Jurus Gripen Hadapi Pesawat Tempur Siluman

Jakartagreater.com – Membangun dan mempertahankan pesawat tempur generasi kelima yang disebut pesawat siluman, mahal! Program Gripen sebaliknya berfokus pada sistem telekomunikasi ofensif dan defensif atau peperangan elektronik untuk bertahan dan bertarung diudara.

Jelas, fakta bahwa Gripen E tidak dilengkapi dengan kemampuan siluman bukanlah rahasia. Keputusan itu dibuat bersama oleh Saab dan Angkatan Udara Swedia. Hal ini dikatakan Komandan Angkatan Udara Carl-Johan Edstrom pada konferensi pers saat penyerahan pesawat tempur Gripen E seri-pertama ke program uji bersama pada minggu lalu, lansir NYteknik.

“Kami percaya itu adalah kemampuan telekomunikasi ofensif dan defensif yang akan memberi kami kelangsungan hidup dan superioritas terhadap lawan,” katanya.

Kemampuan sembunyi-sembunyi (stealth dalam bahasa Inggris) telah menjadi teknologi yang semakin umum untuk pesawat tempur, yang berarti bahwa pesawat menjadi sulit dideteksi oleh radar. Kemampuan ini terutama dicapai melalui bahan khusus dan desain geometri. Sinyal radar sama sekali tidak memantul kembali seperti yang dialami pesawat konvensional.

Yang pertama memiliki kemampuan siluman adalah pesawat Lockheed F-117 Nighthawk Amerika Serikat yang ditugaskan pada tahun 1983. Contoh lainnya adalah F-22 Raptor dan F-35 Lightning II, keduanya dari Lockheed Martin. Ada juga Rusia yang memiliki Sukhoi SU-57 dan Cina dengan Chengdu J-20 dan Shenyang FC-31.

Tetapi teknologi siluman mahal untuk dikembangkan dan dipelihara, kata Jonas Hjelm, Pemimpin area bisnis Aeronautics di Saab, dalam sebuah wawancara dengan Ny Teknik.

– Jika Anda melepas palka di pesawat siluman untuk melakukan perawatan, ini seperti Anda harus mengecat ulang rumah. Selain itu, bentuk geometris berarti Anda harus kompromi dengan sifat aerodinamis pesawat. Itu sebabnya kami memutuskan sejak awal bersama dengan pelanggan Swedia untuk tidak melangkah ke sana, katanya.

Gripen juga merupakan pesawat tempur yang relatif kecil, yang dengan sendirinya berarti jejak radar yang lebih kecil.

Sebagai gantinya, Saab telah berinvestasi dalam sistem pasif dan aktif untuk telekomunikasi, atau perang elektronik biasa disebut. Contohnya adalah pemancar interferensi yang menyebabkan radar lawan diisi dengan target yang salah.

Radar AESA dan Penjejak Infra-Merah

Radar Active Electronically Scaned Array (Aesa) canggih memiliki kemampuan untuk mendeteksi pesawat siluman yang lebih baik dibandingkan dengan versi sebelumnya. Selain itu, Gripen memiliki sensor pencari panas (yang dapat mendeteksi cahaya inframerah dari sumber panas).

– Anda tidak pernah menjadi sama sekali tidak terlihat. Tidak peduli berapa banyak siluman yang Anda miliki, Anda selalu memancarkan panas, yang dapat dideteksi oleh sensor inframerah. Saya tidak mengatakan bahwa siluman itu buruk – tetapi Anda tidak boleh tertipu dengan berpikir bahwa Anda menjadi tidak terlihat hanya karena Anda memilikinya, kata Jonas Hjelm.

Kecerdasan Buatan

Karena sistem peperangan elektronik, radar dan deteksi infra-merah telah menjadi lebih canggih, jumlah data telah meningkat sedemikian rupa sehingga pilot tidak dapat menanganinya secara manual. Gripen telah menjadi yang terdepan dalam hal interaksi manusia-mesin, dalam bahasa Inggris disebut Human Machine Interface (HMI).

Algoritma mengumpulkan data dari berbagai sensor (disebut sensor fusion menggunakan kecerdasan buatan) dan menyajikan informasi yang paling relevan saat ini. Sensor fusion bukanlah hal baru bagi Gripen E, tetapi peningkatan ini sangat berbeda dibandingkan dengan versi C / D sebelumnya, menurut Jonas Hjelm.

Kokpit Gripen dengan Layar Head Up Display yang lebar (foto: Stefan Jerrevång)

Layar Display Luas

Fitur baru lainnya dari Gripen E adalah tampilan layar yang lebih besar dan lebih luas di kokpit yang memungkinkan pilot untuk lebih mengontrol informasi yang disajikan.

– Ini tidak terlalu aneh, tetapi itu berarti bahwa pilot dapat tampil dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan dengan tiga display tetap yang ada pada kokpit di Gripen C / D, kata Jonas Hjelm.

Jonas percaya bahwa kecerdasan buatan akan menjadi semakin penting di masa depan untuk memungkinkan pesawat mengambil alih tugas yang semakin besar dari pilot. Tujuannya adalah untuk membebaskan pilot dan memotong waktu dalam loop OODA (Observe, Orient, Decide, Act).

“Ini bukan revolusi, tetapi perubahan batas secara bertahap sehingga kami dapat memperbarui informasi lebih cepat sehingga menjadi relevan bagi pilot,” kata Jonas Hjelm.