Jakarta Greater

Berita Militer dan Alutsista

Ini Dia, “Bapak Alutsista” Indonesia

Terus terang, beberapa tahun silam saya kesal dengan keputusan pemerintah untuk mengganti proyek pemmbelian kapal selam Kilo dari Rusia menjadi kapal selam Changbogo buatan Korea Selatan. Banyak rekan-rekan di JakartaGreater juga kesal. Saat itu, muncullah istilah “Sialan…anjing herder diganti dengan anjing kampung”. Anjing kampung bisanya hanya muter-muter di rumah, mana berani keluar perkarangan yang ada anjing herder di sana.

Kini sekian tahun telah berlalu dan ternyata kekesalan saya itu salah adanya. Program kemandirian pembuatan kapal selam Indonesia sudah berjalan. On the Track.

Dua kapal selam Changbogo pertama dibangun di DSME Korea Selatan. Namun kapal selam ketiga, modul-modulnya akan dirakit di PT PAL Surabaya, Jawa Timur. PT PAL pun telah membangun galangan kapal untuk produksi yang mencontoh galangan kapal DSME Korea Selatan. Ratusan tenaga ahli telah belajar ke Korea Selatan. Sementara TNI AL sedang menyiapkan dermaga kapal selam di Surabaya Jawa Timur.

Informasi berharga kita terima dari rekan Dreamland, dalam komentarnya di artikel : Pembangunan Kapal Selam Nasional Segera Dimulai

Pembuatan kapal selam dari nol memerlukan waktu 52 bulan, sejak kontrak efektif. Yang dilakukan PT PAL saat ini, baru tahap menjahit modul-modul yang sudah dibuat di Korea Selatan. Dijadwalkan kapal selam ini (Changbogo ketiga) sudah diluncurkan Desember 2017 dan sudah serah terimakan kepada TNI AL Desember 2018.

Kapal selam Changbogo pertama akan diserahkan Maret 2017, kapal selam kedua diserahkan Oktober 2017. Adapun kapal selam ketiga, Desember 2018.

Kapal Selam ke-6 barulah benar-benar “100%” buatan PT PAL dengan modul-modul yang dibuat di Indonesia.

Kita pun telah mendengar berita bahwa Indonesia melakukan kerjasama pembuatan kapal selam Indonesia bersama DCNS Prancis dengan skema G to G. Ini artinya kapal selam Indonesia, akan dibantu oleh teknologi dari DSME Korea Selatan dan DCNS Prancis.

Semua itu terjadi di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014). Salut untuk langkah Pak SBY dan jajarannya pada saat itu, yang tetap melaju, meski banyak dikritik, karena terkesan memilih alutsista yang tidak gahar. Ternyata dugaan saya salah.

Dok. Presiden Ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono kepincut Kapal Selam Kilo
Ini Dia, "Bapak Alutsista" Indonesia 1

Kisah Light Frigate Sigma

Dulu, saya juga kesal dengan pengadaan Light Frigate Sigma yang bekerjasama dengan damen schelde naval shipbuilding (DSNS) Belanda. Awalnya saya dengar, sebagian dari 4 korvet Sigma buatan damen schelde naval shipbuilding (DSNS) akan dibangun di Indonesia. Ternyata semua dibangun di Belanda. Setelah itu, mulai ramai rencana pengadaan frigate untuk TNI AL.

Di forum militer ramai diperbincangkan nama frigate steregushchy class dari Rusia. Bahkan KSAL saat itu juga telah meninjau langsung galangan kapal steregushchy class. Eh … pemerintah malah memilih frigate/ Light Frigate dari DSNS Belanda. “Apa pula ini”, pikir saya dengan kesal. Mengapa semua yang dipesan, bukan alutsista alutsista yang gahar.

Waktu terus berlalu. Pemerintah Indonesia berhasil membujuk pemerintah Belanda, untuk merakit light frigate Sigma di galangan kapal PT PAL Surabya, Jawa Timur. Untuk light frigate Sigma yang kedua, 4 modul dibuat oleh PT PAL, dan DSNS hanya menyuplai 2 modul. PT PAL pun mulai bergerak menjadi pembuat kapal perang Light Frigate.

Bahkan Landing Platform Docks yang dikerjakan oleh PT PAL dengan bantuan Daesun Shipbuilding & Engineering Co, Korea Selatan, kini telah diekspor PT PAL ke Angkatan Laut Filipa (BRP Tarlac).

Kembali proyek ini digagas dan dimulai di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Begitu pula dengan proyek kerjasama pembuatan pesawat tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan. Saat kerja sama ini ditandatangani, sangat banyak pihak yang pesimis. Banyak pihak yang menyarankan, agar Indonesia kerjasama membuat pesawat tempur yang sudah ada bentuknya, sudah jelas bentuknya dan battle proven.

“Bagaimana mungkin kerjasama membuat pesawat tempur modern bersama Korea Selatan, yang bentuknya saja tidak ada. Ini berarti membuat pesawat tempur dari nol”. “Gile bener…apa mungkin, atau akan menjadi proyek buang uang yang sia-sia”.

Proyek itu sempat tertunda, karena sebagian teknologi inti yang dibutuhkan tidak dikasih oleh Amerika Serikat. Namun dengan kegigihan dan sikap setia Indonesia, proyek itu kini telah resmi berjalan dan menunggu kemunculan prototype pertama. Satu langkah besar telah dilalui.

Kembali proyek ini dikerjakan di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Berbagai Proyek Strategis

Proyek besar lainnya adalah Tank Nasional. Jika sebelumnya Indonesia bermain main di light tank, yang sebenarnya lebih cocok, untuk fungsi Recon (Reconnaissance), kini hijrah ke tank kelas medium yang sedang digarap oleh PT PAL dan FNSS Defense Systems, Turki. Prototype tank medium ini akan meluncur tahun 2017. Proyek lain yang tidak kalah prestisius adalah pengembangan Roket R-Han, peningkatan kualitas senjata Pinda, Panser Canon Badak, Rantis Komodo.

Di jaman Pak Susilo Bambang Yudhoyono pula, TNI diperkenalkan dengan senjata senjata canggih dan modern seperti : Pengadaan Tank Leopard, MLRS Astros 2, Howitzer 155mm caesar, ATGM Javelin, NLAW, Helikopter Apache dan lain sebagainya. Adanya aliran alutsista teknologi modern ke tubuh TNI, dengan sendirinya akan membuat para prajurit berkenalan dengan mesin militer teknologi tinggi, yang secara otomatis mengakat kemampuan tempur mereka.

Dengan demikian, patutlah kita sebutkan, Susilo Bambang Yudhoyono, adalah bapak Alutsista Indonesia. Jika pun belum ada pihak yang menganugerahi gelar itu kepada beliau, mungkin kita bisa memulainya dari JakartaGreater. Tak bisa dipungkiri, Pak SBY, telah mengubah wajah militer Indonesia menjadi modern. Bayangkan, bagaimana beliau mengirim para tentara yang terlibat perlombaan menembak militer, harus menggunakan senjata Pindad. Kini kita sendiri tahu efeknya buat Pindad.

Saya pun senang sekali setelah melihat Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2017. Semua proyek-proyek strategis yang telah dirintis oleh Pak SBY, dilanjutkan oleh Presiden Joko Widodo. Pemerintahan Presiden Jokowi terus mengawal proyek pembangunan frigate nasional, proyek Kapal Selam, proyek Pesawat Tempur, proyek tank medium, proyek MALE UAV dan lain sebagainya. Bahkan dalam RKP 2017, Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah memasukkan program pembelian sistem pertananan udara jarak menengah. Proyek ini masih sebatas gagasan di masa Pak SBY. Kini Pak Jokowi menggenapinya dengan memasukkannya ke RKP 2017, untuk mendapatkan anggarannya.

Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2017
Ini Dia, "Bapak Alutsista" Indonesia 2

Dengan tidak melupakan semua proyek strategis yang digagas Pak SBY, Presiden Jokowi juga mulai menggarap Poros Maritim Indonesia. Dalam RKP 2017, Presiden terlihat serius hendak memperkuat pertahanan dan keamanan garis terdepan wilayah Indonesia.

JakartaGreater

Share:

Penulis: