Seman: Merdeka Negaraku !

Letda Seman bin Asiri waktu bertugas
Letda Seman bin Asiri waktu bertugas

Salam hormat para Pembaca JKGR. Dalam menyongsong hari kemerdekaan NKRI yang didapat dari tetesan darah para pemuda pemuda pejuang negeri ini, berikut saya ceritakan salah satu pelaku sejarah pejuang kemerdekaan NKRI. Dia adalah kakek saya yang bernama Letda Seman bin Asiri (sekang beliau masih hidup, beliau lahir tahun 1921).

Beliau lahir sembilan bersaudara yang kesemuanya adalah militer didikan Heiho, Jepang. Delapan saudara beliau gugur saat merebut kemerdekaan. Kesemua saudaranya gugur sebagai pahlawan tak dikenal karena beliau tidak menemukan makam saudara saudaranya, kecuali satu. Beliau temukan makam kakaknya yang paling sulung di taman makam pahlawan Jember, Jawa Timur, yang lainya beliau lacak tidak ketemu.

Dalam mempertahankan kemerdekaan ini beliau mati dua kali tetapi hidup lagi dan terus berjuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan ini. Beliau ahli sabotase beberapa aset aset vital Belanda pernah dia sabotase serta dia aktif di bagian inteljen.

Keahlian beliau adalah pertempuran jarak dekat dan bela diri tangan kosong. Semua mata mata Belanda jaman itu beliau habisin di areal teritori beliau, yaitu daerah Jember dan sekitarnya, sampai beliau pernah dengan pasukannya menginap di Puncak Gunung Semeru untuk menghindari kejaran musuh karena saking sengsaranya belaiu bersumpah di puncak Semeru, bahwa anak anaknya tidak akan dia ijinkan untuk menjadi militer.

Letda Purn. Semanbin Asiri, kini
Letda Purn. Seman bin Asiri (2014)

Berbagai palagan pertempuran pernah beliau ikutin di seluruh Indonesia dalam merebut & mempertahankan NKRI termasuk, melacak keberadaan Westerling, sampai ke Tim-Tim yang kala itu belum menjadi bagian NKRI.

Pertempuran Surabaya yang heroik…motto beliau: korban dalam sebuah pertempuran adalah wajar dan jangan pernah tergiur oleh harta di dalam sebuah perjuangan –jika kamu tergiur oleh harta apalagi menjarah emas– nyawa adalah gantinya.

Sekarang beliau masih sehat walaupun mata dan kupingnya kurang jelas. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di kota Singaraja Bali dengan sangat sederhana dan setiap ditanya beliau bilang kepingin meninggal di umur 100 tahun.

Itulah sekilas perjalanan hidup seorang pejuang, pelaku sejarah dalam merebut & mempertahankan NKRI. Wassalam

by: Seman.

Sharing

Tinggalkan komentar