Upgrade Level Pertahanan, Indonesia Siapkan Anti Drone

Peperangan terbaru antara Ukraina dengan Rusia, dan juga Azerbaijan dengan Armenia, menunjukkan bahwa teknologi peperangan terus berkembang dan mengubah jalannya pertempuran. Tank yang mahal maupun kapal perang, kini bisa menjadi target empuk dari serangan drone atau pun drone kamikaze, jika sistem pertahanan udara tidak bisa diandalkan.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sempat memaparkan bahwa peperangan terbaru mulai terlihat adanya pengerahkan kumpulan drone dalam jumlah besar, drone kamikaze, dan sistem udara otonomus.

Untuk mengantisipasi potensi ancaman itu, saat ini Kementerian Pertahanan Indonesia (Kemhan) sedang menyiapkan sistem satelit dalam jumlah yang cukup, agar adanya redundancy (cadangan pengganti) dan kemampuan luar angkasa yang memadai.

Penyiapan sistem satelit itu disampaikan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional TNI AU Tahun 2022, dengan topik: “Tantangan TNI AU Dalam Perkembangan Teknologi Elektronika Penerbangan”, di Jakarta, 8/11/2022, ungkap laman Kementerian Pertahanan Indonesia.

Membangun Air Denial

Menurut Prabowo Subianto, dengan mengambil pelajaran dari pertempuran Rusia dan Ukraina, adalah penting untuk mengenali tren perkembangan sistematik dengan mengambil sejumlah langkah, diantaranya mempercepat penggunaan sistem yang lebih murah, namun dengan jumlah yang lebih banyak.

Selain itu Indonesia juga perlu memikirkan kembali paradigma tradisional tentang keunggulan udara dengan mengutamakan air denial serta memprioritaskan pembangunan kemitraan dengan berbagai pihak komersial serta industri swasta.

Baca juga: Indonesia Bangun Sistem Rudal Pertahanan Udara

Doktrin Melawan UAS/UAV

Selain itu, pertahanan udara juga membutuhkan pengintegrasian kemampuan cyber ke dalam rencana operasi dan pelaksanaan taktis, serta mengembangkan doktrin melawan UAS/UAV, akuisisi senjata, mengembangkan taktik serta melatih penaklukan UAS/UAV, ungkap Prabowo Subianto.

Satu catatan lain yang digarisi oleh Menteri Pertahanan Prabowo dalam seminar ini adalah, penting untuk menopang kebutuhan pemenuhan alutsista TNI AU dengan pengembangan industri pertahanan dalam negeri, karena Indonesia tidak bisa seterusnya mengandalkan produksi dari luar negeri.

Membangun Sistem Anti Drone

Sebelumnya, pada rangkaian event Indo Defence 2022, di Jakarta, Kementerian Pertahanan Indonesia telah menandatangani kontrak kerja sama jual beli dengan Bogazici Savunma Teknolojileri, Turkiye untuk Anti-drone and Weaponry (Persenjataan), 2/11/2022.

Kementerian Pertahanan Indonesia menandatangani kontrak kerja sama jual beli dengan dengan sejumlah produsen alat pertahanan Turki, termasuk Bogazici Savunma Teknolojileri, Turkiye untuk Anti-drone and Weaponry, di Jakarta, 2/11/2022. (@Kemhan RI)
Kementerian Pertahanan Indonesia menandatangani kontrak kerja sama jual beli dengan dengan sejumlah produsen alat pertahanan Turki, termasuk Bogazici Savunma Teknolojileri, Turkiye untuk Anti-drone and Weaponry, di Jakarta, 2/11/2022. (@Kemhan RI)

Melalui perusahaan Bogazici Savunma Teknolojileri, Turki saat ini sedang mengembangkan Drone Detection and Neutralization System, yang diberi nama ILTER Family.

Bogazici Savunma Teknolojileri mengembangkan sistem teknologi  pendeteksi dan penetralisir drone/UAV  dengan muatan produksi dalam negeri sebesar 90,45%. Visi perusahaan terhadap sistem ini adalah untuk menjadi domestik dan orisinal.

Drone/UAV Detection and Neutralization System ILTER, merupakan sistem deteksi dan supresi drone yang canggih dengan kemampuan deteksi, jamming, dan spoofing (Meniru) otomatis terhadap Drone/UAV yang berkomunikasi dengan remote kontrol mereka.

ILTER RF Drone Detection and Neutralization System (@Bogazici Savunma Teknolojileri)

Drone Detection and Neutralization System ILTER Family dibagi ke dalam dua jenis produk:  RF Based System dan RADAR Based System.

Oleh karena itu ILTER Family memiliki beberapa varian: ILTER J250, ILTER HP Mobile High Power GNSS Spoofing and ISM Jamming System, serta beberapa varian lainnya.

Baca juga: Pembangunan Kapal Perang Indonesia Dilengkapi Rudal Canggih

Kemampuan Deteksi:

Sistem ini memiliki kemampuan mendeteksi UAV (Unmanned Aerial Vehicle)/ Drone di ketinggian rendah, baik drone jenis sayap berputar maupun tetap. Kemampuan lainnya adalah mendeteksi komunikasi nirkabel drone dengan remote control-nya.

Drone Detection and Neutralization System ILTER Family (@Bogazici Savunma Teknolojileri)
Drone Detection and Neutralization System ILTER Family (@Bogazici Savunma Teknolojileri)

Kemampuan Jamming:

Mengganggu (Jamming) pita frekuensi komunikasi antara kendali jarak jauh dengan Drone/UAV musuh. Selain itu juga Jamming penerbangan otonom berdasarkan pita frekuensi GNSS, GLONASS, GALILEO, BEIDOU dan Spoofing (imitate/ meniru) di band GNSS.

Spoofing GNSS:

Sinyal GNSS palsu yang dihasilkan oleh ILTER untuk memblokir penerbangan musuh yang otonom, serta menghapus ancaman ke zona aman.

Membangun Pertahanan Udara

Adapun untuk sistem rudal pertahanan udara, Indonesia dan Turki melakukan kerja sama meliputi: Khan Missile System, Roketsan Trisula-O Missile System (OMS), Trisula-O Weapon System (OWS), Trisula-U Missile System, Trisula-U Weapon System (UWS), dan Atmaca Missile at FFBNW OPV and OPV 90 M. Kesepakatan ini diteken di Jakarta, 2/11/2022 oleh Kementerian Pertahanan Indonesia dengan Roketsan, Turkiye dan PT. Noahtu Shipyard.

*photo cover: Atraksi militer Indonesia dalam event Indo Defence 2022, di Jakarta. (@ Tim Media Prabowo Subianto)