Karier di Chiba University hingga Full Professor / Guru Besar (2005-2013) Jilid 3 (FINAL)

Pengangkatan Guru Besar atau Full Professor di Chiba University

Meneliti, membimbing mahasiswa dan mengembangkan jaringan keilmuan di seluruh dunia adalah hobby saya selama ini. Saya melakukan hal ini dengan senang hati, sehingga sangat exciting melakukan hal ini, bahkan tidur hanya beberapa jam saja setiap hari, karena sahabat saya tersebar di seluruh dunia, sehingga perlu waktu lebih untuk berkomunikasi dengan mereka. Berkat dukungan mereka lewat organisasi IEEE, IEICE, SICE, RSSJ, JSPRS dll, maka penelitian selama ini dapat terealisasi dan terpenting adalah terealisasinya cita-cita saya selama ini. Saya pribadi ingin membuat mereka bangga pula atas hasil pencapaian selama bersahabat dengan mereka.

Hingga saat ini telah terkumpul dana penelitian sebesar 5,6 juta USD atau sekitar 60M rupiah untuk mengoperasikan kegiatan penelitian di Josaphat Laboratorium yang dikelola langsung oleh Rektorat Chiba University sejak 2005. Pencapaian ini membawa saya sebagai penerima dana terbesar di Chiba University hingga saat ini. Hasil dari penelitian selama ini peer-reviewed paper lebih dari 60 papers. Demikian juga paper presentasi di symposium international dan dalam negeri mencapai lebih dari 600 papers sejak tahun 1994. Hasil penelitian selama ini juga dirangkum dalam berbagai buku yang terbit di Springer dll. Antenna, radar dll juga dilindungi oleh patent-patent international (118 negara) dan dalam negeri yang mencakup ratusan items. Demikian juga berbagai penghargaan telah diberikan untuk hasil penelitian selama ini. Hampir setiap temuan saya, pasti mendapatkan award atau penghargaan dalam (Jepang) dan luar negeri.

Pada pertengahan tahun 2012, saya mendapatkan kabar lowongan posisi Guru Besar atau Full Professor di CEReS Chiba University. Saat itu saya berumur 41 tahun. Posisi guru besar di Jepang biasanya dialokasikan untuk staff yang berumur lebih dari 50 tahun. Lowongan pekerjaan di instansi pemerintahan biasanya terbuka untuk umum, sehingga kandidat harus bersaing dengan pendaftar dari seluruh Jepang, bahkan dari luar negeri. Dari segi umur saya sangat ragu untuk mengapply posisi ini, karena ternyata pesaing berasal dari banyak instansi, expert di bidang remote sensing dan berumur cukup atau lebih dari 50 tahun. Berkat dukungan dari kolega di CEReS, akhirnya saya coba untuk apply juga saat itu. Saat mendaftar, kita perlu mengirimkan ringkasan dari seluruh hasil riset dan kegiatan kita selama ini.

Walau hanya ringkasan saja, misalnya setiap paper hanya kurang dari 20 kata, seluruh aplikasi saya diprint bolak-balik mempunyai ketebalan 5 cm. Dari sekian banyak kandidat yang masuk, semua hanya memperebutkan satu posisi saja, yaitu Guru Besar atau Full Professor di National University, posisi atau jabatan yang sulit dan mempunyai ketinggian tembok birokrasi tersendiri bagi orang asing. Saat itu harapan hanya 50% saja untuk diterima, sehingga tidak terlalu ngebet untuk apply posisi ini. Setelah beberapa minggu proses seleksi dokumen, kemudian diumumkan tiga kandidat yang lolos untuk Ujian Interview. Saya menerima pengumuman bahwa lolos untuk tahap berikutnya, yaitu ujian interview yang akan diadakan minggu berikutnya.

Selama hidup ini, berkali-kali saya mengikuti hearing dan interview, hampir semua lolos bila saya menghadiri interview atau hearing sendiri. Namun interview kali ini agak berbeda, karena ini interview untuk posisi jabatan terakhir dan tertinggi di dunia akademik, serta di negara asing, bukan negara dimana saya lahir. Biasanya saya menghubungi Ayah danIbu di Kartasura sebelum melakukan interview atau ujian apa saja. Kali inipun sama, Ayah dan Ibu seperti biasa berbincang menggunakan Bahasa Jawa kromo inggil, mereka selalu percaya kalau saya pasti lolos, karena dari sejak kecil hampir tidak pernah gagal semua usaha yang saya lakukan dan inginkan. Mungkin Ayah dan Ibu saya yang paling tahu tentang diri saya. Satu jam sebelum interview, saya hubungi Ayah kembali dan beliau hanya pesan untuk tenang seperti biasa dan banyak tersenyum seperti sehari-hari saya saja.

Kebetulan saya mendapat nomor urut 2 untuk interview kali ini. Pada saat dipanggil, saya sudah siap untuk menerangkan hasil perolehan hidup saya untuk riset, kegiatan akademik dan pencapaian lainnya, berikut jaringan saya di seluruh dunia. Kemudian dilanjut konsep penelitian saya bila diangkat menjadi Guru Besar. Saat itu saya terangkan cita-cita saya sejak kecil hanya ingin merealisasikan pesawat (tanpa awak), radar berikut satelit saja dan  penerapannya untuk dunia, termasuk Jepang dan tanah air saya, Indonesia. Saat itu tim penguji terdiri dari tiga guru besar CEReS, tiga guru besar dari fakultas lain, staff administrasi rektorat, tiga kepala organisasi remote sensing Jepang (IEEE, RSSJ, JSPRS) dan perwakilan beberapa instansi remote sensing di Jepang (JAXA dll). Setelah masuk ke ruang interview, saya seperti biasa dan tidak grogi, karena selama ini sering menghadapi banyak orang dengan jumlah ratusanpun. Saya pribadi percaya sebagian besar dari mereka tahu akan pencapaian saya selama ini baik di Jepang maupun di luar negeri, karena hasil penelitian saya sering keluar di koran dan majalah Jepang pula.

Di depan para tim penguji, mereka sambil mengikuti presentasi saya, juga membuka dokumen-dokumen yang saya sampaikan sebelumnya, terlihat cukup tebal. Setelah selesai presentasi, masuk sesi tanya jawab, sayapun berusaha menjawab semua pertanyaan tentang riset selama ini, penelitian dan kegiatan setelah menjadi Guru Besar, kontribusi bagi CEReS, Chiba University, Jepang dan dunia. Serta bagaimana menjaga balancing riset, administrasi dan kehidupan sehari-hari. Bagi saya tidak masalah, karena selama ini saya hidup bersama anak semata wayang saya, Pandhito, semua saya lakukan setiap hari dari pagi hingga malam sampai Pandhito tidur. Hampir tidak ada Professor pria Jepang yang bisa atau mau memelihara anaknya sendiri, tapi saya bisa. Saya tidak ingin kehilangan waktu bersama anak, dimana waktu bersama anak sangat pendek dalam hidup ini, sehingga saya berusaha untuk mengasuh anak saya tanpa pembantu. Sehingga komunikasi dengan Pandhito bisa lebih banyak di sela kegiatan Pandhito sendiri dan saya.

Welcome to 16 Pre Double Degree Program smart students from Chiba University Sister Universities (UI, ITB, Unpad, UGM, Unhas and Unud) under scholarships of Ministry of Education and Technology Japan and Beasiswa Unggulan BKLN – Ministry of Education (DIKNAS)

Beberapa jam setelah interview, saya mendapatkan phone dari Director untuk menghadap. Dalam hati sedikit deg-degan, tapi harus diterima hasil seleksi Guru Besar ini. Saat menghadap Director, beliau langsung mengutarakan kalau saya terpilih untuk diangkat menjadi Guru Besar atau Full Professor, jabatan teratas dan terhormat di National University Jepang pada usia 41 tahun. Director memberikan banyak pesan mengenai posisi ini, karena usia saya 41 tahun saat itu, dimana termasuk termuda di Chiba University, maka harus menjaga perasaan staff lain. Tapi Director percaya kepada saya, karena melihat perilaku saya selama ini yang dekat dengan staff lain dan para mahasiswa, dimana saya sering lupa kalau sudah mempunyai jabatan tertentu. Saya tersadar mempunyai jabatan, bila saat rapat senat dan kegiatan official University saja, dimana jabatan tertentu saja yang boleh hadir. Btw semua sudah saya dapatkan secara administrasi, tetapi tujuan saya hanya merealisasikan cita-cita saya sejak kecil dan membuat banyak sahabat saja di seluruh dunia. Agar saat saya meninggal nanti tidak ada yang tersisa dari harapan saya selama ini. Di nisan saya hanya minta ditulis ‘Hidup demi kehormatan negara,keluarga dan sahabat’ atau  ‘Live for pride of country, family, and friends’ dan kalau ada sahabat yang baik, saya minta tolong untuk meluncurkan sebagian abu diri saya ke ruang angkasa.

Sejak diangkat sebagai Guru Besar pada tanggal 1 April 2013, masih ada waktu tersisa 24 tahun hingga saya pensiun dari Chiba University. Saya ingin meluncurkan setidaknya 6 microsatellite untuk misi observasi bumi dan permukaan planet lain menggunakan radar-radar yang saya ciptakan selama ini. Misi-misi ini saya harapkan dapat memperkaya pengetahuan anak dan cucu kita akan alam semesta, tidak hanya dari kitab dan buku diktat saja, kita harus lihat sendiri dan menikmati kebesaran alam ini menggunakan pencapaian pengetahuan kita selama ini. Saya tidak terlalu suka berdoa, sebagai penggantinya adalah melakukan segala sesuatu secara riil dan mengkontribusikan diri untuk manusia dan alam di dunia ini. Kita terlahir dan kembali ke alam, maka gunakan baik-baik selama hidup ini untuk mengetahui alam ini, walau mungkin hanya sekejab dan hanya mendapatkan sebagian pengetahuaan akan alam ini.

Pengembangan Stratosphere Drone (Seri JS)

Penelitian yang saya lakukan selama ini terpusat pada monitoring bencana alam, khususnya gempa bumi, tsunami dan aktifitas gunung. Dimana tema ini merupakan masalah bersama untuk negara-negara di ring-of-fire di sekitar Asia Pasifik, termasuk Indonesia dan Jepang. Dorongan ini mengantar saya untuk penelitian permukaan bumi secara akurat, yaitu pengamatan gerakan permukaan bumi dengan akurasi beberapa milimeter atau sentimeter dari 700 km orbit satelit. Teknologi saat ini yang terbaik adalah penggunaan synthetic aperture radar (SAR). Ada beberapa platform yang dapat digunakan, misalnya pesawat terbang, drone dan satellite. Maka saya kembangkan hampir semua perangkat ini di Josaphat Laboratory (JMRSL) dalam CEReS, Chiba University.

Bila di Jepang kita ingin mengoperasikan drone, maka kita tidak bisa terbang lebih dari 250m dari permukaan bumi, karena pada ketinggian 250m hingga 12,000m digunakan sebagai kolom penerbangan bagi pesawat sipil dan militer. Kemudian yang terpikir bagi saya adalah pengembangan drone dengan radar pada ketinggian di atas 12,000 m atau stratosphere drone. Karena pada ketinggian ini kita bebas dari penerbangan sipil dan militer. Hanya bila kita ingin menerbangan drone pada ketinggian di atas 12,000 hingga 20,000 m, maka kita perlu mengembangkan perangkat pesawat berikut flight control system, sensor, navigasi dll harus berspesifikasikan ruang angkasa. Spesifikasi ini harus tahan terhadap radiasi ruang angkasa, vacuum, getaran saat naik maupunturun, suhu luar dari -50 hingga 100 derajat celcius dll. Specifikasi ini melebihi spesifikasi militer. Karena laboratorium kami terbiasa mengembangkan perangkat ruang angkasa dan drone, maka cukup familiar untuk pengembangan komponen stratosphere UAV atau drone ini.

Prof. Josaphat bersama Taiwanese National Space Organization (NSPO) usai membicarakan kerjasama stratosphere Drone dan microsatellite di Taiwan pada 4 September 2014

Sejak tahun 2012 selalu diundang oleh sahabat saya, Prof Liu dari National Central University (NCU) Taiwan untuk mengunjungi National Space Organization (NSPO) karena keinginan Taiwan untuk mengadopsi teknologi yang saya kembangkan, yaitu Stratosphere Drone, SAR sensor dan microsatellite. Akhirnya September 2014 ini terlaksana kunjungan untuk bertemu President dari National Applied Research Laboratories (NARL) Prof Lo dan pejabat lain di Taiwan untuk merealisasikan stratosphere drone bersensor SAR dan microsatellite Tanah Air – I untuk keperluaan Taiwan pula.

Saya pribadi tidak menyangkaternyata teknologi saya sangat dibutuhkan oleh sahabat-sahabat di Asia.Demikian juga bulan April 2014 yll sahabat-sahabat di Ajou University dan Korean Aerospace Research Institute (KARI) juga mengundang untuk bekerjasama merealisasikan SAR onboar microsatellite Korea, dan hal ini sudah masuk dalam roadmap pengembangan teknologi Korea. Tahun 2015 nanti SAR onboard UAV saya juga akan terbang di Semenanjung Malaysia. Mudah-mudahan teknologi yang terlahir dari kepala ini dapat bermanfaat bagi banyak negara untuk keperluan damai, khususnya untuk pengamatan bencana, sehingga dapat dikurangi korban akibat bencana alam.

Hidup demi kehormatan negara, keluarga dan sahabat

Live for pride of country, family, and friends

7 September 2014, Josaphat TetukoSri Sumantyo

http://www2.cr.chiba-u.jp/jmrsl/

*) Silakan dishare kepada sanak saudara dan sahabat Anda, semoga dapat memotivasi anak dan cucu kita untuk membangun bersama Indonesia, bukan saling menghina sesama orang Indonesia.

Sharing

Tinggalkan komentar