Dubes Saudi: Semoga Tak Ada Sanksi AS Terhadap S-400

Sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumf buatan Rusia © Kemenhan Rusia

JakartaGreater.com – Duta Besar Arab Saudi untuk Rusia Rayd bin Khalid Krimli pada hari Jumat menyatakan harapannya bahwa Washington tidak akan menjatuhkan sanksi terhadap Riyadh atas pembelian sistem rudal pertahanan udara jarak jauh S-400 dari Rusia, seperti dilansir dari laman Ria Novosti.

“Saya berharap tidak ada yang akan menjatuhkan sanksi apapun kepada kami”, kata Duta Besar Arab Saudi kepada wartawan ketika menjawab pertanyaan apakah Arab Saudi akan terus membahas soal pengiriman S-400 setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap China untuk kesepakatan dengan Rusia.

Khalid Krimli mencatat bahwa perjanjian Arab Saudi-Rusia pada pembelian senjata sedang dalam proses meskipun ada ancaman sanksi dari AS.

“Kerjasama kami dengan Rusia akan terus dan berkembang. Dan selama kunjungan bersejarah Raja Salman kami telah menandatangani 14 perjanjian yang akan mulai dilaksanakan. Ada 4 perjanjian di bidang militer, 3 dari mereka mulai dilaksanakan. Adapun yang keempat, ada diskusi tentang masalah teknis. Karena sistem S-400 ini sendiri modern dan rumit”, kata duta besar itu.

Rusia dan Arab Saudi kini sedang dalam pembicaraan untuk pembelian sistem pertahanan udara S-400, meskipun belum ada yang disempurnakan. Sementara itu, AS tidak senang dengan negara-negara yang ingin mendapatkan sistem rudal pertahanan udara Rusia itu dan telah menjatuhkan sanksi terhadap China karena telah membelinya.

Turki adalah negara berikutnya yang akan memperoleh sistem rudal S-400 dan juga bertentangan dengan Washington mengenai hal itu. Sebelumnya pada bulan September, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan marah terhadap rekomendasi Menteri Pertahanan AS James Mattis, mengatakan bahwa Ankara “tidak perlu izin dari siapa pun” untuk membeli senjata.

India, pembeli potensial lainnya, juga tidak terpengaruh oleh prospek sanksi AS. Qatar dan Mesir juga masuk dalam daftar calon klien. Siapa pun yang membeli sistem Rusia adalah target potensial untuk sanksi AS di bawah Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA).

Mungkin AS akan canggung dengan Arab Saudi, terlebih penjualan senjata Washington sendiri ke Riyadh bernilai puluhan miliar dolar. Saudi adalah pembeli senjata terbesar kedua di dunia dan 61 persen persenjataan mereka berasal dari AS.