Jakarta Greater

Peringkat Kekuatan Militer Indonesia Tahun 2023

Tank Leopard 2A4 Kostrad
Tank Leopard 2A4 Kostrad

Peringkat kekuatan militer Indonesia tahun 2023 naik ke urutan 13 dunia, berdasarkan power indeks situs Global Firepower, 9 Januari 2023. Sebelumnya, pada tahun 2022, peringkat Indonesia menempati urutan 15 dari 140 negara.

Dalam Top 15 besar, Indonesia naik peringkat bersama: Inggris (peringkat 5), Pakistan (7),  dan Ukraina (15).

Adapun Top 15 besar yang turun peringkat: Jepang (8), dan Prancis (9).

Sementara negara yang posisinya tidak berubah di 15 besar: Amerika Serikat (1), Rusia (2), China (3), India (4), Korea Selatan (6), Italia (10), Turki (11), Brasil (12),  dan Mesir (14).

Situs Global Firepower (GFP) menggunakan lebih dari 60 faktor individual untuk menentukan skor power indeks suatu negara.

Penghitungan kekuatan 145 negara, mulai dari jumlah unit militer, posisi keuangan hingga kemampuan logistik dan geografi.

Negara yang lebih kecil namun lebih hebat secara teknologi, dapat bersaing dengan negara yang lebih besar, maupun negara berkembang.

Algoritma GPF dalam menentukan peringkat, memasukkan berbagai variabel, seperti bonus dan penalti, untuk lebih menyempurnakan daftar yang disusun setiap tahun.

Baca juga: 13 Radar Pertahanan Indonesia Dibangun Awasi Laut dan Udara

Kekuatan Militer Indonesia

Secara garis besar ada beberapa indikator yang memiliki peran utama dalam penentuan peringkat militer Indonesia menjadi nomor 13 dunia.

Indonesia masuk ke dalam 10 besar jumlah populasi yang mempengaruhi jumlah man power.

Indonesia juga masuk 10 besar kekuatan finansial dunia, berdasarkan sejumlah kategori kunci.

Selain itu Indonesia top 10 besar penghasil batu bara, yang merupakan sumber alam penting.

Peringkat Kekuatan Militer Dunia tahun 2023 oleh situs Global Firepower. Indonesia urutan ke-13.
Peringkat Kekuatan Militer Dunia tahun 2023 oleh situs Global Firepower. Indonesia urutan ke-13. (Global Firepower)
Nilai 52 Indikator Indonesia

Situs Global Firepower membuat 52 indikator utama dalam menentukan kekuatan militer dari sebuah negara.

Penghitungan indikator, antara lain meliputi: jumlah penduduk di usia militer, pesawat tempur, tank, kapal selam, artileri, hingga produksi minyak bumi.

Indukator lainnya adalah: jumlah bandara, panjang jalan raya, anggaran militer, panjang garis pantai, jumlah kapal induk, dan sebagainya.

Baca juga: Lambang Bendera Indonesia di Jet Tempur KF-21 Prototipe 3

Nilai Excellent

Dari 52 indikator itu, Indonesia mendapatkan nilai excellent (bagus sekali) untuk 33 indikator. Antara lain: tenaga militer yang tersedia, kekuatan pasukan paramiliter, kekuatan armada pesawat militer, serta armada pesawat serang.

Nilai excellent lainnya: helikopter, korvet, fregat,  armada peperangan anti-ranjau, jalur laut, cadangan gas mumi yang sudah terbukti, dan sebagainya.

Nilai Good

Sembilan (9) indikator Indonesia mendapatkan nilai Baik (Good). Yakni: pesawat tempur, kekuatan helikopter serang, armada tank tempur, artileri swa gerak (SP), artileri tarik, roket multi laras (MLRS). Termasuk juga: cadangan minyak yang sudah terbukti, konsumsi batu bara, dan cakupan rel kereta api.

Nilai Average

Dua indikator Global Firepower menempatkan Indonesia pada nilai rata-rata (Average). Yakni: kekuatan kendaraan tempur lapis baja (IFV dan APC) serta total cakupan penjagaan batas negara.

Nilai Fair

Indoneia juga mendapatkan dua indikator dengan nilai cukup (Fair), untuk: utang luar negeri, dan total cakupan penjagaan garis pantai.

Garis pantai yang panjang membutuhkan komitmen finansial dan material yang lebih besar untuk pertahanan diri.

Solusinya adalah mengembangkan pasukan penyerang amfibi serta kapal patroli pesisir khusus, untuk meminimalkan serangan terkonsentrasi dari laut.

Nilai Poor

Sementara 6 indikator lainnya masuk ke dalam nilai Kurang (Poor), yakni: konsumsi minyak bumi, produksi batu bara yang memperhitungkan jumlah konsumsi dibandingkan cadangan yang ada. Begitu pula dengan jumlah konsumsi gas alam.

Minyak bumi penting dalam setiap upaya perang dan menggerakkan komponen militer modern, termasuk: pesawat terbang, kendaraan, kapal perang, senjata kecil, dan industri umum.

Semakin banyak negara mengkonsumsi minyak bumi, maka semakin buruk dampaknya terhadap upaya perang hipotetis. Setiap negara menerima penalti berdasarkan jumlah konsumsi minyaknya dalam peringkat GFP

Penilaian konsumsi minyakdapat diimbangi dengan nilai produksi minyak dan juga cadangan minyak yang sudah terbukti.

Indonesia juga mendapatkan nilai Kurang (Poor) untuk: kekuatan armada kapal induk, kekuatan armada pengangkut helikopter, serta jumlah destroyer.

Anggaran Militer

Situs global firepower juga memperhitungkan kemampuan keuangan Indonesia, sehingga menempatkannya di nomor 13 dunia. Perhitungan keuangan meliputi kemampuan: keseimbangan daya beli, cadangan devisa dan emas, utang luar negeri, serta anggaran militer.

Anggaran militer Indonesia masuk peringkat 25 dunia. Posisi pertama Amerika Serikat, posisi kedua China dan Ketiga Rusia. Adapun peringkat ke-4 adalah India dan ke-5 Jerman.

Anggaran militer Singapura berada di peringkat 23, Vietnam 35, Thailand peringkat 37, Filipina nomor 48, dan Malaysia urutan 61.

Faktor Geografis dan Lainnya

Global Firepower menghitung detil faktor geografis Indonesia, mulai dari luas daratan, total garis pantai, batas negara dan garis pantai.

Sumber daya alam juga mendapatkan perhitungan, untuk mengetahui: jumlah produksi minyak bumi, jumlah konsumsi, hingga jumlah cadangan yang sudah terbukti. Begitu pula dengan penghitungan batu bara hingga gas alam.

Dalam menentukan kekuatan militer sebuah negara, global firepower tidak hanya mengukur dari jumlah alat utama sistem senjata (alutsista) serta jumlah tentara.

Faktor geografis, panjang garis pantai, jumlah pelabuhan, tanker, hingga jumlah produksi sumber daya alam juga mendapatkan penghitungan.

Indeks minyak bumi, batu bara dan gas alam masuk ke penghitungan karena menjadi faktor penting bagi sebuah negara, baik dalam masai damai maupun perang.

Peringkat yang Relatif

Mengukur peringkat kekuatan militer sebuah negara tentu bisa berubah, bila indikator yang diterapkan dalam mengukurnya, juga berubah.

Global Firepower melakukan penghitungan dalam konteks kekuatan militer konvensional.

Jika kepemilikan senjata nuklir masuk dalam penghitungan, maka peringkat negara pun bisa berubah.

Faktor data yang diperolah juga akan menentukan hasil.

Meski demikian, Global Firepower telah memberikan gambaran kepada kita tentang kekuatan militer sebuah negara, secara komprehensif, tidak semata menghitung keberadaan alat perang saja.

*Cover image MBT Leopard 2A4. (Kostrad, Indonesia)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest

Penulis:

Rojes Saragih

Follow Us