Jakarta Greater

Pengungsi Rohingya : Ini Seperti Mimpi Buruk

dok. Pengungsi Rohingya di Bangladesh (UNHCR/Vivian Tan)

Cox’s Bazar, Jakartagreater.com – “Ini seperti mimpi buruk,” kata pengungsi Rohingya, Hamid Husein mengenang malam mencekam sewaktu dirinya diserang tembakan oleh militer Myanmar. Malam itu sekitar pukul 20.00, Hamid Husein hendak tidur di rumahnya di distrik Maungdaw, Myanmar. Tiba-tiba terjadi kegaduhan.

Tentara Myanmar menyerang desanya, membakar rumah-rumah milik warga Rohingya. Hamid Husein dan 9 orang anggota keluarganya panik. Mereka berhamburan keluar. Tanpa disangka, secara brutal militer Myanmar menembaki warga yang hendak melarikan diri dari rumahnya. Suara teriakan dan tangisan beradu dengan desingan peluru tembakan.

Waktu seolah berhenti saat Hamid Husein yang hendak menyelamatkan diri dihantam peluru dari arah depan maupun belakang. Hamid Husein seketika terjatuh.”Saya tertembak dan langsung tidak sadarkan diri,” kata Hamid Husein sewaktu  ditemui Antara News pada Sabtu 24 Desember 2017 di kamp pengungsian Madhuchara, Kutupalong, Cox’s Bazar, Bangladesh.

Hamid Husein menunjukkan 2 luka bekas tembakan di bawah pundaknya sebelah kanan dan bekas luka di bagian punggungnya. Hamid Husein mengaku lupa kapan persisnya itu terjadi. Tetapi Hamid Husein mengaku tidak pernah bisa melupakan peristiwa tersebut dalam hidupnya. “Kakak saya yang juga kena luka tembak langsung meninggal di tempat,” kata Hamid Husein. “Saya ketakutan,” ujarnya lagi.

Menurut Hamid Husein, ia sempat tidak sadarkan diri. Saat terbangun, Hamid Husein berlari ke dalam hutan dalam kondisi masih terluka dan kesakitan. Dalam masa pelariannya tersebut, Hamid Husein tidak makan dan minum. Setelah 5 hari tertatih-tatih menyusuri hutan dan sungai, Hamid Husein menembus perbatasan Myanmar-Bangladesh dan tiba di Kutupalong.

Hamid Husein berhasil diselamatkan dari luka tembaknya dan mendapat tindakan operasi di Kutupalong. “Alhamdulillah saya masih hidup. Tapi saya selalu teringat kakak saya yang meninggal,” katanya. Hamid Husein mengaku enggan kembali ke kampung halamannya.”Saya tidak mau kembali lagi ke sana. Di sana mereka jahat kepada kami, semua dirusak, perempuan diperkosa, rumah-rumah dibakar,” ujar Hamid.

Pagi terburuk fajar menjelang. Mokhtar Ahmad yang belum lama kembali dari perantauannya di Malaysia untuk melepas rindu dengan orang tuanya tidak pernah menyangka bahwa itu adalah pagi terburuk dalam hidupnya. Tentara Myanmar menyerang rumah-rumah di desanya. Suara tembakan meneror dari luar.

“Mereka membakar rumah. Kalau kami di dalam rumah, habis terbakar. Kalau keluar rumah, kami ditembak,” ungkap Mokhtar Ahmad. Mokhtar Ahmad dan kedua orang tuanya berusaha menyelamatkan diri. Tetapi, baru selangkah keluar dari rumah, Mokhtar Ahmad langsung dilumpuhkan peluru tentara Myanmar, mengenai bawah pundaknya dari sisi sebelah kiri.

“Saat itu gelap, saya tidak tahu yang menembak dari arah mana,” kata Mokhtar Ahmad. Ia langsung terjatuh. Ibunya histeris melihatnya tertembak. Suasana semakin mencekam. Dalam keadaan terluka dan berdarah, Mokhtar Ahmad dipapah ayahnya berlari ke arah hutan menuju perbatasan. “Tangan saya diikat pakai kain yang dikalungkan ke leher.  Ibu saya terus menangis.

Saya sendiri merasa shock,” kata Mokhtar Ahmad yang bekerja di Malaysia sejak tahun 2011 sebagai pekerja besi itu. Mokhtar Ahmad bersama ibu dan ayahnya memakan apa saja yang ada di hutan. Ia tidak lagi memikirkan kesakitan akibat luka tembak, yang penting baginya bisa menyelamatkan diri. Dalam pelarian diri ke Bangladesh, Mokhtar Ahmad melihat banyak orang yang tewas di jalan.

“Mereka kena tembakan dan sudah tidak kuat. Banyak yang meninggal di hutan. Suasananya sangat menyedihkan,” ungkap pria berusia 30 tahun itu. Hari berganti hari begitu terasa lama bagi Mokhtar Ahmad . Perjuangan selama 15 hari menembus hutan, menyusuri sungai, naik turun bukit, terbayar sudah saat Mokhtar Ahmad dan orang tuanya berhasil melewati perbatasan.

“Ini memang begitu buruk,” ujar Mokhtar Ahmad yang lancar berbahasa Melayu. Di antara pengungsi lainnya, ia cukup mencolok karena memakai pakaian rapi dan jam tangan yang melingkari di tangan kirinya. Mokhtar Ahmad bisa saja tidak harus mengalami kejadian pahit seperti saat ini jika ia masih tetap di Malaysia.

“Tetapi saya tidak menyesal kembali ke Myanmar karena bisa tetap berkumpul dengan orang tua saya”. Bersama suami dan anak Hasina Begum mungkin masih beruntung karena masih bisa bersama dengan suami dan anaknya meskipun hidup di pengungsian. Hasina Begum selamat dari ancaman militer Myanmar karena bersembunyi di dalam hutan selama 9 hari.

Lalu ia dan keluarganya menyeberang ke perbatasan Bangladesh menggunakan perahu bersama para pengungsi Rohingya lain selama 2 hari. Ditemui di hunian sementara yang dibangun organisasi kemanusiaan Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT), Hasina Begum tampak murung di sudut dapur.

Ada kisah yang belum bisa ia lupakan sampai saat ini. “Saya belum bisa tidur dengan tenang sampai sekarang,” ujar Hasina Begum dengan terbata-bata. Hasina Begum banyak menundukkan wajahnya dari balik kerudungnya yang berwarna hitam.

Hasina Begum mengenang malam mencekam bagaimana ia menyaksikan sendiri bibi dan anak perempuannya diperkosa lalu dibunuh. Pasukan militer Myanmar dan penjaga keamanan sipil memorakporandakan rumah-rumah warga Rohingya. “Saya memanggil bibi saya untuk lari ke hutan,” kata Hasina Begum. Sebelum bibi dan dua putrinya berhasil melarikan diri, tentara militer Myanmar menembaki mereka.

“Saat tahu mereka belum tewas, para tentara memperkosa mereka. Setelah itu mereka dibunuh,”ujar Hasina Begum, kemudian ia terdiam. Air mata mengalir di pipinya. Tangisan Hasina Begum tanpa suara. Matanya yang terlihat kosong terus mengarah ke arah lantai. “Saya tidak bisa melupakan kejadian itu,” ujar Hasina Begum pelan. (Antara)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest

Penulis:

Follow Us