjadi aktivis.

Ima (berjaket abu-abu), saat menjadi koordinator Coalition to Abolish Slavery and Trafficking (CAST).

Pada tahun 2012, Ima menjadi koordinator Coalition to Abolish Slavery and Trafficking (CAST), sebuah organisasi nirlaba anti perbudakan yang menyelamatkannya. Perempuan bertubuh mungil ini kemudian diangkat menjadi 1 dari 10 penasihat Presiden Barrack Obama di bidang perdagangan manusia. Di Konvensi Nasional Partai Demokrat, Ima yang bersuamikan orang Bandung dan memiliki 3 anak ini akan menyampaikan pengalaman dan visi penanganan program perbudakan dan perdagangan manusia.

Nama Imamatul Maisyaroh kini menjadi buah bibir di kampung halamannya di Dusun Krajan Desa Kanigoro, Malang, Jawa Timur. Sebab, perempuan berusia 36 tahun diundang oleh Partai Demokrat Amerika Serikat untuk berbicara dalam konvensi yang digelar hari ini Selasa, 26 Juli 2016.

Ima bisa berbicara di ajang bergengsi tersebut karena diangkat oleh Presiden Barack Obama sebagai salah satu dari 10 anggota Dewan Penasihat Gedung Putih. Dia menangani secara khusus program-program penanggulangan perbudakan dan perdagangan manusia, salah satu isu yang juga menjadi perhatian Partai Demokrat.

Ima mendapat penghargaan Internasional usai menyampaikan pidato anti perbudakan di AS.

Maka, orang tua dan warga di kampung halaman Ima di Desa Kanigoro turut bangga. Tetapi, jalan yang dilalui Perempuan kelahiran 20 Maret 1980, hingga bisa membawanya ke AS sangat pilu.

Menurut Turiyo, ayah Ima, anak Sulungnya itu memulai merantau ke Los Angeles Amerika Serikat pada tahun 1997, dengan bekerja TKI. Dia memilih menjadi TKI demi bisa menghidupi dirinya dan keluarga lantaran kabur dari pernikahan pertamanya yang tak bahagia.

Turiyo mengisahkan, Ima drop out sekolah saat baru masuk kelas 1 SMA Sholahudin Gondanglegi, Kabupaten Malang. Keluarga memaksanya untuk menikah dengan seorang pria yang 12 tahun lebih tua dari usianya.

Usahanya untuk menolak pernikahan dengan kabur dari rumah, tidak berhasil. Ima pun menjalani pernikahan kendati hanya seumur jagung.

Kedua orang tua Ima, mengaku tidak mengetahui jika putri sulungnya sekarang menjadi orang penting.

“Tasik kelas setunggal SMA, kulo rabeaken tapi mbotet patut. Nggih niku, terus daftar bade ten Hongkong. (Masih kelas 1 SMA, saya nikahkan, tetapi tidak akur. Setelah itu daftar akan berangkat ke Hongkong),” kata Turiyo (55) didampingi istrinya, Alima (50), orang tua Ima Matul Maisaroh di rumahnya, Dusun Krajan RT 24/ RW 03, Desa Kanigoro, Kecamatan Pangelaran, Kabupaten Malang, Senin (25/7).

Kata Turiyo, saat proses magang jelang keberangkatan ke Hongkong, Ima mendapatkan tawaran dari majikan ‘sementaranya’ itu. Dia ditawari ke Amerika Serikat, karena sepupunya sedang tidak punya pembantu. Akhirnya Ima pun berangkat ke Amerika Serikat, sementara keinginannya ke Hongkong sirna begitu saja. Bahkan orang tuanya harus menebus kegagalannya itu.

“Saat itu harus membayar Rp 600 ribu, karena batal ke Hongkong,” tambah Turiyo. Turio pun mendengar cerita dari anak pertamanya itu, kalau gajinya selama tiga tahun pernah tidak dibayar majikannya. Saat itu, putrinya kabur dari sang majikan.

Setelah itu, putrinya juga mendapat kesempatan sekolah di Amerika Serikat. Kata Turiyo, sekolah dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu setelah pulang bekerja.

sebagai aktivis anti- perdagangan dan perbudakan manusia (CAST), Ima (kiri) sering diundang sebagai pembicara.

“Kemudian menikah dengan pria Meksiko dikaruniai dua anak, tetapi kembali pisah. Kemudian dengan pernikahannya yang sekarang, dengan pria Jawa Barat diberi satu anak,” kisahnya.

Kata Alima, putrinya dinilai sukses karena kerap mengirimi uang untuk keluarganya. Ima ikut membantu pembiayaan pembangunan rumah dan memberangkatkan umrah kedua orang tuanya. “Anaknya kecil, tapi sejak anak-anak sudah terlihat tekun, belajarnya sungguh-sungguh, ngajinya juga sungguh-sungguh,” ungkap Alima mengenang.

Turiyo maupun sang istri, Alimah, sama sekali tak tahu bahwa sang putri memiliki tugas sepenting itu di Amerika. Bahkan keluarga sama sekali juga tidak tahu jika Ima akan berpidato di hadapan orang penting sedunia.

“Saya malah nggak tahu. Bilangnya kerja kantoran,” kata ayah Ima, Turiyo, didampingi istri, Alimah, di rumahnya.

Meski tidak tahu detail pekerjaan anaknya, Turiyo mengaku bangga. “Sebagai orang tua, turut bangga dengan kesuksesan yang diraih Ima,” pungkas Turiyo dengan mata berkaca-kaca. (marksman)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest

Penulis: