Pembangunan Armada Udara, Satelit Militer dan Pertahanan Udara RI

Indonesia terus membangun kekuatan armada udaranya dengan melakukan kombinasi usaha melalui pengadaan pesawat tempur yang canggih dari negara asing, yang secara bersamaan mengembangkan juga pesawat tempur buatan dalam negeri.

Karena itu, saat ini Indonesia dalam proses pengadaan pesawat tempur Rafale dari Prancis, namun secara bersamaan, Indonesia juga telah merintis kemandiriannya, yang dimulai dengan kerja sama pembangunan pesawat tempur KFX/IFX atau KF-21 Boramae dengan Korea Selatan.

Perkembangan pembangunan pesawat tempur KFX/IFX cukup membanggakan karena telah menerbangkan prototype ke-2 pada bulan November ini. Rencananya pada tahap awal, akan ada pembangunan 6 prototype pesawat tempur KFX/IFX.

Baca juga: Pesawat Tempur Rafale, Jet Tempur KFX/IFX dan Kemandirian Indonesia

Kerja sama dengan Korea Selatan ini dikarenakan Indonesia masih memiliki sejumlah teknologi yang belum dikuasai di bidang jet tempur, namun Indonesia terus berusaha mengejar ketertinggalannya itu.

Tekan Anggaran, Gandakan Kuantitas Pesawat

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto berharap, dengan keberadaan pesawat tempur KFX/IFX, nantinya Indonesia bisa memangkas anggaran untuk pembelian pesawat tempur. Perbandingan biaya yang dicontohkan Prabowo adalah, dengan anggaran satu pesawat tempur Rafale, Indonesia bisa mendapatkan 2 pesawat tempur generasi 4,5 KFX/IFX.

Perakitan prototipe pesawat tempur KFX?IFX ke-3 (@KAI Korea)
Perakitan prototipe pesawat tempur KFX?IFX ke-3 (@KAI Korea)

Hal ini disampaikan Prabowo Subianto ketika menjadi keynote speaker di Seminar Nasional TNI AU 2022: “Tantangan TNI AU dalam Perkembangan Teknologi Elektronika Penerbangan”, Jakarta, 8/11/2022.

Konsep Armada Udara Indonesia ke Depan

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menggambarkan pesawat tempur Indonesia ke depannya akan dilengkapi dengan Wingman berupa drone.

Satu pesawat tempur Rafale atau F-15 Indonesia misalnya, digambarkan akan dikawal oleh 15 drone yang semuanya memiliki rudal pertahanan udara.  Dengan demikian satu skuadron pesawat tempur ke depannya bisa menjadi 10 hingga 15 skuadron, karena mendapatkan pendukung dari drone tempur.

Jumlah atau kuantitas dari alutsista menjadi penting, karena era pertempuran sekarang ini faktor jumlah (kuantitas) jadi menentukan. Dari pada memiliki 10 pesawat canggih, lebih baik memiliki 30 pesawat yang tidak secanggih itu, namun banyak  dan didukung dengan kemampuan yang memadai.

Baca juga: KAI dan Irkut Incar Potensi Pasar Pesawat Tempur di Indonesia

Dengan perkembangan teknologi dan konsep armada pesawat tempur yang ditemani drone wingman, akan membuat pembangunan satu skuadron tidak lagi semahal seperti sekarang, sehingga hal itu akan  meningkatkan kemampuan militer indonesia dengan cepat.

Sistem Satelit

Medan peperangan saat ini tidak lagi terkotak kotak, antara domain darat, laut dan udara. Konsep peperangan sudah bercampur dan kabur, sehingga NATO pun menyebutnya dengan istilah AIRLAND Battle. Peperangan “Air” dan “Land”, kini sudah menjadi satu. Tidak bisa ada kemajuan terobosan taktis di darat tanpa dukungan udara. Begitu juga percuma unggul di udara jika pasukan darat tidak bisa menguasai saran-sasaran penting.

Baca juga: Upgrade Level Pertahanan, Indonesia Siapkan Anti Drone

Untuk merancang sistem tempur yang komprehensif, Kementerian Pertahanan sedang mempersiapkan sistem satelit mini dan mikro yang bukan hanya satu, dua, atau empat unit.  Jumlah satelit itu dalam hitungan yang cukup sehingga ada redundancy (kelebihan), apabila satu atau dua satelit ditembak musuh, masih ada penggantinya.

Satelit ini dibutuhkan karena medan pertempuran kini meliputi medan peperangan yang terlihat dan juga tidak terlihat.

Pengembangan satelit militer ini juga memungkinkan semua unit kombatan bisa memanfaatkan ruang udara (space).

Air Denial

Selain membangun armada pesawat tempur dan sistem satelit, Indonesia juga mulai memikirkan konsep air denial.

HISAR Air Defense Missile System (@Roketsan)
Indonesia kerja sama dengan Turki untuk HISAR / TRISULA Air Defense Missile System (@Roketsan)

Menurut Prabowo pertahanan udara di darat harus diperbanyak karena biayanya lebih murah.  Harga satu rudal pertahanan udara di kisaran 2 sampai 5 juta dolar AS. Sementara harga satu pesawat canggih bisa mencapai 200 juta dolar AS. Itu artinya, harga 30 rudal lebih murah dari pada satu pesawat canggih.

Baca juga: Indonesia Bangun Sistem Rudal Pertahanan Udara

Untuk itu Prabowo ingin memperbanyak komando pertahanan udara, serta melengkapi batalyon-batalyon infanteri dengan rudal perorangan anti pesawat, anti drone dan anti helikopter.

Pentingya Kerja Sama

Teknologi yang meluas, open source dan harga yang menurun harus dimanfaatkan Indonesia untuk membangun dan memperkuat taktik dan teknologi militer. Termasuk penggunaan kumpulan drone yang harus dioptimalkan, serta berbagai sistem robotik lainnya.

Industri militer yang digarap oleh swasta terkadang bergerak lebih cepat, dan situasi itu harus dimanfaatkan oleh Indonesia.

Kemitraan (partnership) internasional dan lintas sektor di bidang pertahanan di dalam negeri, dibangun Indonesia dengan tujuan agar bisa melompat untuk meraih kemampuan teknologi modern secara mandiri.

Video Pemaparan Menhan Prabowo

*photo cover: Prototipe ke-2 Pesawat Tempur KFX/IFX / KF-21 002 “Boramae” Sukses Terbang Perdana. (@ DAPA Korea Selatan)

Satu pemikiran pada “Pembangunan Armada Udara, Satelit Militer dan Pertahanan Udara RI”