Pembelian Su-35 Indonesia Tergantung ‘Nasib Mesir’ ?

Jakartagreater.com – Foto-foto pesawat tempur Su-35 dalam warna kamuflase Angkatan Udara Mesir yang terbang di Rusia bocor pada 22 Juli. Kemungkinan pengiriman batch pertama Su-35 ke negara Afrika itu dijadwalkan akan dilakukan pada beberapa minggu kedepan.

Mesir adalah klien asing ‘ketiga’ untuk Su-35, pesawat tempur paling canggih yang saat ini dalam pelayanan di Angkatan Udara Rusia yang mulai beroperasi pada tahun 2014, dan pembeliannya akan memberikan Mesir pesawat tempur yang paling tangguh di Afrika atau dunia Arab. Klien sebelumnya termasuk China, yang memesan 24 jet pada tahun 2015, dan Indonesia yang belum menyelesaikan pembayaran untuk 11 pesawat tempur yang dipesannya pada tahun 2017, lansir Military Watch Megazine.

Pembelian Su-35 ke Mesir kemungkinan akan membangkitkan respons yang cukup besar – baik di Israel dan Turki yang merupakan saingan militer lama Mesir, dan yang paling penting, di Amerika Serikat. Pemerintahan Donald Trump telah mengancam klien-klien besar untuk senjata Rusia dengan sanksi ekonomi yang keras di bawah Undang-Undang Countering American Advisories Through Sanctions Act (CAATSA), yang berusaha mendorong Rusia keluar dari pasar senjata global dan mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar untuk pemasok Barat.

Mesir telah diancam oleh Washington dengan sanksi di bawah CAATSA, dimana Sekretaris Negara AS Mike Pompeo mendesak Kairo untuk membeli persenjataan dari negara-negara Barat untuk memodernisasi armada tempurnya atau menghadapi konsekuensi serius.

Mesir telah menolak upaya AS untuk memaksanya membatalkan pembelian Su-35 yang direncanakan, dan telah menerima dukungan Rusia untuk pembelian jet ini. Alasan Kairo adalah bahwa pabrikan Barat hanya memasok Mesir dengan senjata yang di downgrade – menolak mengirimkan pesawat tempur kelas berat dan hanya memasok dengan pesawat tempur F-16 ringan dengan avionik yang di downgrade dan tanpa senjata rudal udara ke udara jarak jauh yang layak atau rudal presisi untuk serangan darat.

Selain itu, setelah adanya penggulingan pemerintahan Mesir pada tahun 2013, AS secara khusus memblokir pasokan suku cadang kepada militer Mesir yang secara serius menghambat upaya memadamkan pemberontakan pada saat itu, menyebabkan pergeseran ketergantungan Mesir yang lebih besar pada persenjataan buatan Rusia.

Penolakan Mesir untuk memutuskan hubungan pertahanan dengan Rusia di bawah tekanan Barat dapat mengirim sinyal kuat ke klien potensial lainnya untuk pesawat tempur Rusia termasuk Su-35. Jika Washington hanya menggertak mengenai sanksi, pihak lain yang berkepentingan akan menganggapnya sebagai isyarat untuk memperoleh pesawat baru Rusia, atau jika sanksi tidak diterapkan, ini tidak hanya akan mengurangi prospek penjualan senjata Barat di masa depan ke Mesir tetapi juga akan memberikan peluang bagi Rusia dan kemungkinan negara lain seperti Cina untuk meningkatkan ekonomi Mesir dan mengurangi pengaruh Barat di negara Afrika yang terletak strategis.

Tanpa pemberian sanksi kepada Mesir, dapat memberanikan klien potensial lainnya untuk melanjutkan rencana pembelian senjata Rusia. Di antara negara-negara yang berpotensi terkena dampak adalah Indonesia, yang kontraknya untuk pembelian Su-35 saat ini masih belum menentu, antara menyatakan tekadnya untuk tidak tunduk pada tekanan AS atau mencari tawaran lain untuk alternatif pesawat tempur buatan Barat seandainya Indonesia membatalkan Kesepakatan Su-35.

Jika pembelian Su-35 Mesir dengan ancaman di bawah undang-undang CAATSA berakhir dengan kegagalan Barat, kemungkinan akan mengarah pada perubahan di Indonesia menuju opsi sebelumnya, yakni melanjutkan pembelian Su-35.