Parlemen Filipina Tolak Usul Pemakzulan Presiden Duterte

Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (Reuters/Romeo Ranoco)
Panel Kongres Filipina, Senin, menolak usul pemakzulan terhadap Presiden Rodrigo Duterte karena tidak memiliki substansi dan tak layak dilanjutkan. Keputusan ini menyiratkan Presiden Duterte mendapat dukungan luas dari parlemen.

Para anggota komisi parlemen Filipina dengan suara bulat menolak usul pemakzulan Gary Alejano, anggota fraksi minoritas di parlemen. Mereka memberi rekomendasi penolakan kepada rapat pleno parlemen yang beranggotakan 292 wakil rakyat, di mana Duterte mendapat dukungan mayoritas.

Alejano menuduh Duterte melakukan kejahatan besar dan mengkhianati kepercayaan rakyat dengan menyembunyikan asset, mendukung eksekusi ribuan warga Filipina dalam perang melawan narkoba, dan mengadopsi pendekatan tunduk kepada Tiongkok dalam sengketa Laut Cina Selatan.

Keputusan panel ini mengumumkan aduan yang tidak cukup bukti dan terlalu fokus pada pengakuan Alejano bahwa secara pribadi ia tidak menjadi saksi atas pembunuhan-pembunuhan berkaitan dengan narkotika yang dituduhnya disponsori oleh Duterte.

Alejano marah karena panel tidak mendengarkan bukti luas dari para saksi dan penyintas kekerasan berkaitan narkotika yang membuktikan bahwa “pemerintah telah membunuh mereka”.

Dia menyebut komisi ini telah mengambil keputusan yang sepenuhnya didasarkan kepada popularitas Duterte dan harus bertanggung jawab atas kediktatoran Duterte.

“Saya jamin Anda jika kita membiarkan presiden dengan kuasa seperti itu melanggar konstitusi, jika kita membiarkannya lebih jauh, maka akan menciptakan kediktatoran,” kata dia kepada wartawan.

Penasihat hukum presiden, Salvador Panelo, mengaku sudah memperkirakan keluhan pemakzulan itu bakal ditolak parlemen karena didasarkan pada kebohongan dan diniatkan untuk merusak reputasi Duterte, demikian Reuters.

Sumber: Antara