Benarkah Peluang F-21 Sudah Pupus di India?

Jakartagreater.com – Peluang F-21 kemungkinan akan menyusut secara dramatis, setelah dikabarkan Angkatan udara India lebih memilih pesawat tempur LCA Tejas buatan dalam negeri dan akan membatalkan tender untuk pesawat tempur buatan asing, lansir Forbes.

Tender itulah yang memotivasi pabrikan pesawat Amerika Lockheed Martin LMT untuk mengembangkan varian F-16 yang unik dan sangat canggih yang disebut perusahaan sebagai “F-21.”

Angkatan udara India pada 2019 mengumumkan akan menghabiskan anggaran hingga US$ 15 miliar untuk membeli 114 pesawat tempur. Rencananya pesawat baru nantinya akan menggantikan jet buru sergap MiG-21 lama, dan akan terbang bersama Jaguar, Mirage 2000 dan Rafale Prancis, MiG-29 dan Su-30 Rusia dan pesawat tempur Tejas India, dalam apa yang digambarkan Lockheed sebagai “ekosistem pesawat tempur terbesar di dunia. ”

F-21, Boeing F / A-18E / F, Rafale, Typhoon Eropa, Gripen E Swedia, MiG-35 dan Su-35 Rusia semuanya merupakan pesaing. Perusahaan India akan membangun jet tempur baru dengan lisensi.

Kini tidak lagi. “Angkatan Udara India mengalihkan itu ke LCA,” kata Kepala Staf Pertahanan Bipin Rawat dalam sebuah wawancara. Angkatan udara akan memesan 83 Tejas tambahan setelah pesanan 40 LCA sebelumnya yang sudah dibayar oleh Angkatan Udara.

83 unit LCA Tejas tersebut akan menelan biaya US$ 6 miliar. Itu kurang dari setengah yang direncanakan New Delhi untuk dibelanjakan dalam tender sebelumnya, menyiratkan bahwa faktor anggaran yang memotivasi keputusan tersebut.

“IAF mengatakan, saya lebih suka mengambil pesawat LCA, itu bagus,” kata Rawat.

Angkatan udara India pada tahun 2020 hanya akan mempertahankan 28 skuadron tempur daripada 42 skuadron yang seharusnya. Angkatan Udara berharap untuk membangun tiga skuadron baru pada tahun 2020 yang terdiri dari Rafale, Su-30 dan LCA Tejas.

Hindustan Aeronautics , mengklaim Tejas yang pertama kali terbang pada tahun 2001, jauh lebih canggih daripada F-21. Namun LCA Tejas yang ringan dan bersayap delta hanya dapat membawa sekitar 8.000 pon persenjataan — setengah dari berat yang bisa diangkut oleh Su-30MKI India. Selain itu Tejas juga lebih lambat dan kurang bermanuver dari pesawat tempur asing buatan India lainnya.

F-21, sebaliknya akan mandapat cangkokan teknologi dari pesawat tempur siluman F-22 dan F-35. “F-21 memiliki komponen umum dan dari pembelajaran pada jet generasi kelima F-22 dan F-35 dan akan berbagi rantai pasokan bersama pada berbagai komponen,” kata Lockheed di situs webnya pada pagi hari 20 Februari, 2019.

Beberapa jam kemudian, klaim itu hilang dari situs. Namun bagaimanapun, F-21 akan menjadi versi yang paling canggih dari pesawat tempur F-16, yang terbang untuk pertama kalinya pada tahun 1974.

Desain F-21 memiliki keunggulan pada tampilan kokpit baru, tangki bahan bakar konformal, tulang belakang besar yang dapat mengakomodasi sistem komunikasi atau jammer radar, perangkat towed radar decoy, sensor inframerah baru dan probe pengisian bahan bakar untuk digunakan dengan pesawat tanker udara buatan Rusia.

Produksi F-21 akan memperpanjang salah satu program pesawat tempur paling sukses di dunia.

Sekitar 2.300 unit F-16 sudah terbang dengan lebih dari 30 Angkatan Udara di seluruh dunia, terhitung tidak kurang dari empat persen dari semua pesawat militer dunia. Tetapi bahkan tanpa mendapat pesanan India, Lockheed mengklaim pihaknya dapat terus membangun F-16 baru hingga tahun 2030.