CBS News: Iran Bersiap Kirim Kapal Perangnya ke Atlantik

Kapal Perang Iran

Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) © The Iran Project

JakartaGreater.com – Kapal perang Iran akan berlayar untuk pertama kalinya ke samudera Atlantik pada awal tahun 2019, kata Deputi Komandan Angkatan Laut Iran. Pelayaran jarak jauh akan membawa pasukan militer Iran lebih dekat ke daratan AS dan perairan teritorial, daripada yang pernah mereka lakukan sejak revolusi Islam 1979 yang membawa rezim saat ini berkuasa, seperti dilansir dari laman CBS News pada hari Jumat.

Media berita yang dikelola oleh pemerintah Iran, IRNA yang mengutip pernyataan Deputi Komandan Angkatan Laut IRGC Laksamana Touraj Hasnai Moqaddam mengatakan “misi Iran akan memakan waktu lima bulan untuk selesai” dan kemungkinan akan dimulai awal tahun 2019. Dia mengatakan salah satu kapal di armada yang akan dikirimkan nanti adalah kapal perusak terbaru, Sahand, yang digambarkan sebagai kapal perusak paling canggih di Asia Barat.

Menurut kantor berita Reuters, Iran mengklaim “Sahand” memiliki dek pendaratan untuk helikopter dan dipersenjatai dengan senjata anti-pesawat dan anti-kapal, rudal permukaan-ke-permukaan dan permukaan-ke-udara dan juga kemampuan peperangan elektronika.

Sementara itu, IRNA mengklaim kapal baru itu “lebih canggih dari pendahulunya, perusak Jamaran, dengan kemampuan siluman untuk menghindari radar”.

sahand destroyer

Kapal perusak (destroyer) Sahand buatan Iran. © Tasnim News

Iran mengancam akan mengirim armada ke Atlantik barat, mungkin itu untuk mengunjungi negara-negara Amerika Latin yang bersahabat, seperti Kuba, selama bertahun-tahun. Kepala Staf Angkatan Laut IRGC pada tahun 2017 mengatakan bahwa Kuba adalah tujuan Republik Islam.

“Armada kapal perang kami akan dikirimkan ke Samudra Atlantik dalam waktu dekat dan akan mengunjungi salah satu negara sahabat di Amerika Selatan dan Teluk Meksiko”, kata kantor berita Fars News Agency yang mengutip Kepala Staf Angkatan Laut Iran, Laksda Hossein Khanzadi pada bulan November 2017.

Ketegangan antara Iran dan AS telah meningkat setelah penarikan sepihak Presiden Donald Trump dari perjanjian nuklir internasional 2015 yang tercapai di bawah pendahulunya dan langkahnya untuk mengembalikan sanksi ekonomi yang keras kepada Teheran.

Leave a Reply