Home » Alutsita Canggih » Laporan: Ratusan Jet Tempur Inggris Tidak Layak Terbang

Laporan: Ratusan Jet Tempur Inggris Tidak Layak Terbang

Jet tempur Eurofighter Typhoon Angkatan Udara Inggris © Royal Air Force

JakartaGreater.com – Ketika kecakapan Angkatan Bersenjata Inggris terus menyusut, surat kabar lokal, baru saja mengungkapkan informasi yang sebelumnya tidak diketahui tentang keadaan menyedihkan dari Angkatan Udara Inggris, seperti dilansir dari laman The Mirror.

Satu dari tiga (sepertiga) pesawat milik Angkatan Udara Inggris (RAF) ternyata “tidak layak untuk terbang”.

Laporan tersebut mengungkapkan tingkat mengejutkan dari Angkatan Udara Inggris yang telah jompo, walau pernah menjadi kecemburuan militer di seluruh dunia. Diduga, sekitar 142 dari 434 pesawat disimpan sebagai “armada penopang”, yang dikatakan Mirror pada dasarnya adalah tempat penyimpanan untuk jet tempur yang tak bekerja atau mereka yang membutuhkan “perbaikan besar”.

Tontonan menyedihkan yang dilaporkan itu termasuk 55 dari 156 jet tempur Typhoon yang menjadi andalan Inggris, masing-masing bernilai £ 80 juta atau lebih dari $ 100 juta, yang telah digunakan untuk misi pemboman yang luas di Irak dan Suriah terhadap ISIS sebagai bagian dari koalisi “Operation Inherent Resolve” pimpinan AS.

Sekretaris Pertahanan Partai Buruh, Nia Griffith, mengatakan kepada The Mirror, bahwa “Pemotongan konservatif telah memiliki efek yang melumpuhkan pertahanan dan juga kemampuan untuk menanggapi berbagai ancaman yang dihadapi Inggris”.

Lebih dari itu, seorang juru bicara pertahanan Partai Demokrat Liberal mengatakan bahwa, “adalah bukti nyata bahwa pesawat harus ditarik dari garis depan demi perbaikan dan servis rutin dapat dilakukan”.

Namun, ia juga menyatakan keprihatinan dengan menambahkan bahwa, “angka-angka ini tampaknya melampaui apa yang diperlukan untuk perbaikan atau layanan”.

The Mirror mengatakan bahwa satu-satunya jet yang saat ini beroperasi dengan kekuatan penuh adalah satu skuadron pesawat yang digunakan oleh Keluarga Kerajaan dan menteri senior pemerintah, termasuk Perdana Menteri Theresa May, itupun untuk perjalanan jarak pendek.

Sebelumnya telah dilaporkan memburuknya keadaan infrastruktur militer Inggris, merinci masalah rumit dengan pemeliharaan kapal perang dan kekurangan personel dalam jumlah besar, yang mencapai puncaknya pada sebuah surat dari bekas Menteri Pertahanan AS Jim Mattis pada bulan Juli 2018 kepada rekannya dari Inggris, Gavin Williamson. Dalam surat itu, Mattis menyatakan keprihatinannya bahwa pemotongan belanja merusak kemampuan pertahanan London.