Teknologi Anti Satelit Rusia-China Ancam Aset Sekutu dan AS

Satelit © Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Laporan terbaru yang dirilis oleh Pusat Intelijen Udara dan Antariksa Nasional (NASIC) Amerika Serikat pada hari Rabu mengklaim bahwa pasukan militer China dan Rusia menggunakan teknologi canggih dan kotra-antariksa dalam upaya strategi perang “menantang keunggulan AS”.

Dokumen setebal 25 halaman, yang dirilis NASIC ini, yang mencakup grafik, penilaian dan proyeksi, mencatat bahwa unit militer China pun telah memulai pelatihan dengan rudal anti-satelit, sementara Rusia “mungkin juga mengembangkan rudal anti-satelit”.

“Rudal-rudal ini dapat menghancurkan sistem antariksa AS dan sekutu di orbit Bumi yang rendah, menjadikan satelit-satelit intelijen, pengawas, pengintai dan komunikasi rentan”, tulis laporan itu, seraya menambahkan bahwa Rusia dan China sedang mencari senjata energi diarahkan kontra-antariksayang dirancang untuk menghasilkan efek reversibel atau non-reversibel terhadap sistem ruang angkasa dengan memancarkan frekuensi radio atau energi laser yang sangat terfokus.

Laporan NASIC mencantumkan serangkaian potensi serangan luar angkasa, yang meliputi pengacakan satelit komunikasi dan navigasi global yang digunakan untuk operasi militer; menggunakan rudal anti-satelit untuk menembak jatuh satelit di orbit Bumi yang rendah; dan serangan fisik terhadap situs dan infrastruktur darat yang mendukung operasi ruang angkasa.

Konsep senjata anti satelit (ASAT). © US DoD via Wikimedia Commons

Tanpa menyebut nama negara selain China dan Rusia, laporan itu mencatat bahwa “pesaing asing bahkan telah mampu melakukan serangan elektronik untuk mengganggu, menyangkal, menipu atau menurunkan layanan berbasis ruang angkasa”.

Dalam upaya untuk merealisasikan kemungkinan “pesaing asing” untuk dapat benar-benar menggunakan rudal anti-satelit untuk menjatuhkan satelit AS, laporan itu mengutip sebuah insiden pada tahun 2007 dimana China menggunakan teknologi tersebut menghancurkan Fengyun-1C, sebuah satelit cuaca Tiongkok yang telah telah mengorbit Bumi sejak Mei 1999.

Pada saat itu, astronom Harvard Jonathan McDowell mengatakan kepada New York Times bahwa tindakan China ini menandai eskalasi nyata pertama dalam persenjataan anti ruang angkasa yang telah terlihat dalam 20 tahun terakhir.

Laporan NASIC muncul beberapa hari setelah Badan Intelijen Pertahanan AS, DIA – merilis ulasan pekan lalu tentang kemampuan inti militer China. “Rangkaian Kekuatan Militer dari tinjauan itu tanpa klasifikasi dirancang untuk membantu masyarakat mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang tantangan dan ancaman utama terhadap keamanan nasional AS”, demikian bunyi laporan DIA.

X-51 Waverider, konsep pesawat hipersonik buatan Boeing © USAF via Wikimedia Commons

Pada bulan Desember 2018, Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS, GAO juga 1mengeluarkan topiknya sendiri, mengungkapkan bahwa tidak ada tindakan pencegahan atau pertahanan efektif yang ada dalam jajaran arsenal Amerika Serikat yang dapat menangani senjata baru hipersonik yang dibuat oleh Rusia dan China.