Jepang Akan Melanjutkan Pengujian X-2 Shinshin

Jet tempur siluman ATD X-2 buatan Mitsubishi Jepang © Japan MoD via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Badan Akuisisi Teknologi dan Logistik (ATLA) Jepang masih terus mempertimbangkan ide-ide pada jet tempur futuristik untuk menggantikan pesawat nasional Mitsubishi F-2, seperti dilansir dari laman Flight Global.

“Kami telah melakukan proses RFI secara terus-menerus, dan pertanyaan kami telah berubah”, kata seorang pejabat yang akrab dengan program itu untuk mengembangkan pesawat baru, yang kemungkinan akan disebut sebagai F-3.

Dia menolak untuk mengomentari sebuah cerita dari Reuters, yang mengutip sumber anonim, bahwa Lockheed Martin ingin menawarkan sebuah pesawat tempur hibrida gabungan dari F-22 dan F-35 untuk kebutuhan jangka panjang Jepang.

Pejabat itu mengatakan bahwa sejumlah proposal sedang ditimbang, mencatat bahwa Jepang dan Inggris juga memiliki studi bersama untuk melihat peluang potensial pada program jet tempur masa depan.

Tokyo telah menjelajahi sebuah jet tempur terbaru dengan sungguh-sungguh selama beberapa tahun. Pilihan termasuk untuk mengembangkan pesawat tempur baru secara swadaya, berkolaborasi dengan mitra asing atau membeli pesawat baru, juga termasuk meningkatkan jenis yang sudah ada.

Mengembangkan pesawat tempur berdasarkan jet tempur AS tidak sepenuhnya tanpa preseden, karena F-2 buatan lokal sebagian besar didasarkan pada F-16. Ini dirancang untuk membawa muatan yang lebih besar terutama dalam konfigurasi anti-kapal, F-2 memiliki area sayap 25% lebih besar daripada F-16, modifikasi lain seperti penggunaan material komposit yang lebih banyak.

Sayangnya, jet tempur F-2 terlalu mahal sehingga Jepang hanya mampu memperoleh 94 unit dari rencana untuk mengakuisisi 144 unit. Sebuah pesawat yang memadukan atribut F-35 dengan F-22 akan secara efektif menjadi pesawat baru, dengan potensi besar dalam hal pembengkakan biaya.

Jepang pernah mencoba untuk memperoleh F-22, tetapi pada tahun 1998 Kongres AS memblokir penjualan dan perizinan jet tersebut ke luar negeri. Sebuah varian ekspor yang telah mengalami downgrade seminim mungkin muncul pada tahun 2006, tetapi AS memiliki kekhawatiran pada kemampuan Jepang untuk mempertahankan teknologi yang ada pada F-22, menyusul kebocoran data tahun 2002 mengenai sistem tempur Aegis.

Sementara Mitsubishi membeli lisensi untuk memproduksi 42 unit jet tempur siluman F-35 di Nagoya, tidak jelas seberapa jauh pemerintah AS akan menyediakan transfer teknologi yang diperlukan untuk mengembangkan jet siluman hibrida.

Sementara itu, pejabat menegaskan bahwa program pesawat demonstran teknologi X-2 telah berakhir setelah melaksanakan total 34 penerbangan. Pada awalnya program tersebut direncanakan hingga 50 penerbangan.

“Kami telah menyelesaikan pengujian yang kami rencanakan. Tidak ada yang ditentukan tentang masa depan X-2. Kami dapat melakukan lebih banyak pengujian”, katanya.

Pesawat ATDX itu tetap berada di pangkalan udara Gifu. Awalnya ATDX itu dirancang, merupakan bagian dari upaya Jepang untuk melompat memulai basis industrinya dan menjelajahi teknologi yang diperlukan untuk pesawat generasi kelima atau keenam yang tersembunyi.

Upaya ini terdiri dari 15 program terpisah yang menyelidiki teknologi spesifik seperti ruang senjata, sensor, tautan data dan area lain yang dianggap perlu untuk pesawat tempur canggih.

Program X-2 juga dilihat sebagai cara bagi para insinyur pesawat yang lebih tua disana untuk memberikan pengetahuan kepada generasi yang lebih muda.