Misi Rahasia Kapal Selam Malaysia

Kinabalu – Dua kapal selam Scorpene Malaysia sedang digunakan untuk empat operasi khusus yang dikirim dari Sabah, ujar Kepala Angkatan Laut Malaysia Laksamana Tan Sri Abdul Aziz Jaafar. Kapal selam KD Tunku Abdul Rahman dan KD Tun Abdul Razak, kini tidak lagi beroperasi di bawah Komando Keamanan Sabah Timur.

“Kapal selam memiliki peran tersendiri. Saya tidak bisa mengatakan apa operasi mereka. Angkatan laut adalah kekuatan diam dan itulah sebabnya orang tidak melihat apa yang kita lakukan tapi kami bekerja sepanjang waktu.

“Anda harus percaya saya sebagai Kepala Angkatan Laut, Angkatan Laut beroperasi untuk memastikan perairan Malaysia dilindungi,” katanya setelah membuka Asia Pacific Conference Submarine ke 14 di kota Kinibalu, kemarin.

Laksamana Aziz mengatakan dua kapal selam Malaysia tidak cocok digunakan untuk operasi keamanan di pantai timur Sabah, karena faktor kedalaman laut. Namun, angkatan laut Malaysia telah meningkatkan kehadiran aset lainnya untuk pengawasan wilayah udara dan laut Zona keselamatan Sabah Timur (Esszone).

“Kami telah menempatkan kapal-kapal yang sangat handal serta kapal pencegat. Kami juga menggelar helikopter super Lynx dan Fennec untuk fokus pada operasi pengawasan karena pandangan helikopter lebih luas dibandingkan dengan kapal laut.

“Helikopter ini mampu melakukan pengawasan wide-area dan memiliki pandangan yang lebih baik untuk kapal yang perlu dicegat,” kata Aziz.

“Kami telah meminta pasukan keamanan untuk menembak kapal yang mencurigakan yang mencoba memasuki perairan Sabah, namun di saat yang sama kami memiliki prosedur standar operasi yang harus diikuti.

“Jam malam telah membuat pekerjaan kami lebih mudah karena kita sekarang bisa fokus. Jika tidak, kapal asing dapat dengan mudah menyelinap masuk dan bersembunyi.”

Jam malam diberlakukan sejak 19 Juli setelah terjadinya pembunuhan personil angkatan laut dan juga terjadinya penculikan yang lainnya di Mabul Island.

Jam malam melibatkan daerah perairan Sandakan, Kinabatangan, Kunak, Lahad Datu, Semporna, dan Tawau. Sejak insiden Mabul, ada dua upaya penyusupan di perairan Sabah melalui Semporna dan Sandakan di mana terjadi penembakan.

Pada tahun ini, tercatat di Sabah terjadi empat kasus penculikan yang melibatkan turis, pengusaha dan seorang polisi. Korban dibawa pergi dari Lahad Datu, Kunak dan resor pantai Semporna.

Polisi juga telah mengidentifikasi dua tersangka yang dikenal sebagai Muktadil bersaudara yang bertanggung jawab atas beberapa kasus penculikan dan pembunuhan polisi.

Laksamana Aziz menekankan angkatan laut Malaysia tetap profesional dalam menjalankan perannya sebagai pengawas lapisan pertama di perairan Malaysia.

Penjelasan itu dia sampaikan di sela sela konferensi Submarine Escape and Rescue yang diikuti 60 personel angkatan laut dari 19 negara. Di antaranya dari negara: Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Prancis, Australia, Peru, Chili, Pakistan, Vietnam, Singapura, Ekuador, Indonesia, Korea Selatan, Filipina, dan Brunei.(nst.com.my).

Tinggalkan komentar