Warga AS Setuju Militer Bantu Polisi Tangani Demonstrasi Kasus Floyd

Warga Amerika Serikat mendukung pelibatan pasukan militer untuk membantu polisi dalam mengatasi kerusuhan di negara tersebut, pasca kematian warga kulit hitam George Floyd oleh anggota polisi.

Laman Russia Today, Rabu, 3 Juni 2020, melaporkan ratusan ribu orang turun ke jalan dalam sepekan terakhir untuk menyerukan keadilan bagi Floyd.

Baca Juga:

Putin Tetapkan Ketentuan Penggunaan Senjata Nuklir Rusia

Melihat Pesawat Tempur Su-30MK2V Vietnam

Jajak pendapat yang dilakukan perusahaan intelijen data, Morning Consult, 31 Mei dan 1 Juni melaporkan sebanyak 58 persen warga AS setuju dengan usulan tersebut.

Selain itu, sepertiga responden menyatakan ‘sangat mendukung’. Sementara 30 persen dari responden menentang usulan itu hingga waktu tertentu untuk pengerahan pasukan.

Survei yang dilakukan Morning Consult itu menggunakan sampel nasional dari 1.624 pemilih terdaftar. Para responden tersebut diwawancarai secara online.

Selain survei pengerahan militer, jajak pendapat lain juga dilakukan perusahaan itu terkait berlangsungnya unjuk rasa. Sebanyak 54 persen responden menyatakan mendukung aksi protes tersebut.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengerahkan pasukan militer untuk menghentikan demonstrasi yang berujung anarkis dengan penjarahan dan perusakan.

“Wali kota dan gubernur harus membangun kehadiran penegakan hukum yang luar biasa sampai kekerasan diatasi,” ujar Trump di Taman Mawar Gedung Putih, Selasa, 2 Juni 2020.

“Jika sebuah kota atau negara menolak untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan dan properti penduduk mereka, maka saya akan mengerahkan militer AS dan dengan cepat menyelesaikan masalah bagi mereka,” ujar Trump menambahkan.

Demonstrasi digelar warga sebagai bentuk solidaritas terhadap Floyd dan warga Afrika-Amerika lainnya yang tewas akibat kekerasan pihak kepolisian. Unjuk rasa itu menyebar ke ratusan kota di 50 negara bagian AS.

Floyd yang merupakan warga keturunan Afrika-Amerika, tewas akibat kekerasan yang dilakukan polisi. Sebelum tewas, dia mendapatkan tekanan lutut pada bagian leher oleh seorang polisi selama lebih dari 8 menit. Sementara oknum anggota polisi yang menyebabkan tewasnya Floyd, telah dipecat.