Prancis, Kekuatan Nuklir yang Terlupakan

Jakartagreater.com – Paris mungkin tidak memiliki cadangan nuklir dalam jumlah besar, tetapi tetap bisa membuat kerusakan yang sangat serius jika terjadi konflik dengannya, lansir National Interest.

Persenjataan nuklir Prancis cukup besar, dengan komponen berbasis udara dan laut. Berikut ini rincian kemampuan nuklir Prancis.

Dua Sistem Nuklir

Tidak seperti Amerika Serikat atau Rusia, yang mempertahankan triad nuklir dari rudal berbasis darat, diluncurkan di kapal selam, dan diluncurkan udara, Prancis hanya memiliki dua sistem nuklir, yakni kapal selam yang dapat meluncurkan rudal balistik nuklir dan persediaan rudal jelajah nuklir yang diluncurkan dari udara.

Rudal Balistik M51

M51 adalah jantung dari detterent nuklir Perancis di laut. Setiap rudal memiliki enam hingga sepuluh Multiple Independent Reentry Vehicle (MIRV), dan masing-masing MIRV itu diperkirakan memiliki hululedak 75 hingga 110 kiloton.

Jangkauannya diperkirakan 8.000 kilometer, atau hanya di bawah 5.000 mil dan rudal diluncurkan dari kapal selam Triumphant class bertenaga nuklir.

Air-Sol Moyenne Portée (ASMP)

Air-Sol Moyenne Portée adalah komponen detterent strategis Prancis yang diluncurkan oleh udara. Rudal memainkan peran unik dalam pencegahan Perancis, di mana penggunaannya akan dianggap sebagai semacam peringatan sebelum penggunaan senjata nuklir yang lebih luas akan digunakan dalam konflik.

Rudal nuklir menggunakan desain mesin ramjet berkecepatan tinggi dan menggantikan bom nuklir free fall Prancis sebelumnya. Menurut CSIS, rudal “berakselerasi hingga kecepatan Mach 2.0 dalam lima detik, setelah itu booster cartridge dikeluarkan dari nozzle pembuangan ramjet. Kemudian, motor ramjet bertenaga cair (minyak tanah) mengambil alih dan berakselerasi ke kecepatan maksimum Mach 3. ” Meskipun tidak memiliki kecepatan hypersonik (Mach 5+), namun kecepatan ini cukup cepat. CSIS memperkirakan bahwa hanya 40 hingga 50 rudal yang pernah diproduksi Prancis.

Hade’s

Sistem rudal Hadès pada komponen berbasis darat dari detterent strategis Perancis – meskipun hanya pada tingkat taktis, bukan strategis, karena sistemnya relatif pendek 480 kilometer, atau berjarak sekitar 300 mil.

Hades diciptakan pada tahun 1975 sebagai opsi mobile untuk mempertahankan perbatasan Prancis jika terjadi invasi oleh Uni Soviet. Bagian dari apa yang menghancurkan program ini adalah jangkauan rudal, yang akan menempatkan Jerman Timur tepat di titik jatuh Hades.

Setelah penyatuan kembali Jerman pada tahun 1990, secara politis tidak dapat dipertahankan lagi untuk memelihara persediaan senjata nuklir taktis yang hanya dapat menjangkau sampai sejauh Jerman, dan rudal serta peluncur kemudian dibongkar pada pertengahan 1990-an.

Sistem detterent nuklir Prancis ditandai dengan garis independen yang jelas. Prancis meninggalkan Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO) pada tahun 1966, dan baru kembali pada tahun 2009. Salah satu masalah adalah keengganan Perancis untuk menempatkan persenjataan nuklir strategisnya di bawah payung NATO.

Prancis adalah salah satu kekuatan rudal terkemuka di dunia – di samping beragam rudal konvensional dan nuklir, Prancis juga merupakan anggota tetap dewan keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.